Eva sempat kaget dengan keputusan Arel pada hari itu. Sejujurnya, walaupun ia ingin move on dari Arel. Ia tak ingin kejadiannya seperti ini.
Arel akan pindah ke Amerika hari ini. Ini sudah menjadi keputusannya. Bukan, ini bukan sepenuhnya salah Eva. Keadaanlah yang mengharuskan Arel untuk pindah ke sana. Lelaki itu akan menyusul ayahnya ke sana.
Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Arel akan menemukan kembali kebahagiaan keluarga kecilnya di sana. Mungkin nanti ia juga bisa move on dari Eva. Walaupun ia tidak yakin sepenuhnya.
"Lo yakin sama keputusan lo?" tanya Eva.
Hari ini, hanya Arel yang berangkat ke sana. Ibunya sudah berangkat sejak kemarin lusa. Arel ingin berangkat hari ini, yah karena ia ingin menghabiskan sedikit waktunya sebelum pergi ke Amerika bersama Eva. Awalnya, ia tak ingin memberitahukan masalah kepindahannya dengan Eva. Akan tetapi lebih baik gadis itu tau seluruh alasannya. Daripada harus membiarkannya menebak-nebak dengan hasil yang tak pasti.
Arel mengangguk mantap. "Iya, gue yakin."
Eva berjalan mendekati Arel. Memeluk tubuh kekar lelaki itu. Tanpa berniat untuk melepaskannya. Sedangkan di sisi lain, terdapat Akbar, Fasya, dan beberapa teman sekelas Arel yang ikut mengantarnya ke bandara.
"Maafin gue," gumam Arel pelan sambil mengusap rambut Eva.
Eva mendongakkan kepalanya, menatap iris legam milik Arel. "Kapan lo bakal balik? Lo janji kan bakal balik? Bakal balik buat gue?" tanyanya dengan cepat.
"Gue janji bakal balik buat lo. Tapi entah itu kapan."
"Inget semua pesan gue ya, Va. Jangan lupain gue, tapi hilangin perasaan lo ke gue. Cinta emang nggak harus memiliki." Arel tersenyum tipis.
Eva mengeratkan pelukannya. Ia juga ikut tersenyum sambil mengusap air matanya kasar. "Nggak usah nangis. Tambah jelek muka lo." Arel malah tertawa lepas.
Gadis itu tidak cemberut seperti dulu ketika Arel mengejeknya. Ia malah semakin sedih mendengar ejekan Arel. "Sst.. jangan nangis," ucap Arel sekali lagi.
Arel segera menghampiri Akbar dan Fasya yang berjarak beberapa langkah. Fasya yang terlihat sedih juga ikut memeluk Arel, mengucapkan salam perpisahan.
"Baik-baik bro di sana!" ucap Akbar.
"Siap bos. Oh iya, gue nitip Eva ya. Jagain dia. Gue harap, lo bisa jadi orang yang tepat buat dia," ucap Arel dengan nada yang benar-benar serius.
"Insyaallah gue bakal jaga dia, Rel." Akbar mengangguk.
"Rel, kalo ke Indonesia jangan lupa bawa oleh-oleh ya!" celetuk Rio, teman sekelas Arel pada saat kelas sepuluh.
Arel mengembangkan senyumnya dengan lebar. "Siap deh!"
"Eh gue berangkat dulu, kalian baik-baik ya di sini! Jangan lupain gue!"
Arel memeluk Eva lagi dengan cepat, lalu mencium puncak kepalanya. "Jangan lupain gue," ucapnya dengan cepat.
Ia menjauhi kerumunan teman-temannya itu sambil terus tersenyum. Walau hatinya berat untuk melakukan semua ini.
Terlihat Eva yang berusaha memaksakan senyumnya sambil melambai ke arah Arel.
"Selamat tinggal," ucapnya pelan.
---
Arel menatap pemandangan awan melalui jendela pesawat dengan tenang. Rasanya semua beban telah hilang dari pundaknya. Ia menyesali seluruh perbuatannya yang menyakiti Eva. Sekalipun ia menjadi antagonis di sini, tapi bisakah ia menjadi protagonis? Mungkin ini saatnya.
Lagi-lagi, menjauh adalah hal yang tepat ketika kau ingin melupakan seseorang. Arel yakin suatu hari nanti, ia datang dengan perasaan berbeda. Bukan dengan perasaan cinta.
Ia memang masih mencintai Eva. Tetapi ia bukan orang yang baik untuk Eva.
Perasaan memang tak bisa dibohongi. Jatuh cinta memang tak bisa dipaksa. Melupakan dan mengikhlaskan itu berbeda. Saat kau sudah melupakan seseorang namun belum bisa mengikhlaskannya, itu sama saja. Jika memang ini akhirnya, Arel bisa apa?
Dengan kepindahannya, Arel merasa ia mendapat keputusan yang terbaik. Begitu juga dengan Eva, ia juga mendapat yang terbaik. Pasti.
Tak terasa air matanya menetes. Walau keputusan ini memaksa, semoga keputusan ini membawa hal baik suatu hari nanti.
Sebelum berkomitmen dengan keputusan ini, Arel telah menimbang-nimbang. Jadi, ia tak hanya asal memilih keputusan.
Sekarang, kisahnya berbeda. Di sini ada Arel yang telah usai mencintai Eva. Dan di sana ada Eva yang telah usai mencintai Arel. Pada akhirnya, mereka memang tak dapat bersama. Namun, itulah akhir terbaiknya.
Semoga setelah ini, kehidupan Eva akan menjadi lebih baik. Ia ingin bertemu dengan Eva saat mereka berdua telah sama-sama sukses membangun karier.
Arel janji, ia akan kembali.
Untuk Eva.
An; nah loh nah loh. Udah ending wkwkwk. Yah gitu deh.
Yang masih penasaran Eva sama siapa, next chapter ada epilog.
Tungguin aja yaa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih
Short Storyma.sih (adv) sedang dalam keadaan belum selesai atau sedang berlangsung su.dah (adv) telah jadi; telah sedia; selesai Masih atau sudah? DON'T COPY THIS STORY!! wonderful cover by pianputh91
