Axelandra - 17

1.7K 120 17
                                        

YEAAAY CHAPTER TUJUH BELAS INI SEMOGA MEMUASKAN YAA DAN JANGAN ADA YANG PROTES LAGI KARENA ADANYA YA BEGINI(??) OKEYY HAPPY READING^^

 

* * *

Aku membuka resleting tasku lalu mengeluarkan semua yang ada di dalamnya. Tetap juga tidak ada. Lalu, dimana lagi? Biasanya aku hanya menyimpannya di saku seragam, tempat pensil, loker meja, bagian terkecil di tasku, atau kadang aku memegangnya terus menerus.

Atau mungkin saat aku berlari tadi ... kunci itu terjatuh? Huh, aku benar - benar ceroboh. Bagaimana bisa aku mengambil buku Fisika-ku jika lokerku terkunci dan kuncinya entah ada dimana.

Huh, Semua siswa dan siswi kelasku pun sudah keluar kelas dan sudah berada di dalam ruang laboraturium IPA. Dan Ma'am Jessy pasti sudah menyiapkan materi - materi penting untuk menghukumku. Entah itu berdiri didepan sambil mengangkat kaki kanan, atau mungkin di jemur di lapangan. Dan lebih parahnya, berlari memutari lapangan indoor 25 kali. Bisa kalian bayangkan, lapangan indoor di sekolahku sering sekali dipakai saat ada pertandingan. Jadi, lapangan itu sangatlah luas. Lapangan itu juga dilengkapi dengan kursi penonton yang mengelilingi lapa-- sepertinya itu tidak terlalu penting untuk di jelaskan.

Yang paling terpenting adalah keberadaan kunci lokerku. 

Uh, apa aku harus menanyakan hal ini pada guru piket? Tetapi, jadwal guru piket hari ini siapa? Semoga Ms. Tesha atau Ms. Oliv, guru yang paling baik bagiku.

 Tak usah tunggu lama - lama lagi, segera saja aku berjalan menuju meja piket yang terletak lumayan jauh dari kelasku. Tahukah kalian, aku harus turun 3 tangga dan berjalan melewati koridor kelas senior dengan cara terus menerus menatap lantai.

Hmm, di sekolahku, kalau kita berani bertatapan secara intens dengan senior, itu bisa di anggap ... ehm, tidak sopan. Mari katakan bahwa sekolahku sangat berlebihan. Tapi, ini bukan peraturan. Sekali lagi, bukan bagian dari salah satu peraturan sekolah. Tetapi, itu adalah ... kekuasaan senior. Ehm, maksudku, uh, aku sulit untuk menjelaskannya. Baiklah, singkatnya, murid sekolahku menerapkan sistem senioritas yang berlaku mulai dari menginjakkan kaki di pintu gerbang sekolah. Bahkan, yang junior pun banyak yang bertindak seperti senior. Contohnya, tak usah jauh - jauh, amati saja Callie dan gerombolannya.

Baiklah, sebenarnya bahasan di atas tadi tidak terlalu penting. Yang terpenting sekarang adalah ... Tuhan, mengapa harus ada yang bermain sepak bola di tengah lapangan? Huh, terpaksa aku harus memutari lapangan yang sangat luas ini untuk menuju ke meja piket. Seharusnya mereka jangan bermain di lapangan ini. Bukannya ada lapangan khusus untuk sepak bola di sekolah ini?

Beberapa anak - anak perempuan yang sedang berdiri di pinggir koridor meneriakkan beberapa nama lelaki yang mungkin mereka sukai. Sambil berteriak histeris, kadang mereka juga bertepuk tangan dengan meriahnya. Sangat berlebihan. Aku benar - benar benci suasana seperti itu.

"Ma'am," panggilku. 

 Seorang perempuan yang menurutku berparas manis menoleh. Ma'am Loula.

"Ya?" sahutnya. Ternyata ia sedang bertelepon.

"Aku ingin melaporkan sesuatu." ucapku sambil menggigit bibir bawahku, ragu.

Ma'am Loula mengangguk padaku lalu mengucapkan beberapa kalimat perpisahan dan langsung meletakkan ponselnya di atas meja.

"Aku kehilangan kunci lokerku." kataku.

"Ehm, kau adalah murid ketiga yang melaporkan berita tentang hilangnya kunci loker." sahut Ma'am Loula. "Mungkin sebentar lagi akan datang murid keempat."

AxelandraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang