6. Memories
"Hallo~~~
Aku Jungkook. Aku ingin bercerita tentang cinta pertamaku.
Ng... Sebenarnya aku agak malu, mengingat bagaimana konyolnya aku dulu. Benar-benar payah. Tapi, aku sama sekali tidak menyesal pernah melakukan kekonyolan-kekonyolan itu. Yang aku sesali adalah ketakutanku untuk mengungkapkan perasaanku, hanya karena dia berada satu tingkat di atasku. Seolah semua usaha yang kulakukan tidaklah seberguna itu.
Ugh, lebih baik lupakan bagian menyedihkan itu. Aku akan bercerita bagaimana aku bisa menyukainya.
Pertama kali aku melihatnya, seketika itu pula aku terpesona dengan senyumannya yang bahkan sampai detik ini belum bisa kulupakan. Begitu indah. Sungguh!
Hmmm, diam-diam aku sering memperhatikannya. Di kantin, koridor, lapangan olahraga, juga perpustakaan.
Selain senyumannya, ada satu hal lagi yang membuatku terpesona padanya. Tatapan matanya.
Hari itu aku sedang tergesa-gesa menuju kelas, tanpa sengaja kami nyaris bertubrukan jika masing-masing dari kami tidak bisa menghentikan langkah. Tikungan koridor yang menghubungkan kelas-kelas dari tingkat satu, dua, dan tiga menjadi saksi bagaimana aku terpesona pada tatapan matanya. Aku harus berbangga hati ketika mempersilakannya untuk berjalan lebih dulu. Karena, aku dapat melihat senyum manisnya dan tatapan matanya yang juga tersenyum kepadaku.
Ugh, hanya dengan mengingatnya bisa membuatku tersipu.
Cukup. Itu saja yang ingin kuceritakan. Aku tidak mau bibi berkacamata tahu lebih banyak. Nanti dia akan menggodaku. Huhuhu~"
Kkeut
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Yourself: My Own Way
Fiksi PenggemarCerita ini merupakan ceceran ingatan yang terserak. Tidak lengkap dan janggal. Seperti halnya puzzle yang kehilangan beberapa bagiannya. (Dikemas secara abal oleh pemula yang sedang belajar merangkak. Merupakan proyek menulis yang diniatkan sebagai...
