Eva sedari tadi hanya mencoret-coret bukunya dengan gambar yang tidak jelas. Ternyata gadis itu sedang bosan. Ia hanya duduk di depan meja belajarnya sejak pukul tiga sore. Mengerjakan pr, bermain games, mendengarkan musik. Dan hanya itu saja. Di rumah juga hanya ada adiknya.
Di luar sana sedang hujan, sepertinya suasana sangat mendukung Eva untuk berdiam diri dan tidur di rumah.
"Gue enaknya ngapain ya?" tanyanya pada diri sendiri. Sekarang ia beranjak menuju tempat tidurnya. Lalu beristirahat sejenak di sana. Berguling-guling tidak jelas.
Senyumnya merekah ketika memikirkan kejadian kemarin sore. Saat ... Arel mengantarnya. Sepertinya Eva akan mengingat peristiwa itu terus-menerus.
Gadis itu mengeratkan dekapannya. Huh, saat ini udara benar-benar sangat dingin. Tidak ada di antara Eva ataupun Arel yang memutuskan untuk memulai percakapan.
Eva kembali bersin untuk yang ketiga kalinya. Arel menghela napasnya lalu menaikkan suhu pendingin mobilnya. Eva sibuk mengucek hidungnya. Oh tidak, ini rasanya sangat gatal. Eva memang alergi dingin dan debu. Jadi... ya seperti itu.
Arel menepikan mobilnya sebentar. Membuat Eva mengernyit heran. "Kenapa berhenti?" tanyanya sambil terus mengucek hidungnya sehingga menimbulkan semburat merah.
Arel tak berkata apapun. Ia lalu melepaskan hoodie yang dipakainya. "AREL! LO MAU NGAPAIN SIH!" teriak Eva ketika melihat Arel melepaskan hoodie-nya.
"Ish banyak ngomong lo. Ini pake hoodie gue. Biar ga kedinginan." Tangannya terulur memberikan hoodie berwarna biru pada mantan kekasihnya itu.
"Hah?" Eva mengernyit heran.
Arel memutar bola matanya malas. "Iya, buruan pake. Cepet! Keburu ntar makin parah bersinnya."
Eva mengangguk paham. Gadis itu segera memakai hoodie tersebut. "Makasih," gumamnya pelan. Walau ia yakin, gumaman itu masih cukup keras untuk didengar Arel.
"Hm." Arel kembali melajukan mobilnya melewati jalanan yang basah. Pasalnya, ini sudah hampir Maghrib. Ia harus bergegas mengantarkan Eva ke rumahnya.
Arel mendesah pelan. Kapan ia akan sampai ke rumah jika jalanan macet begini?
"Maaf,Va, jalannya macet," ucapnya sambil menatap Eva lekat.
Gadis itu menyengir. "Iya ga papa kok."
Sedetik kemudian tercipta seringaian di wajah Arel. "Ah lo pasti suka kan kejebak macet sama gue? Bilang aja deh. Lo itu kangen kan sama gue?" Alisnya naik turun kontras dengan gerakan wajahnya.
Eva melotot mendengar perkataan Arel. Like, hello? Kangen? Hei, Eva sudah move on. Dia tak akan memikirkan Arel lagi.
"Apa sih?! Orang gue udah move on juga." Gadis itu membuang pandangannya ke arah lain.
Ia sempat berharap agar omongannya tadi menjadi kenyataan.
Dan ia baru sadar bahwa semua itu hanya fantasinya saja. Faktanya, ia masih belum bisa melupakan cowok menyebalkan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih
Short Storyma.sih (adv) sedang dalam keadaan belum selesai atau sedang berlangsung su.dah (adv) telah jadi; telah sedia; selesai Masih atau sudah? DON'T COPY THIS STORY!! wonderful cover by pianputh91
