Axelandra - 6

2.4K 156 31
                                        

Sebelumnya, gue mau minta maaf. Maaf untuk yang sebesar - besarnya.

Silahkan membaca^^

*****

"Hessy? Apa yang sedang kau lakukan?" tanyaku sambil berjalan mendekati Hessy yang sedang memasukkan bajunya di dalam sebuah tas sebesar koper.

Hessy menutup resleting tas hijau tuanya. "Aku akan pergi, Nona Rara."

"Pergi? Maksudmu?" Aku mendekatinya.

"Aku tidak akan bekerja disini lagi." ucap Hessy. Sesuatu menetes dari matanya. Ya. Ia menangis.

"Maksudmu? Kau?"

"Iya. Aku dipecat. Aku tidak akan bekerja di rumah ini lagi, Nona."

Aku mencengkram kuat tangan kirinya. Aku pun berjongkok, sama sepertinya.

"Aku akan rindu padamu, Hessy." ucapku. Tubuhku bergetar. Tak terasa air mataku menetes.

"Apalagi aku." sahut Hessy. Ia mengusap rambutku lembut. "Jaga dirimu baik - baik."

Aku mengangguk. Detik itu juga, Liza datang menghampiri kami.

"Hessy..." ucapnya lirih.

"Ya?" sahut Hessy.

"Kau pulang hari ini?" tanya Liza. Wajahnya memancarkan kesedihan.

Hessy mengangguk. "Daripada aku diusir secara paksa."

Liza tersenyum getir. "Aku akan merindukanmu."

"Aku juga." kata Hessy. "Aku harap kau bisa menjaga Nona Rara dengan baik. Aku tak mau dia tersakiti. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri."

Aku tersenyum mendengar perkataan Hessy. "Aku juga sudah menganggap kau seperti kakakku sendiri."

"Pasti aku akan menjaga Rara dengan baik. Aku juga tak mau dia tersakiti. Aku juga sayang pada Rara. Aku sayang kalian." ucap Liza.

"Liza, pesanku, jangan pernah kau melakukan sedikit kesalahan. Karena bisa - bisa, kau akan mengalami hal yang sama sepertiku. Tapi, kuharap, hal ini tak akan pernah terjadi padamu." ujar Hessy sambil tersenyum.

***

"Sudah, Nona. Biarkan aku saja yang melakukannya," ucap Liza sambil menarik pelan kemoceng yang kupegang. Aku mengeratkan genggamanku di gagang kemoceng itu. "Ayolah, Nona. Aku ingin bekerja."

"Biarkan aku yang melakuka pekerjaanmu, Liza." kataku sambil tetap membersihkan guci - guci besar dan mewah dengan kemoceng.

"Tapi--"

"Aku kasian padamu, Liza. Biasanya Hessy yang melakukan pekerjaan ini dan kau yang memasak. Namun sekarang, kau harus melakukan keduanya." Aku menatapnya. "Pasti kau sangat letih, Liza. Apalagi setelah ini kau harus masak untuk makan siang."

"Terima kasih, Nona Rara. Kau mau apa? Biar aku buatkan." katanya sambil tersenyum manis.

 Aku menggeleng pelan. "Tak usah, Liza."

"Hey, Axelandra!" seru Reyna. Ekspresi wajahnya berubah ketika melihatku sedang membersihkan guci. "Wah? Sedang apa kau?"

"Seperti yang kau lihat. Aku sedang apa?" tanyaku sambil mengangkat kemoceng tinggi - tinggi.

"Sedang membersihkan... guci?" tanya Reyna. Ia tersenyum kecut. "Kau salah waktu, Rara. Seharusnya kau melakukan ini saat Daddy ada di rumah."

"Maksudmu?" tanyaku.

AxelandraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang