"Gak usa ketawa." kata orang itu menebak gelagat Cindy yang akan menertawainya.
Cowok tersebut kemudian menurunkan maskernya hingga ke dagu. Ternyata itu adalah Daniel.
"Mau nebeng gak?"
"Aku nunggu disini aja"
"Oke, kalau gitu gue cabut. Hati hati, biasanya disini buat tongkrongan anak geng motor."
Cindy masih mencerna perkataan Daniel barusan. Ia membayangkan jika ia di ganggu oleh anak anak geng motor yang dimaksud Daniel barusan. Ia tidak mau, pasti ia akan mati kutu, bahkan bisa pingsan di tempat.
Seketika suara mesin motor Daniel menyadarkan lamunannya. Ia rasa tidak ada salahnya menerima tebengan Daniel.
"Tunguuu, aku ikuttttt." teriak Cindy yang membuat Daniel mengurungkan niatnya untuk menjalankan motornya.
"Kalau gitu lo bisa basah kuyup. pegang jas hujan gue di atas kepala lo."
Ternyata, di balik sikap Daniel yang sedikit dingin dan menjengkelkan, ada sifat kepedulian yang tersembunyi.
Daniel mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang yang membuat perjalanan terasa nyaman, walaupun sedang di rundung hujan.
5 menit kemudian, hujan pun reda. Daniel meminggirkan motornya di parkiran depan kafe yang menurut Cindy tak asing.
Setelah melipat jas hujannya tadi, Daniel masuk ke dalam kafe tanpa memperdulikan Cindy yang kini sedang mematung.
"Terus aku ngapain?" teriak gadis itu yang membuat Daniel harus membalikan badan.
"Lo jaga in motor gue."
Setelah beberapa menit menunggu, Daniel keluar dari pintu kafe sambil membawa 2 hot cappucino di tangannya. Kemudian ia menyodorkan segelas cappucino tadi kepada Cindy.
"Makasih."
Dengan segera Cindy meneguk cappucino tadi pelan pelan, karena ia sudah merasa haus di tambah udara yang cukup dingin. Ia meneguk cappucino itu dengan keadaan masih berdiri menghadap arah jalanan, sedangkan Daniel duduk di atas motornya.
"Lo cewek apa cowok, minum kok sambil berdiri." kata Daniel membuat Cindy harus memutar badannya.
"Enak sambil berdiri."
Ia rasa juga begitu, cewek gak baik kalo minum sambil berdiri, tapi mau gimana lagi?
Setelah cappucino mereka habis, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Karena jam sudah menunjukan pukul 17.30. Daniel memberikan jaket berwarna biru dongker kepada Cindy, karena udaranya cukup dingin setelah hujan tadi.
"Lo pakek ini. Udaranya dingin."
7 menit kemudian..
Daniel mengehentikan motornya tepat di depan gerbang rumah Cindy. Cindy pun turun dari motor itu dan segera masuk ke dalam. Sebelum itu ia mengucapkan terima kasih kepada Daniel karena sudah mengantarnya pulang, ditambah lagi alamat rumahnya yang membuat Daniel pusing tujuh keliling.
"Sorry, alamatnya emang rada susah hehe. Makasih ya,"
Daniel hanya diam saja, kemudian ia melajukan motornya tanpa pamit kepada Cindy yang membuat Cindy menatap punggung Daniel dengan heran.
Teringat jaket Daniel yang masih ia kenakan, ia lupa tidak memberikannya pada Daniel. Lagian punggung Daniel sudah tidak terlihat lagi. Jadi sia sia jika ia mengejarnya bukan?
🍭🍭🍭
18.00
Setelah Cindy keluar dari kamar mandi dengan menggenakan bathrope berwarna biru sambil menggosok gosok rambutnya dengan handuk kecil, sekarang ia merasa tubuhnya kini kembali segar.
Line
Mendengar bahwa ponselnya bunyi, ia segera membuka line siapa yang masuk.
DanielJr
Tambah | blokir | laporkan
Soal tadi lo gak usah baper. Itu semua cuman ucapan terima kasih gue sekaligus minta maaf ke lo. Gak lebih.
*****
Budayakan vote dan komentar setelah membaca
-ChindyA.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regret
Teen FictionSilahkan kalian membaca kisah tentang Cindy dan Daniel dengan tenang tanpa tekanan :) Cover by @DWK_Graphic
