Kesiangan.
Hari itu, Adis benar-benar bangun kesiangan. Subuhnya kelewat jauh. Kalau bukan alarm ponsel yang berbunyi berulang kali, cewek itu mungkin masih terbuai mimpi. Adis langsung membuka mata, melompat dari tempat tidur.
Ingat, kalau semalam dia merendam cucian baju. Harusnya sebelum subuh tadi, dia sudah selesai mencuci. Berhubung udara Sorong nggak seperti biasa --dinginnya bikin malas melepas selimut. Jadilah jam tujuh kurang Adis baru bangun.
Langkah kakinya terhenti di ambang pintu kamar mandi. Ember besar yang semalam jadi tempat cucian sudah kosong dan disandarkan ke dinding.
"Lho?" gumam Adis bingung. Cucian bajunya lenyap. Adis mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Kakinya sudah akan melangkah ke belakang rumah, bersamaan dengan Davin yang muncul dari sana.
"Udah bangun, Dis," ucap Davin. Adis mengusap tengkuknya salah tingkah. Malu karena bangun sesiang ini.
"Bajunya udah aku jemurin kok. Kamu cuci muka gih. Gosok gigi. Kita sarapan bareng," lanjut Davin. Meski diucapkan dengan nada biasa, tapi itu sukses membuat kedua pipi Adis bersemu merah. Gimana nggak? Seorang Davin mau nyuci baju. Di ember itu kan nggak cuma baju saja. Ada dalaman yang pasti ikut dicuci.
"Ehm ...," gumam Adis. Membalikan tubuh dan buru-buru kabur ke kamar mandi. Jangan sampai deh, Davin tahu dia tersipu malu.
Adis dibuat kaget lagi pagi itu. Kedua matanya menatap meja makan dengan pandangan kagum yang sulit dipercaya.
"Ngapain berdiri di situ? Buruan duduk. Makan," ucap Davin cuek. Di atas meja sudah terhidang dua piring pancake dengan siraman pemanis yang berbeda. Piring Davin berisi pancake dengan siraman madu dan parutan keju tebal, sementara untuk Adis dengan siraman coklat dan potongan cherry.
"Emang di sini delivery order breakfast begini ada?" tanya Adis seraya menarik kursi dan duduk. Davin menaikan alis mendengarnya.
"Kamu pesen dimana?" lanjut Adis makin penasaran.
"Davin bakery," jawab Davin kalem. Mulai memotong pancake dan menyuapnya ke mulut. Adis melongo. Entah akan berapa kali cewek itu bakalan dibuat melongo. Semua kesan pertama yang buruk tentang Davin, perlahan-lahan mulai memudar.
"Are you serious?" Adis menatap lurus-lurus ke arah Davin. Merasa ditatap begitu, Davin sama sekali nggak bergeming. Cowok itu tetap asyik menyantap pancake buatannya sendiri.
Adis menghela napas pelan. Tanpa bertanya-tanya lagi, cewek itu ikut menyantap.
Hening.
Sesekali Adis mencuri pandang ke arah Davin. Banyak hal-hal yang diam-diam Adis pikirkan. Kehidupannya sejauh ini hanya seperti ini. Nggak ada yang banyak berubah. Komunikasi dengan Davin pun hanya di saat-saat tertentu saja.
"Lain kali jangan tidur kemaleman, biar paginya nggak kesiangan," tegur Davin di kunyahan terakhirnya. Adis mengangkat wajahnya. Kunyahannya sesaat terhenti.
"... maaf," lirih Adis nggak enak hati. Davin menatap istrinya itu dalam.
"Tapi, aku nggak keberatan buat gantian nyuci baju. Aku belum bisa beli mesin cuci," ucap Davin. Beranjak dari duduk dan membawa piring kotornya ke wastafel. Mencuci piring itu langsung.
Adis memajukan bibirnya. Antara ikhlas nggak ikhlas, keinginannya punya mesin cuci harus tertahan dulu. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia sendiri menganggur. Satu-satunya pemasukan hanya gaji Davin. Semua orang juga tahu, gaji tentara itu berapa. Hidup di daerah paling timur negara, pastilah harga bahan baku lumayan mahal.
"Dis?" Davin membalikan tubuh. Pinggangnya bersandar pada tepian wastafel. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Adis menoleh ke arah Davin.
"Sabar, ya," lanjut Davin. Adis mendesah pasrah dan menganggukan kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dingin Hati
RomancePernikahan mereka tidak dimulai dari cinta, melainkan dari perjanjian yang dibuat dua keluarga dan satu alasan klasik: "Dia laki-laki baik, nanti juga jatuh cinta." Adis, seorang mahasiswa semester akhir di Magelang, harus belajar menjadi istri dari...
