Dua Belas

9.3K 782 35
                                        

Dearest Davin,

Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajahmu saat surat ini berada di tanganmu. Kocak, yah? Di zaman modernisasi begini, aku justru kirim surat seperti ini ke kamu. Di saat nomer telepon, whatsapp, pin bbm, id ig, facebook, whatever sosmed milikmu yang telah kuketahui sejak lama. Tapi, tulisan cakar ayam ini yang kupilih untuk menyampaikan sejuta cerita hidupku tanpa adanya kamu di dalamnya.

Aku baik-baik saja. Berhenti mengirimiku pasintel karena bisa kupastikan semua itu nggak akan memberikan hasil seperti yang kamu inginkan.

Selamat ya atas prestasi kariermu selama di militer. So late? Yeah, i know it so well. Tapi, aku tetap pengen ngucapin itu. Tulus. Setulus-tulusnya untukmu.

Berjuta maaf terhambur kepadamu. Untuk setiap lara, sepi, kecewa, dan putus asa yang pernah kulakukan kepadamu selama ini.

Terima kasih untuk hati yang pernah kamu titipkan kepadaku. Mungkin lewat surat ini, kukembalikan lagi hati ini kepadamu. Aku bukanlah tempat yang tepat untuk hati seputih itu.

Jika kebaikan Tuhan dipercaya. Suatu saat nanti aku dan kamu akan dipertemukan lagi. Jika saat itu tiba, kuharap semua bisa jauh lebih membaik dari ini.

P.S aku merindukanmu

Kinds,
Marissa Winata

Selembar kertas putih penuh tinta biru itu diletakan Davin dengan perlahan ke atas meja kerjanya. Butuh tiga kali membaca untuk memahami setiap larik kalimat yang ditulis Marissa untuknya. Ubud, Bali. Sebuah kota indah yang seharusnya terpikirkan Davin. Sayangnya, semua itu luput. Saat Davin menyadarinya, semua justru terlihat suram. Davin menundukan kepala dalam-dalam. Menenangkan jantungnya yang bergemuruh bak genderang perang. Kedua tangannya saling meremas kuat tanpa sadar.

"Siap. Izin, Bang!" Sebuah suara membuyarkan lamunan Davin. Cowok itu segera mengangkat kepalanya.

"Ada titipan dari Bang Damar," ucap Sertu Yogi seraya menyodorkan map kepada Davin. Tanpa mengeluarkan suara, Davin menerimanya. Membuka map dengan setengah terburu-buru. Dia baru ingat, kalau harus ke rumah Adis untuk mengambil berkas. Tapi, karena surat Marissa, mendadak fokusnya hilang. Davin tercenung sesaat. Antara percaya dan nggak percaya. Dibolak-baliknya kertas-kertas penting itu berulang kali.

Dingin HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang