3. Wheelchairs
Bibir mencebik, alis bertaut, dan dahi berkerut. Sementara si pemuda pucat menghela napas lelah, melihat reaksi saudara sepupunya atas berita yang baru saja dia sampaikan.
"Hanya tiga hari, Kook. Setelah itu kau bisa belajar menggunakan kruk," cetus Min Yoongi, pemuda pucat bermata sipit yang notabene adalah kakak sepupu Jungkook, mencoba bersabar.
"Tetap saja, Hyung." Bibir Jungkook semakin mencebik tak suka. Mirip boneka bebek karet di kamar mandi Jungkook.
Keduanya memang sedang tidak berada di rumah, setelah kemarin Jungkook menciderai dirinya sendiri saat bermain skateboard, sehingga berakhir di rumah sakit dengan satu kaki patah dan sebelah tangan terkilir.
"Salahmu sendiri kenapa tidak hati-hati," cibir Yoongi gemas. Pasalnya, Jungkook sejak tadi merajuk tidak mau menggunakan kursi roda. Sementara kondisinya belum memungkinkan untuk dirinya menggunakan kruk.
"Yoongi Hyung!"
Kembali Yoongi menghela napas mendengar lengkingan suara Jungkook.
"Bayangkan saja kau sedang naik perahu seperti waktu kita berlibur dulu, aku yang akan mendayung untukmu. Bagaimana? Hanya beberapa hari," bujuk Yoongi sabar. Mungkin jika situasinya berbeda, Yoongi sudah mengajak Jungkook berduel karena kesal dengan kekeraskepalaan sepupunya itu.
"Ini juga karena kau, Hyung. Gara-gara kau sibuk sendiri dengan tim basketmu itu!" Jungkook menatap Yoongi tajam.
Walau tidak sepenuhnya menyalahkan Hyung pucatnya, Jungkook butuh melampiaskan kekesalannya kepada siapa saja. Dan kebetulan di hadapannya ada Yoongi, si tersangka yang pada hari kejadian melupakan tugasnya menjemput Jungkook.
"Hyung minta maaf karena latihan basket sampai lupa waktu, dan lupa menjemputmu di tempat latihan skateboard. Sebagai gantinya, Hyung akan mendorong kursi rodamu ke manapun kau ingin pergi sampai kau bisa menggunakan kruk," cetus Yoongi seraya mengusak rambut cokelat sepupunya.
"Benarkah?"
Yoongi mengangguk mantap sebagai jawaban.
"Tapi aku gagal ikut pertunjukan bersama dance crew untuk acara akhir tahun, Hyung...." Bibir yang sempat menyunggingkan senyum samar, kembali mencebik.
"Padahal aku sudah berlatih keras!" Imbuhnya dengan raut kecewa tercetak jelas di wajahnya yang masih pucat. Latihannya berminggu-minggu harus rela terbuang sia-sia akibat kekonyolannya sendiri, hanya karena Yoongi Hyung-nya lupa menjemput.
"Dan harus menggunakan kursi roda menyebalkan itu!" Belum sempat Yoongi menyahut, Jungkook sudah menyentak dengan nada tinggi.
"Kau bisa ikut dance crew tahun depan, Kook. Bukankah Taemin sudah memberitahumu saat berkunjung tadi?" Yoongi mendudukkan diri di tepi katil Jungkook, tanpa melepaskan usapan lembutnya di kepala yang lebih muda.
"Tapi, tahun depan aku ingin mencalonkan diri menjadi Ketua Perwakilan Siswa, Hyung," sahut Jungkook merajuk.
Dahi Yoongi berkerut. "Ada apa lagi dengan jabatan itu?"
Jungkook menatap Yoongi bingung. "Hyung, Kau lupa? Tentu saja karena aku ingin mengalahkan Kim Namjoon!" Ucapnya dengan nada menggebu.
Kerutan di dahi Yoongi bertambah. "Kim Namjoon? Nuguya?"
"Ck! Kim Namjoon, Hyung. Ketua Perwakilan Siswa saat ini, aku ingin mengalahkannya," jawab Jungkook tak sabaran. Sekaligus kesal, karena Yoongi walaupun sudah tua--menurut Jungkook--mana bisa melupakan nama Ketua Perwakilan Siswa di sekolah mereka sendiri?
"Pabbo!" Dengan sadis Yoongi menyentil dahi Jungkook yang tertutup poni.
"Ketua Perwakilan Siswa kita bukan Kim Namjoon, tapi Kim Seokjin. Kami berada di kelas yang sama," lanjut Yoongi sambil terkekeh.
Kkeut
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Yourself: My Own Way
FanfictionCerita ini merupakan ceceran ingatan yang terserak. Tidak lengkap dan janggal. Seperti halnya puzzle yang kehilangan beberapa bagiannya. (Dikemas secara abal oleh pemula yang sedang belajar merangkak. Merupakan proyek menulis yang diniatkan sebagai...
