Epilog

569 22 9
                                        

Sembilan tahun berlalu. Semuanya telah berubah. Begitu juga dengan keadaan. Hingga kepada perasaan.

Keduanya telah tumbuh. Eva telah tumbuh menjadi seorang wanita dengan karier dalam bidang kedokteran. Sedangkan Arel? Ia meneruskan jabatan ayahnya di perusahaan.

Arel memegang lembaran-lembaran itu dengan senyuman di wajahnya. Ia berharap semoga semua lancar.

Matanya menangkap seorang perempuan yang mendorong pelan pintu kafe. Masih di tempat yang sama. Kafe Cahaya.

Gadis itu benar-benar berubah. Rambutnya yang dulu hanya dikuncir, sekarang sudah tak nampak. Pakaian favoritnya dulu adalah setelan kaos dan jeans, sekarang berubah menjadi perempuan berhijab.

Arel melambaikan tangannya sambil terus tersenyum. Rasa hangat menjalar di dadanya. Kini sudah tak ada perasaan cinta di antara mereka. Hanya ada perasaan rindu yang mendominasi hatinya.

Eva membalas lambaian tangan Arel dengan senyuman.

"Hai," ucap Eva sambil duduk di hadapan Arel.

"Hai juga." Keduanya merasa saling canggung. Bagaimana tidak, mereka sudah tidak bertemu selama sembilan tahun. Walaupun dulu rasanya dekat, sekarang terasa jauh. Sangat-sangat jauh.

Arel mencoba mencairkan suasana. "Lama ga ketemu ya. How are you?" Tangan Arel menyalami tangan Eva dengan pelan.

Eva tersenyum tipis. "Baik. Lo sendiri gimana?" tanya Eva.

"Baik juga kok." Beberapa tahun di Amerika menjadikan aksen Indonesia Arel sedikit bercampur dengan bahasa asing.

Mereka sempat memesan makanan. Dulu, mereka akan makan dalam keadaan hening. Sekarang berbeda, mereka makan dengan diselingi cerita antara keduanya.

Seorang laki-laki kemudian datang lalu menghampiri meja mereka. "Akhirnya kamu datang juga. Selagi Arel di Indonesia, kita bisa reunian kali ya," ucap Eva.

Lelaki itu mengangguk. "Bener banget."

Arel ikut terkekeh. "Lo berubah banyak ya. Udah berapa tahun lo sama Rio?" tanya Arel.

"Berapa ya? Sejak lo pergi, sesuai pesan lo. Gue berusaha nyari orang yang tepat. Dan ... yah ternyata Rio adalah orang yang tepat buat gue," jelas Eva sambil menusuk-nusuk kue-pesanannya-di hadapannya. Lalu sesekali tersenyum tipis.

Arel mengangguk mengerti. Jika Eva bersama Rio, lalu bagaimana dengan Akbar?

"Akbar sekarang sama Fasya. Katanya, bentar lagi mau nikah gitu," ucap Eva yang seakan-akan tahu apa yang ada di pikiran Arel.

Arel mengangguk lagi. Tak berniat membuka suaranya. Ternyata semua benar-benar berubah. Eva yang bersama Rio, Fasya yang bersama Akbar, dan dia sendiri yang sekarang bersama Viona. Sang ketua kelasnya saat SMA dulu.

Ia mengenal Viona saat Viona pindah ke Amerika dan memulai studinya di luar negeri. Hingga ia jatuh hati padanya dan tak berniat untuk berpindah ke lain hati.

"Ini, jangan lupa dateng ya." Arel tersenyum sambil memberikan secarik kertas kepada Rio dan Eva.

Mereka berdua menanggapi dengan senyuman yang mengembang--sambil setengah kaget. Ternyata Arel dan Viona akan menikah minggu depan. Dan tujuan utama Arel ke Indonesia adalah memberikan undangan ini.

"Pasti, bro!"

"Semua bener-bener berubah ya. Gue ga nyangka kalo pasangan kita itu orang-orang terdekat." Eva tersenyum lagi.

"Viona masih suka marah-marah nggak?" Rio tertawa terbahak-bahak ketika mengingat dulu saat Viona menjabat sebagai ketua kelas.

Arel menggelengkan kepalanya. "Udah mendingan. Tapi kalo ngambek susah dibujuk," kekehnya.

"Sekarang Viona di mana?" tanya Eva. Sepertinya gadis itu juga rindu dengan sang mantan ketua kelasnya.

"Dia lagi di Amerika. Yang pulang ke Indonesia cuma gue. Nanti malem gue juga balik lagi. Banyak urusan di sana," lanjut Arel dengan terkekeh.

Rio menatap wajah Eva dengan cemberut. "Kita kapan nyusul?" tanyanya.

Eva terkekeh. "Kan kamu yang ngelamar. Kamu dong, yang nentuin." Eva tersenyum lagi.

"Ya udah besok aku mau lamar kamu. Biar cepet nikah!" ucap Rio lembut sambil mengusap puncak kepala Eva.

Arel juga ikut tersenyum senang. Ternyata begini akhirnya. See? Jika kita mau berusaha, kita akan bisa mencapai tujuan kita. Arel dulu berusaha mati-matian untuk melupakan Eva, begitu juga sebaliknya. Sekarang mereka sudah memiliki orang yang paling tepat untuk menjadi pasangan masing-masing.

Harapan Arel tercapai. Ia bertemu kembali dengan Eva saat semuanya sudah lebih baik.

Terimakasih Tuhan, atas skenariomu.

THE END

An; wehhh, ciee cieee udah selesai. Gimana nih gimana? Wkwk.

Kok bisa ya Arel sama Viona wkak.
Padahal banyak yg jadi shippernya Arel sama Eva.

Eva udah bahagia sama Rio ngehehehe. Tydack bisa diganggu gugat wkwk.

Mereka udah bahagia sama pilihannya masing-masing.

Udah ah, gitu aja. Hehe.

MasihTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang