19. Unfamiliar
Tiga hari pasca siuman, Jungkook merasa ada yang janggal. Namun, dia tidak tahu apa tepatnya. Ayah-Ibunya tampak seperti biasa, Junghyun—kakaknya memang terkadang bersikap aneh. Tapi, memang begitulah kakaknya yang sikapnya sulit diprediksi. Semua berjalan seperti biasa. Ah! Kecuali jika ingatan Jungkook yang hilang secara random tidak masuk hitungan janggal.
Sejak membuka mata, Jungkook memang kesulitan mengingat beberapa hal. Bahkan dia tidak mengingat bahwa dirinya menjabat sebagai Ketua Perwakilan Siswa, jika saja kemarin teman-teman satu organisasinya tidak datang menjenguk.
Meskipun sudah bertanya berulang kali kepada kedua orangtuanya dan juga Junghyun, tentang alasan apa yang membuatnya bisa berakhir di rumah sakit, tak ada jawaban pasti yang Jungkook terima. Mereka hanya berkata bahwa Jungkook terjatuh ketika berlatih skateboard, hingga melukai tangan Jungkook cukup parah.
Namun anehnya, Jungkook tak menemukan luka lain di tubuhnya terkecuali luka pada pergelangan tangan kirinya yang hingga kini masih terbalut perban.
Bukankah jika terjatuh saat berlatih skateboard seharusnya ada luka lebam atau lecet? Dan, Jungkook yakin jika kepalanya tidak terbentur suatu apapun yang bisa membuatnya mendadak amnesia. Jungkook sampai berdecak kesal berulang kali kalau mengingat dirinya seolah-olah seperti pemain drama kesukaan kakaknya. Bagaimana bisa dia hilang ingatan hanya karena luka di pergelangan tangan. Heol!
“Hyung, aku tidak mengidap penyakit parah 'kan?” tanya Jungkook suatu ketika.
Junghyun yang tengah menyantap makan siang buatan Ibunya seketika tersedak, lalu menatap adiknya yang berbaring nyaman di ranjang rawatnya dengan mata membulat.
“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, Jungkook-ah?”
Jungkook balas menatap kakaknya lalu berkata dengan nada setengah merajuk, “buktinya aku tak ingat kejadian apa yang membuatku berakhir di sini. Dan harus kau ingat, Hyung. Aku sudah seminggu di sini. Apanya yang terjatuh dari skateboard?”
Helaan napas terdengar dari satu-satunya sofa yang berada di ruangan itu.
“Perlahan-lahan, Jungkook. Suatu saat nanti kau pasti akan memahaminya,” sahut Junghyun kemudian. Kontan membuat Jungkook merotasikan matanya, jemu dengan jawaban semua orang yang malah membuatnya semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kau menyebalkan, Hyung! Bagaimana bisa aku menghadapi teman-temanku di sekolah nanti kalau ingatanku samar? Aku tahu di mana aku sekolah dan di mana kelasku. Tapi... Bahkan aku lupa siapa teman sebangkuku!”
Junghyun hanya terkekeh geli sembari kembali menikmati makan siangnya. Melihat bagaimana Jungkook yang mengomel seperti perempuan menjadi hiburan tersendiri.
Tanpa disadari, semenjak Jungkook siuman beberapa hari lalu ada beberapa sikap Jungkook yang agak berbeda dengan sebelumnya. Tapi Junghyun bersyukur tak ada sikap Jungkook yang berubah buruk, karena remaja yang masih mengoceh di sana tetaplah adik kecilnya.
Kkeut
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Yourself: My Own Way
FanfictionCerita ini merupakan ceceran ingatan yang terserak. Tidak lengkap dan janggal. Seperti halnya puzzle yang kehilangan beberapa bagiannya. (Dikemas secara abal oleh pemula yang sedang belajar merangkak. Merupakan proyek menulis yang diniatkan sebagai...
