Aku memasuki kamarku, kesan pertama yang aku dapat tidak terlalu besar namun cukup untukku. Tidak terlalu banyak barang hanya ranjang susun, lemari baju dan juga meja rias di dekat jendela. Aku tebak ini kamar ada yang menguning, bukan ... bukan penghuni dalam artian mahluk lain, tapi manusia lain. Di lemari ada beberapa baju dan di meja ada beberapa kosmetik.
"Nuguseyeo?" tanya seorang gadis yang memasuki ruangan ini.
"Anyeong!" sapaku.
Dia tersenyum sepertinya dia sudah di beri tahu tentang aku, jadi dia tidak nampak begitu terkejut.
"Aku Ahn Ri el," ucapnya sambil mengulurkan tangannya dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya yang nampak begitu putih dan berkilau seperti orang Korea kebanyakan.
"Melody, aku Melody aku dari Indonesia."
Aku membalas uluran tangannya, dan berusaha bersikap ramah karena dia terlihat ramah dan bersahabat.
"Senang bertemu denganmu Melody, aku rasa kita akan menjadi teman baik."
Satu lagi, hari ini aku mendapat satu lagi teman baru. Aku sempat berpikir jika aku akan mengalami kesulitan karena hidup sendiri di negri orang, tapi setelah bertemu dengan Kevin dan sekarang Ahn Ri El sepertinya hari-hariku di sini akan terasa menyenangkan.
Ri El terlihat kelelahan, dia membaringkan tubuhnya di ranjang atas dan aku di bawah. Sebenarnya ranjang bawah adalah milik Ri El sebelumnya, tapi karena aku takut ke tinggian dia merelakan ranjangnya untukku, terima kasih Ahn Ri El.
"Melody, kau bisa menyusun bajumu di lemari, masih ada beberapa tempat kosong aku ingin tidur sebentar sebelum pergi ke kursus bahasa Inggris."
"Iya, tidurlah."
Aku memasukkan baju-baju ke lemari dan menyusunnya agar terlihat rapi. Aku yang lelah ini membaringkan tubuhku, padahal aku belum mandi dari kemarin tapi aku tidak tahu kamar mandi dimana, tidak mungkin untuk bertanya pada Ri El aku tidak enak menganggu dia yang terlihat lelah dan tidak mungkin lagi untuk aku bertanya pada Kevin, karena dia tidak tinggal di sini selain itu ponselnya juga ada padaku. Jadi aku putuskan untuk tidak mandi.
Pikiranku melayang pada kejadian siang tadi, aku merasa jika itu mimpi tapi itu adalah nyata sangat nyata. Jika di drama Korea ada teori tentang reinkarnasi mungkin di kehidupan sebelumnya aku pernah menyelamatkan dunia, atau bahkan menjadi orang yang sangat baik hati. Aduh ngomong apa aku ini? Beginilah jika orang terlalu banyak nonton drama jadi suka mengkhayal yang sedikit tidak masuk akal. Mari lupakan teoriku yang tidak nyata itu, lebih baik memikirkan ponselku, bagaimana aku bisa mendapat ponselku lagi akan tidak lucu jika aku bertemu dengan Jaehyun terus tiba-tiba tertangkap dispach, jika Arum sahabatku yang sekarang mungkin sedang merindukanku, atau mungkin sedang mengkhayal, tahu aku bertemu bias-nya diam-diam bisa di gantung hidup-hidup aku setelah pulang ke Indonesia nanti, dia memang sedikit mengerikan.
Dertt ... Derrttttt ... Derrttttt ...
Ponsel Kevin yang ada padaku bergetar, dari nomer belakangnya aku tahu itu adalah milik Jaehyun. Tiba-tiba jantungku berdegup begitu kencang, akh kenapa aku menjadi begitu gugup. Jantungku sayang, mohon tetap di sana jangan lari-lari sudah malam. Ponsel ini terus bergetar, aku memutuskan keluar kamar karena tidak ingin mengganggu Ri El yang sedang mimpi indah.
Aku mengatur napasku dan membuatku terlihat biasa saja, ini terlalu memalukan jika ada yang melihatku, karena mungkin saja wajahku sudah menjadi kepiting rebus karena terlalu gugup.
"Yeobseo," ucapku sedikit ragu mungkin terdengar seperti orang yang sedang berbisik.
"Maaf menelfon malam-malam, bisa bicara dengan Melody?"
Akh mungkin dia mengira ini bukan aku, karena ponselku ada pada dia.
"Ini aku Melody."
Aku mendengar dia menghembuskan napas, "Syukurlah jika kau adalah Melody, aku sempat khawatir jika kau adalah orang lain," ucapnya.
"Ada apa, kau sudah menemukan tempat untukku mengambil ponselku?" tanyaku.
"Aku akan mengirim alamatnya nanti, karena aku tidak ingin yang lain dengar karena semuanya akan jadi panjang jika mereka tahu."
"Baiklah, aku mengerti situasinya."
"Tapi kau selalu memanggilku, tanpa tambahan oppa seperti fans lainya?" tanyanya.
"Darimana kau tahu aku fansmu?"
"Maaf aku membuka ponselmu, aku tahu kau bukan fansku tapi fans Taeyong Hyung kan?"
"Aku juga penggemarmu, Jaehyun-sshi. Alasanku tidak memanggilmu oppa karena kita lahir di tahun yang sama."
"Benarkah?" tanyanya yang terdengar semangat.
"Ya."
"Berarti kita bisa menjadi teman baik Melody-sshi."
Jangan tanya betapa bahagianya aku saat ini, saat dia bilang 'kita bisa menjadi teman baik'. Aku yang bahkan tidak secantik rontokan bulu matanya, menjadi temannya sungguh ke mustahilan yang sekarang menjadi mungkin. Inikah yang di sebut dengan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
"Melody-sshi."
Terlalu bahagia membuatku lupa jika sambungan telepon belum terputus, akh aku memang benar-benar senang membuat diri sendiri terlihat bodoh.
"Nde, maaf tadi aku ketiduran," ucapku yang membuatku terdengar semakin bodoh.
"Akh begitukah? Ya sudah selamat tidur Melody-ah. Selamat malam mimpi yang indah semoga kau betah tinggal di Korea." ucapnya sebelum menutup teleponnya.
Berikan aku satu kuintal bola besi agar aku tidak terbang, aku merasa tubuhku terasa begitu ringan dan ingin melayang. Seorang Jaehyun mengucapkan selamat malam untuk butiran debu seperti aku sungguh keajaiban yang mungkin tidak akan terjadi lagi, namun gara-gara ini sepertinya aku tidak akan bisa tidur karena terlalu bahagia dan juga karena jantungku yang saat ini sedang berlari di treadmill.
-ooOoo-
KAMU SEDANG MEMBACA
Spring Melody ✓ ( END)
Fanfiction#DreamSeries Series Pertama! Orang bilang aku beruntung, tapi bagiku ini adalah hasil kerja keras, namun saat takdir membawaku padamu aku akui aku beruntung dan harga untuk ke beruntungku adalah hatiku. **** "Kamu bintang dan aku tahu tempatmu di...
