Bagian 10

1K 128 23
                                    

Biasakan ngevote sama koment
Biar bergadang malam para other gak sia-sia..
Nulis cerita emang gampang tapi dapetin idenya gak segampang ngetik loh...

Happy reading...

Aku tidak pernah takut akan kematian, tapi yang aku takuti adalah ketika aku tidak bisa lagi melihat orang yang aku sayang

**MY HOPE**

Part 10: Maaf

"Ya! Kim Sohyun!" ucapnya sambil terus menekan dadanya, sekarang tubuh Sohyun sudah dipeunuhi alat bantu pernafasan, Dokter tersebut tidak henti-hentinya memompa tubuh Sohyun berharap gadis itu bisa bernafas dengan benar.

Jungkook disana, dia bersama para suster tersebut, lelaki itu juga membantu mendorong ranjang yang tengah ditempati Sohyun, maskernya sudah lepas. tapi, tidak ada yang meperdulikanya, tak ada satupun.

"Sebenarnya apa yang terjadi!" tanya dokter itu kembali, Jungkook tampak merasa bersalah, apakah ini karena dia? Karena ruller couster tersebut? Dia jadi teringat perkataan gadis itu aku akan mati! Apakah gadis ini benara-benar akan mati? Jika ia, dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

Sesanpai di ruang gawad darurat, para suster itu langsung menghentikan Jungkook untuk terus mendorong ranjang tersebut. Jungkook menyeka keringatnya dan terus mengusap wajahnya, bukan karena lelah dengan banyak hal yang telah terjadi hari ini. Dia ketakutan, untuk pertama kalinya seorang Jeon Jungkook dibuat ketakutan karena seoarang gadis, yang bukan cinta pertamanya.

Semua orang tau, bahkan para pembaca juga tau. Jeon Jungkook tidak pernah peduli dengan gadis manapun, tidak akan pernah!. Ya.. kecuali pemilik kancing yang bertengger di lehernya.

Tapi hari ini, dia begitu ketakutan, perasaan apa sebenarnya yang dirasakanya "tidak, mungkin aku hanya merasa bersalah" itu yang dia harapkan! Tapi, kali ini berbeda, perasaan yang tengah dia rasakan saat ini sangat berbeda.

"Telpon orang tuanya sekarang!" Mata jungkook langsung berpaling kearah suara tersebut, lelaki itu tampak terkejut "appa?" Dia menatap terus seorang dokter bersama dua orang suster yang tengah berlari kearah ruang gawat darurat tersebut.

"Appa!" Panggilnya lagi dengan suara yang sedikit lebih besar. Tapi, hal itu sangat sia-sia. Dokter tersebut sama sekali tidak memperdulikanya, dengan jarak yang cukup dekat, kemungkinan untuk orang yang dipanggil ayah olehnya tersebut untuk mendengar suaranya cukup besar. Tapi, dia sama sekali tidak diperdulikan dan orang tersebut melewatinya begitu saja.

"Ini sudah 3 tahun semenjak terakhir kita bertemu, tidak bisakah appa sekedar tersenyum padaku" mata Jungkook nampak sendu, dia menghela nafas frustasi. Lelaki itu perlahan menduduki dirinya dibangku tunggu dekat dia berdiri, dan untuk kesekian kalinya lelaki itu menghela nafas, dengan terus mengusap wajahnya kecewa.

Jungkook perlahan bangun dari duduknya, lelaki itu menatap lama tas Sohyun, hingga dia memutuskan untuk meninggalkanya disana. Lagian, semua orang di-RS ini mengenalnya.

Lelaki itu perlahan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut, dia tampak berantakan, rambutnya yang sudah acak-acakan, wajahnya yang sudah dipenuhi keringat. Dia bahkan sama sekali tidak peduli dengan tatapan banyak orang saat ini.

"Sohyunna oeddi?" Jungkook langsung mencari darimana asal suara tersebut "dia masih berada diruang gawat darurat"

Seorang lelaki paruh baya dan seorang lelaki yang mungkin umurnya tidak berpaut jauh denganya "mungkinkah itu keluarganya" selama ini gadis itu sama sekali tidak mengatakan apapun tentang dirinya. Ya...mungkin kebih tepatnya bisa dikatakan Jungkook tidak punya banyak waktu untuk mendengar tentang kehidupan pribadi gadis itu. Atau lebih tepatnya lagi, dia tidak pernah memberi dia waktu.

My Hope (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang