"Lo nggak perlu ngelupain gue." Tangan Arel menahan kantung kertas tadi agar kembali pada Eva.
"Maksudnya?"
Arel tersenyum tipis. "Gue bahkan juga ga tau maksudnya."
"Gue harap lo ga ngelupain gue. Iya, gue tau kok. Gue sempat ngasih kenangan jelek buat lo. Tapi gue harap lo ga bakal ngelupain gue. Inget, Va! Gue masih cinta sama lo."
Eva menggelengkan kepalanya. "Tapi ... tapi gue ga pengen tergantung terus sama lo. Udah cukup lo bikin gue sakit hati, Rel. Gue ga mau lagi. Gue rasa, langkah pertama gue buat move on ya gini. Balikin semua barang-barang lo. Kita harus lost contact."
Arel tersenyum miris menatap gadis di depannya itu. "Emang kalo lo balikin barang-barang pemberian gue, bisa bikin lo jadi lebih baik?"
"Mungkin."
"Percuma, Va. Lo setiap hari bakal tetap ketemu sama gue. Kita bakal sekelompok lagi kalo pelajaran biologi. Gimana lo mau move on, eh?"
Eva tergelak, benar juga apa yang dikatakan cowok itu.
"Gue tau, lo masih cinta sama gue 'kan?" tanya Arel dengan percaya diri. Sekarang rasa gugup itu sudah tidak ada dalam dirinya.
Gadis itu sempat ragu, harus menjawab apa. Hingga pilihannya jatuh pada kata masih.
"Masih, Rel," gumamnya pelan.
"Gue boleh minta tolong?" tanya Arel lagi.
"Boleh." Eva mengangguk.
"Sedikit demi sedikit tolong hilangin rasa cinta dan sayang lo sama gue. Gue tau, gue ga bisa jadi yang terbaik buat lo. Gue mau lo bahagia sama orang lain, bukan sama gue. Karena gue bukan orang yang tepat buat lo. Tapi, sekalipun lo hilangin rasa cinta itu. Please, jangan lupain gue. Jangan lupain tentang kita. Karena gue juga ga bakal bisa lupain itu.
"Lo tau? Ga cuma lo yang tersakiti. Gue juga, Va. Waktu lo makan sama Akbar, waktu lo bercanda sama Akbar, itu berakibat besar bagi gue. Entah kenapa, hati gue tiba-tiba sakit. Gue berusaha nahan itu dari awal. Gue berusaha diem. Dan lo tau? Gue juga berusaha buat mencintai Fasya. Dan hasilnya? Gue cuma suka sama dia. Tapi gue tetap cinta sama lo. Perasaan memang nggak bisa dibohongin." Arel menetralkan napasnya setelah berpanjang lebar menjelaskan perasaannya pada Eva.
Gadis itu diam, ia tak bereaksi apa-apa. Cairan bening itu telah jatuh menembus benteng pertahanannya.
"Terus kenapa kita ga balik lagi aja kayak dulu, Rel?"
Tangan Arel mengusap air mata gadis itu dan dengan pelan. Memberinya perasaan hangat yang menjalar di dalam hati.
"Karena gue tahu, gue bukan orang yang tepat buat lo. Gue ingin orang lain, orang yang tepat, yang bisa bahagiain lo, bukan gue." Arel tersenyum tipis.
"Terus gimana cara gue hilangin semua rasa cinta ini? Kalo lo selalu punya cara buat ngebentuk perasaan ini lagi?" Eva menghela napasnya.
"Gue ga tau harus ngomong apalagi. Tapi ... cari yang terbaik selain gue ya. Jangan lupa buat terus bahagia. Simpan semua kenangan tentang kita, dan lupain rasa cinta lo ke gue," ucap Arel dengan serius.
"Besok lusa, gue bakal pindah ke Amerika," lanjutnya.
An; haloooo. Tinggal satu part lagi ending loh wkwk. Stay terus buat tau gimana kelanjutannya, oke?
Jangan lupa buat vote dan comments. Karena itu sangat sangat berharga buat gue. Saran juga boleh, terutama buat penggunaan tanda baca, dll.
Dah, gitu ae.
Menurut kalian, gimana akhir kisah cinta Arel sama Eva?
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih
Short Storyma.sih (adv) sedang dalam keadaan belum selesai atau sedang berlangsung su.dah (adv) telah jadi; telah sedia; selesai Masih atau sudah? DON'T COPY THIS STORY!! wonderful cover by pianputh91
