Tolong temuin gue di Kafe Cahaya jam 3 sore.
-Eva
"Lah tumbenan dia pake acara kirim-kirim kartu gini. Perasaan internet masih ada, ngapain pake cara begini?" tanya Arel pada dirinya sendiri.
Arel mengembangkan senyumnya. "Biar romantis kali ya. Ya udah deh. Gue siap-siap dulu aja."
Tangannya beralih menutup pintu berwarna cokelat itu. Kakinya yang jenjang menapaki tangga rumahnya.
"Tapi ngapain ya Eva ngajak ketemuan? Apa bakal ada hal penting yang dia omongin?" Entah untuk yang ke berapa kalinya ia bertanya pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian ia langsung mengambil handuk dan bajunya dengan cepat lalu bersiap-siap. Seakan ia tak ingin kehilangan kesempatan ini. Maksudnya, jarang sekali Eva mengajak Arel untuk bertemu setelah mereka putus.
Arel menatap pantulan dirinya di cermin. "Wah gue ganteng juga ya ternyata," ucapnya dengan percaya diri. Yang ia yakin jika ia mengatakan itu di depan Eva, Eva akan memutarkan bola matanya malas.
"Tapi ... kalo gue ganteng, kenapa Eva masih mutusin gue?" tanya Arel lagi.
Sepertinya dia lupa, bahwa yang memutuskan Eva adalah dia. Benar-benar aneh.
Arel menyisir rambutnya dengan asal. Lalu segera beranjak mengambil kunci motor dan berpamitan kepada ibunya.
---
Arel memarkir motornya di depan kafe. Matanya menangkap seorang gadis yang sedang duduk menyesap sebuah minuman di sana. Itu Eva. Oh tidak, mengapa jantungnya berdetak kencang? Eh? Ada apa? Mengapa jantungnya tak bisa dikompromi?
Arel melangkah dengan pelan sebelum benar-benar sampai di depan pintu kafe. Tangannya mendorong pintu kaca itu dengan pelan. Langkahnya tertuju pada meja nomor seratus empat belas.
"Hai," ucapnya canggung. Oh tidak, ini benar-benar canggung. Ini sangat berbeda dengan keadaan di kelas saat ia mengejek Eva.
Eva menolehkan wajahnya, melihat sang pemilik suara. "Oh, hei," sapanya, "lo mau duduk, apa cuma berdiri di situ?"
Arel tersenyum tipis. "Hehe iya." Kemudian ia menempatkan diri di kursi yang arahnya berhadapan dengan Eva.
"Lo ngapain ngajak gue ke sini?" tanyanya memecah keheningan.
Eva tersenyum tipis. "Ih pesan makanan dulu sana! Kesannya kek buru-buru banget."
Seorang waitress berbaju merah mendatangi meja mereka. Menanyakan apakah mereka akan memesan makanan atau tidak.
"Nah udah," ucap Arel. Ia sengaja melipat tangannya di atas meja. Seperti murid yang akan mendengarkan penjelasan gurunya.
Sontak hal itu membuat Eva terkekeh. Ia rindu dengan masa-masa ini. Dalam hatinya, ia tak ingin momen ini berakhir.
"Apa sih? Biasa aja kali." Eva terkekeh di akhir kalimatnya. Membuat Arel semakin cemberut karena ia sangat penasaran dengan tujuan Eva mengajaknya ke sini.
"Jadi?" tanya Arel yang memecah keheningan selama sepersekian detik.
Eva memilih melayangkan tatapannya pada keramaian jalan lewat kaca jendela kafe. Ia menghela napas sebelum menjelaskan semua pada Arel.
"Rel?"
"Iya?"
"Gue minta maaf ya," ucap Eva yang masih setia memandang jalanan.
Arel mengernyitkan dahinya. "Buat?"
"Ya gue minta maaf buat semuanya."
"Ini bukan tanda perpisahan kan?" tanya Arel yang sorot matanya mulai meredup. Khawatir dengan apa yang diucapkan Eva.
Eva terkekeh lalu menatap Arel dengan lamat-lamat. "Haha, nggak lah. Gue cuma mau balikin ini semua." Tangan lembutnya menyodorkan sebuah kantung kertas.
Dahi Arel mengerut.
"Lah? Ini kan barang-barang yang dulu gue kasih ke lo? Ngapain dibalikin?" Arel semakin bingung dengan sikap Eva. Gadis ini sebenarnya kesambet apa? Atau kepalanya mungkin habis terantuk meja?
"Gue cuma pengen belajar ngelupain lo."
----
An; heyyyo, nah, jadi, beberapa part lagi Masih bakalan tamat loh. Mungkin 2 part lagi? Hehe.
Ayoo keep vote and comments yaa.
Liat gimana akhir hubungan Arel dan Eva? Bakal kaya gimana ya? Apa mereka bakal balikan? Atau malah...?
Sengaja update awal hari ini hehe.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih
Short Storyma.sih (adv) sedang dalam keadaan belum selesai atau sedang berlangsung su.dah (adv) telah jadi; telah sedia; selesai Masih atau sudah? DON'T COPY THIS STORY!! wonderful cover by pianputh91
