Bogor, pagi hari ...
Mata Ira sembab. Beberapa malam kemarim ia terus menangis. Di hatinya masih ada rasa tak percaya terhadap sikap Alian belakangan ini.
Ia jadi ingat kejadian beberapa hari kebelakang, tetangga kosnya yang ngamuk seperti kesurupan gara-gara cowoknya selingkuh.
Apa Alian punya cewek baru?
Ia buru-buru menghapus pikiran negatif itu. Mungkin Alian sedang capek saja karena sibuk mengurus acara Inagurasi, katanya, dalam hatinya.
Pagi ini Ira ada janji dengan teman kampusnya untuk mengunjungi sebuah lahan percobaan.
Dengan rambut panjang yang terurai, kemeja merah kotak-kotak, ia tampil fresh pagi ini.
Ira membuka pintu sambil menenteng tas, tiba-tiba ia dikagetkan oleh sesosok cowok yang memakai kemeja bercorak dan warna yang sama seperti kemeja yang Ira pakai.
Mereka berdua secara reflek melihat ke pakaiannya masing-masing, lalu saling tatap. Suasana sangat canggung bagi keduanya.
Si cowok memberi senyum duluan ke Ira. Dengan terpaksa Ira membalasnya.
"Maaf, mau nanya," kata si cowok, tiba-tiba, "kosan Riri yang mana, ya?"
"Riri?"
"Iya. Riri."
"Oh, ini." Ira menunjuk kamar di sebelah kirinya. "Ketuk aja. Tapi, kayaknya belum bangun, deh."
"Emang dia sering bangun siang, ya?" Tanya si cowok, dilanjutnya tertawa.
"Ha-ha. Kadang-kadang."
"Aku ketuk aja, ya." Si cowok lalu berdiri di depan pintu kamar Riri, tangan kanan yang dipenuhi gelang itu mengetuk pintu.
Ira yang sedari tadi berdiri di pintu, kini duduk di kursi depan kamarnya. Ia sibuk memakai sepatu cokelat. Sesekali ia melirik ke cowok yang sedang berusaha membangunkan Riri. Tapi, tak kunjung ada jawaban di dalam sana.
"Kok, gak ada jawaban, ya?"
"Em? Apa?" Tanya Ira, yang pura-pura tak mendengar.
"Udah diketuk berkali-kali, gak ada jawaban," jelas si cowok.
Ira yang sudah selesai memakai sepatu, lalu mencoba membantu si cowok memanggil Riri. Ira berdiri di sampingnya, tepatnya di depan jendela berkaca hitam itu, lalu ia mengetuknya.
"Ri ... Ri ... ada tamu ...," teriak Ira.
Untuk beberapa saat, tak ada jawaban.
Mereka saling tatap. Ira mengangkat bahu.
"Apa udah berangkat, ya?" Tanya si cowok.
"Mungkin."
"Oh. Yaudah kalo gitu, nanti aku balik lagi aja. Aku pulang, ya."
"Eh, tunggu," tahan Ira. "Maaf, namanya siapa, ya?"
Baru selangkah, cowok itu berbalik.
"M-m ... maksudnya, biar nanti disampaikan ke Riri kalo ada yang nyari dia." Entah kenapa, Ira merasa gugup.
"Oh, iya." Si cowok tersenyum. "Nama aku Didit."
"Ooohh ...."
"Yaudah, pulang, ya. Maaf ganggu." Si cowok bernama Didit itu kemudian pergi menggunakan sedan hitamnya.
Ira dari depan kamarnya, terus memandangi kepergian Didit.
Aneh, pagi-pagi ketemu sama orang asing yang pake kemeja sama. Untung ketemunya di sini, gak di jalan. Pasaran banget pakaian gue.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Dalam Secangkir Kopi
Romance[Cerita ini hanya dipublish di Wattpad oleh akun username-nya PENJAHITKATA, selain itu, COPAST dan PLAGIAT] ==Rank #11 dalam Kopi (241118)== **CERITA LENGKAP** Cerita dan Tokoh di dalam cerita ini adalah FIKTIF. Sinopsis: Sesuatu yang baru akan ter...