1. Strange
Pelukan lelaki yang beberapa waktu lalu memperkenalkan diri sebagai ayahnya lah yang menyambut Jungkook di rumah mewah itu. Sementara Jungkook hanya berdiri canggung, tak tahu harus melakukan apa. Selain tidak menyangka bahwa Ayahnya kaya raya, Jungkook juga merasa tak nyaman dengan suasana dingin di sana.
"Kami sudah menunggumu, ayo Ayah akan mengenalkanmu pada Ibu dan Kakakmu," meski ucapan Ayahnya terasa janggal, Jungkook tetap diam sembari mengekor di belakang, berdampingan dengan sopir yang ditugaskan menjemputnya sekaligus membawakan barang-barangnya.
"Kau datang?" suara lembut seorang wanita mengambil alih atensi Jungkook pada lantai yang tampak lebih menarik dibandingkan apa pun. Wanita dengan senyum hangat menghampiri Jungkook dan memeluknya singkat.
"Annyeonghaseo..." cetus Jungkook gugup sambil membungkukkan badan. Bertemu dengan orang baru bukanlah hal mudah untuk Jungkook, terlebih dengan orang-orang yang mengaku sebagai keluarganya. Di mana seharusnya memiliki ikatan emosional dengan dirinya. Alih-alih ikatan emosional, hanya rasa asing yang Jungkook dapatkan.
"Taehyung-ah, lihat adikmu sudah tiba," suara lembut itu kembali mengalun, bersamaan dengan munculnya seorang pemuda seumuran Jungkook. Pemuda dengan tatapan tajam yang tampak mengintimidasi bagi Jungkook.
Saudara? Inikah yang disebut dengan saudara? Orang yang bahkan tidak memiliki hubungan darah, kecuali sebuah kertas legal yang dikeluarkan pemerintah pasca pendaftaran pernikahan Tuan Jeon dengan Nyonya Kim.
Jungkook menghela napas diam-diam. Keputusannya menginjakkan kaki di Seoul sudah menjadi sebuah penyesalan di hari pertamanya tiba. Dia benar-benar ingin berbalik dan segera pulang ke Busan, namun perkataan Kakeknya lagi-lagi menahan Jungkook. 'Kau berhak mendapatkan apa yang seharusnya kau miliki, Kook-ah.'
***
Makan malam pertama di lalui Jungkook dengan tenggorokan tercekat. Tatapan intimidasi Taehyung tidak main-main, bahkan ketika kedua orangtua mereka berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan candaan ringan. Jungkook menghela napas lelah, dia paham kehidupannya di sini tidak akan mudah.
"Jungkook-ah, kau tidak menyukai makananmu?" lagi-lagi suara lembut Nyonya Kim yang kini menjadi Nyonya Jeon mengalihkan perhatian Jungkook. Melihat tatapan cemas Nyonya Jeon, membuat Jungkook mau tak mau tersenyum kecil sembari menggeleng.
"Tidak, aku menyukai makanannya, Ahjumma. Maafkan aku," ucapnya penuh sesal lalu kembali menyantap makan malam meski dengan memaksa tenggorokannya untuk tetap menelan.
***
Jungkook menatapa langit-langit kamar barunya dengan tatapan kosong, meskipun ruangan yang mengusung tema minimalis itu berkali-kali lipat lebih bagus dari kamarnya di Busan. Kalau boleh jujur, Jungkook memang pernah memimpikan dirinya berada dalam sebuah keluarga utuh. Ada Ayah, Ibu, dirinya dan juga satu atau dua orang saudara. Manusia mana yang tidak menginginkan kehidupan ideal seperti itu? Keluarga harmonis dan saudara yang rukun.
Namun, apa yang Jungkook dapatkan sekarang jauh dari bayangannya. Bukan kenyamanan seperti dalam impiannya, melainkan kecanggungan yang entah dapat Jungkook hadapi atau tidak. Seolah-olah ketakutan secara otomatis mengikuti ke manapun Jungkook melangkah di rumah itu.
Bagaimana jika dia sebenarnya tidak diinginkan? Bagaimana jika dirinya tak bisa menyesuaikan diri dengan baik? Dan 'bagaimana jika' yang lain berputar-putar memenuhi kepala Jungkook. Tak membiarkan sedetik pun kepala Jungkook berada dalam kedamaian.
Kkeut.
a/n
ini ending hanya untuk chapter ini ya hehehe
tunggu kelanjutan ceritanya yang belum bisa diprediksi hilal publishnya
see you soon yorobun~ ^_*
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Yourself: My Own Way
FanfictionCerita ini merupakan ceceran ingatan yang terserak. Tidak lengkap dan janggal. Seperti halnya puzzle yang kehilangan beberapa bagiannya. (Dikemas secara abal oleh pemula yang sedang belajar merangkak. Merupakan proyek menulis yang diniatkan sebagai...
