Cangkir #24 Salsa Datang

25 5 0
                                    

Kesabaran Ira sudah habis, tak bisa diisi ulang. Beberapa malam kemarin ia terus menangis karena perubahan sikap Alian. Walau pun ia orangnya dewasa dan terlihat kuat, saat ini sebenarnya hatinya sudah mulai hancur perlahan.

Kelakuan Alian yang jarang—tidak—mengabarinya, membuat Ira semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres. Ini sudah bukan lagi alasang sibuk jadi panitia atau sibuk belajar. Ini sebuah kesibukan yang tak masuk akal. Dan sempat-sempatnya terlintas pertanyaan dibenak Ira, "Apa Alian sedang sibuk mencitai perempuan lain selain dirinya?"

Ira sebenarnya sudah mandi saat tadi subuh, tapi, ia memilih tiduran lagi karena ini sabtu, dan ia tak memiliki jadwal kuliah. Di tangannya ada hape yang terus ia mainkan dari tadi, entah apa yang sedang ia cari, matanya begitu fokus ke layar itu, mulutnya cemberut menahan sedih, ia benar-benar bingung dengan keadaannya sekarang. Hidupnya hampa.

Di layar hapenya terlihat ia sedang membuka akun Instagram miliknya. Jempolnya terus menggeser foto di hasil pencarian akun Instagram milik Alian. Tapi, ia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Alian?" gumamnya, hampir tak terdengar.

Jempolnya masih sibuk menggeser foto demi foto, hingga menemukan tautan akun Instagran BEM Fakultas di foto milik Alian. Kemudia Ira menekan itu.

Di akun Instagram milik BEM Fakultas-nya Alian itu, Ira menemukan banyak foto kegiatan. Ia terus menggeser foto satu demi satu hingga sampai ke foto yang membuat Ira tercengang, matanya hampir keluar setelah melihat foto itu: Foto saat Inagurasi, sekumpulan panitia dan mahasiswa foto bersama.

Bukan itu yang membuat Ira kaget, tapi, dua orang yang sedang pegangan tangan di belakang mereka. Ira hafal betul postur tubuh Alian, dan Ira yakin, dua orang yang sedang pegangan tangan itu salah satunya adalah Alian, dan Ira tidak tidak tahu cewek berponi yang sedang digandeng Alian itu.

Air matanya menetes. "Oh, ini jawaban dari pertanyaanku selama ini?" Ira menggelengkan kepala. "Ternyata sudah semenjak Alian jadi panitia Inagurasi ...."

Ira memperbesar foto itu untuk meyakinkannya dirinya bahwa itu benar-benar Alian. Dan ia mulai menganalisa, melihat secara perlahan mulai dari wajah, bentuk tubuh, dan celana yang dipakai cowok di dalam foto itu: 100% Alian.

Ira menutup mulutnya, menahan tangisan yang lebih parah agar tak pecah, matanya terpejam menahan air mata, tapi, tak tertahan mengalir membasahi pipinya yang putih. Sebenarnya ia sudah curiga sejak saat itu, tapi, dirinya tidak ingin berprasangka jelek pada Alian—walau akhirnya ia tahu juga yang sebenarnya.

Ira membenamkan dirinya ke dalam selimut setelah sebelumnya melemparkan hapenya hingga pecah berantakan. Ia memeluk erat guling yang beraroma busuk kesukaannya. Tangisannya semakin parah, sampai-sampai ia tak peduli lagi jika ada orang yang mendengarnya.

**DDSK**

Alian sedang duduk di kursi depan kamarnya. Di jari tangannya terselip sebatang rokok yang sedang mengepulkan asap. Sesekali ia menghisapnya, diselingi dengan meminum kopi hitam tanpa gula kesukaanya.

Pikirannya sedang terbang memikirkan untuk acara nanti malam. Ia benar-benar terjebak dalam situasi yang tidak mengenakan. Segala sesuatu yang buruk-buruk mulai terlintas, seperti lupa kunci, penonton rusuh dan segala macam kemungkinan, ditambah niatnya untuk mengundurkan diri, semakin membuat ia berfikir tak karuan.

Di saat otaknya berat memikirkan hal-hal yang belim tentu terjadi, tiba-tiba dari depan gerbang muncul Salsa dengan wajah seriusnya.

"Tumben pagi-pagi udah kesini? Ada apa?" Terika Alian melihat Salsa mendekat. Alian memperhatikan gaya pakaian salsa yang masih menggunakan baju tidur. "Olahraga, Sa?"

Dua Dalam Secangkir KopiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang