01. Go

6.1K 390 3
                                        

Suasana ramai begitu terasa di bandara internasional Soekarno Hatta, aku Ibu, Ayahku dan juga kedua adikku duduk di kursi yang di sediakan untuk menunggu sebelum giliran terbang. Ya kami sedang menunggu waktu untuk terbang, lebih tepatnya aku yang akan terbang ribuan kilo meter dari tempat aku duduk saat ini. Ibuku memelukku erat, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Apa tidak bisa, kamu tidak udah pergi?” tanya Ibu dengan nada penuh harap.

“Bu, kita-kan udah bahas kemarin. Ody nggak lama kok cuma tiga bulan.”

Aku mencoba memberi Ibu sebuah pengertian, tapi aku tidak menyalahkannya, meski tahun ini aku berusia 21 tahun dengan kata lain aku sudah cukup dewasa, namun bagiku seorang Ibu anaknya tetaplah anak kecil itulah alasan Ibu masih tidak rela untuk melepaskan aku meski ini untuk waktu yang sebentar.

“Udahlah Bu, lagi pula dia cuma tiga bulan. Kalau nanti kangen juga bisa telponan atau Videocall ini itu udah jaman modern,” ujar Ayahku mencoba membuat Ibu untuk lebih ikhlas melepasku.

“Ayah benar Bu, Kak Ody pasti pulang, kecuali kalau dia kesasar ke rumah oppa-oppa-nya  yang ada di sana,” celetuk adik laki-laki yang membuatku tidak tahan untuk tidak mencubit pinggangnya.

“Kak....kak... Sakit,” pekiknya.

Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA328 tujuan Incheon dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu E3.

Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number A330 to Incheon please boarding from door E3, Thank you.

Pengumuman yang petugas bandara berikan menandakan jika saatnya aku untuk pergi semakin dekat. Jika tadi Ibuku yang menangis kini giliran air mataku yang mengalir tanpa kusadari, bayangan tiga bulanku tanpa mereka seperti akan sangat berat, ingin rasanya aku menuruti saran Ibu, tapi kembali pada tekad awalku. Ini hal yang aku pilih dan aku perjuangkan selama beberapa bulan ini jadi mustahil untukku membuangnya begitu saja.

“Ody berangkat dulu ya, Ody pasti kangen kalian,” ucapku sambil memeluk mereka satu persatu.

“Hati-hati di sana, jangan kebanyakan main. Belajar yang serius!”

Aku memeluk mereka satu persatu sebelum akhirnya aku benar-benar melangkah kaki menjauh dari mereka. Aku tak berani untuk sekedar menoleh ke arah mereka, karena saat aku menoleh aku tidak tahu apakah aku bisa menahan kakiku untuk tidak berlari ke arah mereka dan mengacaukan semua.

***

Aku sudah di dalam kabin, aku baru pertama kali melihat kabin pesawat secara langsung. Biasanya aku hanya melihatnya di drama ataupun internet. Aku mencari tempat dudukku dengan mencocokkan nomor yang ada di tiket dengan yang ada di bangku. Akhirnya aku setelah berusaha tidak terlalu keras aku menemukan bangkuku, tapi aku melihat ada seseorang sepertinya sedang mencari sesuatu di bawah tempat dudukku.

“Permisi,” ucapku dengan sopan, menengok kearahku.

“Akh kamu yang punya bangku ini ya?” tanyanya.

Seketika aku membeku saat melihat penampakan indah yang terpampang nyata di hadapanku, sesaat aku kehilangan semua kosa kata yang aku pelajari selama 21 tahun aku hidup.

“Hei!” Dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku yang mengembalikan kesadaranku.

“Iya ini tempat dudukku.”

Spring Melody ✓ ( END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang