Cangkir #29 TID

33 6 0
                                    

"Gi! Anggi! Tunggu!" Salsa terus berteriak memanggil Anggika yang berlari ke dalam mobilnya.

"Gi! Dengerin dulu penjelasannya."

Anggika tak mendengarkan pangilan Salsa, ia tetap menancap gas, pergi meninggalkan Salsa yang berlari di belakangnya.

Jalanan malam itu kosong, Salsa yang sedari tadi berlari akhirnya berhenti, mobil Anggika terlalu kencang untuk di kejar. Air mata mnetes di pipinya, dengan cepat ia mengusapnya.

Di belakang Salsa ada Alian yang ikut mengejar. "Sa!" panggilnya, keras.

Salsa membalikan badannya. Alian masih berlari menghampirinya.

"Sa, Anggika!" Alian berhenti saat ia tepat berad di hadapan Salsa. "Sa, Anggika ...," ulangnya sambil mengatur nafas.

Salsa menghapus air mata di pipinya, lagi. "Kok, jadi gini, A ...."

Alian masih ngos-ngosan. Ia menglap keringat di keningnya. "Maaf, Sa ...."

Saat berdiri berdua di tengah jalan, dari belakang muncul mobil Didit, melewati mereka begitu saja. Samar-sama Alian melihat Ira di dalam mobil itu. Mereka berdua menatap mobil Didit yang semakin menjauh, hilang di balikan belokan.

Alian memegang tangan Salsa. "Sa, kamu tenang, ya. Jangan khawatir. Nanti kita bereskan masalah ini bareng-bareng."

"Tapi, A. Anggika?"

"Biar nanti Aa yang ngomong ke Anggika. Kamu tenang, ya. Jangan nangi terus."

"Tapi, Anggika kayaknya marah banget. Aku belum pernah melihat Anggika semarah ini." Salsa menyimpan kedua tangannya di pinggang, wajahnya mendongak ke langit.

"Aa yakin Anggika hanya perlu penjelasan."

Mereka berdua masih berada di tengah jalan sampai ada satu mobil yang mengklakson mereka.

Tiiiiiiidddddd!

Mereka berdua terkejut, dengan refleks lari ke pinggir jalan.

"Kalo mau ngobrol di rumah!" kata si pengemudi dengan nada tinggi, kemudian ia berlalu.

"Udah, Sa. Jangan terlalu dipikirin. Kita akan beresin ini bareng-bareng. Segera. Mending sekarang kita pulang." Alian masih kecapean. Ia untuk memutuskan duduk di trotoar.

"Salsa takut Anggika marah. Takut." Salsa ikut duduk di samping Alian.

Alian memandang langit, menerobos kabel listrik yang kusut di atas sana, hingga terlihat setitik bintang di kegelapan. Semacam setitik harapan bagi Alian.

"Aa yakin, harapan buat memperbaiki masih ada. Percaya lah."

Akhirnya, mereka menutup malam itu dengan pulang ke kosan masing-masimg. Masih tersisa setitik penysalan yang Alian yakini akan tertutup oleh setitik cayaha terang harapan.

**DDSK** 

Air mata terus mengalir deras di pipi Anggika. Pandangannya terkadang kabur terhalang air mata yang masih menggenang, hatinya terasa sakit. Sesekali ia memukul stir untuk melampiaskan kekesalannya.

Ia benar-benar tak menyangka, ternyata Alian sudah punya pacar. Harapan yang ia bangun—selama ini ia sangat berharap Alian adalah cowok yang beda—hancur seketika itu pula, menjadi keping-keping. Ini untuk yang kesekian kalinya Anggika menangis gara-gara seorang cowok yang sudah ia Anggak cowok yang beda.

Dulu saat ia disakiti seorang cowok, Anggika merasa semua cowok adalah sama saja; suka nyakitin, suka seenaknya, tak mau kalah, dan yang paling Anggika benci adalah suka bohong. Tapi, setelah bertemu Alian di halte malam hujan itu, Anggika merasa Alian adalah orang yang berbeda.

Ditambah, ternyata ia bisa bertemu lagi dengan Alian saat acara inagurasi itu, membuat dirinya bisa melupakan kejadian malam itu. Ia seperti mempunyai kehidupan baru yang lebih segar.

Perlahan tapi pasti, Alian mulai bisa mengambil hatinya. Ditambah saat dia bertanya kepada Salsa di pagi itu, tentang status Alian, Salsa menjawab, "A Alian masih jomblo, kok, Gi." Membuat Anggika semakin bersemangat berharap pada Alian.

Tapi, pada akhirnya, Ia mengetahui juga hal yang sebenarnya: Alian sudah punya pacar. Kejadian yang menyakitkan kembali terulang, yang membuat Air matanya masih mengalir sampai ia tiba di rumah.

Saat sampai di depan rumah, ia tak lantas membuka gerbang. Ia masih ingin menangis untuk sekejap. Menghabiskan sisa air matanya malam itu.

**DDSK**

Alian terbaring lemas di kasurnya. Matanya terus memandang kosong langit-langit kamar kosan yang kusam. Ia sedang menyesali kejadian tadi. Pertanyaan terus datang di kepalanya, "bagaimana Ira tiba-tiba bisa datang ke bandung?"

Ia kemudian teringat perkataan Ira yang menyebut "foto berdua di pantai", hal yang membuatnya aneh. "Kapan gue foto berdua sama Anggika di pantai?" tanyanya, pada diri sendiri. Alian benar-benar kebingungan.

"Apa Ira mengada-ada? Atau ada orang yang sengaja mengadu domba dirinya dengan Ira?" pertanyaan lain yang terus bermunculan di kepala Alian. Tapi, tetap, ia masih bingung dengan semua yang telah terjadi. Benar-benar tak masuk di akal nya.

Alian melihat ke gelang pemberian Anggika di tangan kirinya, lalu mengelusnya, "Anggika," ucapnya, pelan. "Gue harus menjelaskan semuanya ke Anggika. Bagaimana pun juga!"

Alian memejamkan matanya, berharap ia bisa dengan cepat menuju besok pagi. Ia benar-benar ingin memecahkan teka-teki mengapa Ira tiba-tiba bisa datang ke bandung. Alian mempunyai satu nama yang mungkin bisa mengungkap, yaitu Salsa.

Ia yakin Salsa tahu dibalik semua kejadian ini, karena Salsa adalah satu-satunya yang tahu ia dekat dengan Anggika dan hanya Salsa yang tahu ia masih pacaran dengan Ira.

Alian sempat berfikiran Dinan yang membuat Ira ke bandung, Dinan tahu ia masih pacaran dengan Ira, tapi, Dinan tak tahu ia sedang dekat dengan Anggika. Jadi, Alian berkesimpulan Dinan tak terlibat di masalah ini. Dan Alian semakin yakin, kini, tinggal satu nama: Salsa.

"Besok masalah ini harus beres," kata Alian pelan, dengan mata tertutup. "Gue harus tahu yang sebenarnya terjadi!"

Walau pun malam itu Alian susah tidur, tapi, ia tak sekali pun membuka matanya. Ia sangat-sangat ingin malam kelam itu cepat berlalu. Ia menunggu pagi. Menunggu keajaiban.

**DDSK**

Diterbitkan: 29 September 2018
Oleh: C. Sahetapi   

Dua Dalam Secangkir KopiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang