Sepanjang perjalanan, di atas motor jadulnya, Alian terus memutar otak mencari kata yang pas untuk memberi tahu Neto bahwa ia akan mengundurkan diri dari band. Sudah sejak semalaman Alian mempertimbangkan untuk keluar, itu semua demi Anggika.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Alian, ia rela meninggalkan hobi yang telah digeluti semenjak SMA demi seorang cewek yang baru ia kenal beberapa bulan belakangan.
Alian memasuki sebuah gerbang berwarna kuning, lalu ia memarkirkan motor jadulnya di samping sebuah mobil CR-V abu milik Neto. Ada beberapa motor juga terparkir di sana. Di halaman rumah Neto, di bawah pohon jambu air, sudah berkumpul teman-teman band yang lainnya. Mereka begitu berisik mengobrolkan sesuatu.
Alian datang menghampiri mereka dengan terburu-buru. "Waduh, ada apa, nih, seru banget? Gue ketinggalan berita kayaknya." Alian menyalami mereka satu per satu.
"Ayo, duduk dulu," tawar Neto, ramah, menyodorkan satu kursi kosong untuk Alian.
Alian gabung di meja itu bersama mereka yang telah hadir terlebih dahulu.
"Jadi, malam minggu ini kita ada jadwal manggung, Yan," kata Neto.
"Di Hardcore Kafe," sambung Bayu—keyborist, cepat.
Alian kaget, keningnya mengernyit. Ini hal yang tak ia inginkan. "Kok, dadakan? Gue belum ada persiapan, nih."
"Baru semalem pemilik kafe nelpon gue, makanya malam ini gue ngumpulin kalian," jelas Neto.
Gino—Vokalist—menghisap rokoknya, lalu membuang asapnya ke atas. "Kita bakalan nyanyiin lagu-lagu rock! Keren kan, Yan?"
"Hah? Lagu rock?" tanya Alian, dalam hati. "Mana bisa gue bawain lagu rock!"
Mereka sangat bersemangat untuk acara nanti, kecuali Cecep—basist, ia diam dari semenjak pertama mengetahui kabar manggung di Harcore Kafe dari Neto. Alian pun sadar setelah memperhatikan sikap mereka satu persatu. Tak semua personil satu suara.
"Kita bakal gila-gilaan di sana," kata Neto, dengan nada yang tinggi.
"Yoii!" sahut Gino.
Alian masih diam.
Bayu menyimpan rokoknya di asbak, tangan kanannya kini mengangkat kopi. "Siapa yang setuju? Kita tos."
Neto dan Bayu ikut mengangkat gelas kopi mereka. Hanya Alian dan Cecep yang tidak—karena Alian belum bikin kopi.
Ketiga orang itu menatap aneh Alian dan Cecep.
"Kenapa, Yan? Cep?" tanya Neto sambil menyimpan gelas kopinya. "Kalian gak setuju?"
"Alian kan belum bikin kopi, To. Ya, dia gak ngangkat lah. Bener gak, Yan?" tanya Gino.
Alian masih diam.
"Apa jadwalnya gak bisa ditunda dulu?" tanya Cecep, tiba-tiba.
"Waduh, gak bisa, Cep. Soalnya kita udah setuju buat manggung nanti malam minggu," jawab Neto. "Emang kenapa, Cep? Masalah waktu buat latihan? Dulu juga kan pas manggung di Ce Kafe kita juga latihan dadakan. Tapi, bisa lancar, kan?"
Cecep tak bisa menjawab.
Alian menelan ludahnya. "To, G-gue ... mau ngomong ...."
Mereka bertiga menoleh ke Alian dengan tatapan tajam.
"Iya, ada apa, Yan?" Neto memperhatikan Alian.
"Gue, sih, setuju-setuju aja, tapi ... M-mm—" Alian masih bingung, bagaimana ia harus menyusun kata agar tak menyinggung Neto. Di ujung lidahnya sudah hampir keluar kata-kata pengunduran diri, tapi, Alian mengurungkan niatnya. Ia takut membuat Neto kecewa.
"Tapi, kenapa, Yan?" tanya Neto, penasaran. "Masalah waktu latihan yang mepet?"
Alian menggelengkan kepala.
"Terus apa?"
"Bukan apa-apa, kok, To." Alian menutupnya dengan senyuman.
"Kok gue ngerasa, jadi gak kompak gini," kata Gino. "Padahal ini kesempatan kita buat nunjukin dan menjajal segala aliran. Gue yakin sih band kita ini bisa."
"Gue setuju sama Gino," dukung Bayu, penuh semangat.
"Mendingan kita jujur-jujuran. Masalah sebenarnya itu apa, sih?" Gina menatap ke Cepet, lalu, beralih menatap Alian.
"Udah, udah," Neto berusaha menengahi. "Mungkin di antara kita ada yang belum siap, atau kaget harus manggung di Hardcore Kafe yang mengusung aliaran rock."
Alian merasa semakin bulat tekadnya untuk keluar setelah mengetahui sikap asli dari personil-personil yang lainnya—terutama Gino dan Bayu. Tapi, bukan sekarang ia keluar. Ia merasa harus menghargai Neto dengan cara ikut manggung di hardcore Kafe. Setelah itu, ia berniat langsung jujur ke Neto bahwa ia ingin keluar.
"Gue juga sebenarnya gak mau maksain. Tapi, gue gak bisa menolak tawaran itu karena kalo kita bisa manggung di sana, kemungkinan untuk terkenalnya besar," lanjut Neto. "Dan gue sih berharap ... Cecep ... Alian ... Kalian bisa kompak. Kita tunjukin band kita bisa bersaing!"
Alian dan Cecep semakin dipojoka. Sepintas, Alian melirik ke Cecep, dan Cecep pun sebaliknya. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menerima keputusan bahwa siap tidak siap, mereka harus latihan membawakan lagu-lagu rock.
Neto mengalungkan tangannya ke pundak Alian. "Gue percaya lo bisa." Lalu menoleh ke Cecep. "Lo juga bisa, Cep. Basis terbaik gue." Ditutup dengan sebuah senyuman yang menyakitkan bagi keduanya—Alian dan Cecep.
**DDSK**
Setelah pertemuan tadi, Alian kini kembali melamun di atas motornya. Tak sepenuhnya ia menerima ajakan Neto untuk manggung di Hardcore Kafe. Hanya karena ingin menjaga perasaan Neto, Alian pura-pura siap. Sebenarnya ia tak siap sama sekali—dan benar-benar sudah tidak berminat untuk ngeband karena Anggika.
Ditambah, tempat manggungnya nanti merupakan tempat para band yang beraliran rock berkumpul. Alian tidak bisa membayangkan jika harus manggung di sana. Karena, ia lebih cenderung menyukai aliran pop yang santai. Tapi, demi pertemanan, ia akan melakukannya.
Di dalam otaknya, ia sudah ancang-ancang akan mengajak Dinan. Setidaknya kalau dengan Dinan, ia tidak akan merasa 'terasingkan'. Dan ia juga akan merahasiakan acara manggung ini dari Anggika.
"Benar-benar sebuah pilihan yang berat," kata Alian, dalam hati. "Dan gue akan memilih si cewek yang suka ngopi, si cewek berponi yang bikin gue ketakutan pas di halte malam itu, cewek yang membuat cangkir kopi gue jadi beda, dan cewek yang membuat hati gue jatuh cinta."
Alian memasang senyumnya, wajahnya dingin diterpa angin malam jalanan bandung. Cukup untuk menyejukan kepalanya yang panas.
"Semoga ini adalah benar-benar pilihan terbaik," ditutupnya dengan sebuah harapan yang masih menjadi 'harapan'.
**DDSK**
Diterbitkan: 18 Agustus 2018
Oleh: C. Sahetapi

KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Dalam Secangkir Kopi
Romance[Cerita ini hanya dipublish di Wattpad oleh akun username-nya PENJAHITKATA, selain itu, COPAST dan PLAGIAT] ==Rank #11 dalam Kopi (241118)== **CERITA LENGKAP** Cerita dan Tokoh di dalam cerita ini adalah FIKTIF. Sinopsis: Sesuatu yang baru akan ter...