17. That Day
(Junghyun PoV)
Semuanya dimulai pada hari itu. Hari yang tak akan pernah bisa kulupakan meskipun ingin. Seolah menjadi pengingat paling menyakitkan dalam hidupku juga Jungkook, adik kecilku.
Hari itu, aku dan Jungkook baru saja pulang dari sekolah sembari bersenda gurau seperti biasa. Terlebih lagi, uri Jungkook terpilih menjadi Ketua Perwakilan Siswa, membuatku tak henti-hentinya menggoda adik kecilku. Kami ingin segera memberi tahu Eomma supaya bisa merayakannya malam nanti. Perayaan yang dimaksud adalah, makan malam bersama seperti biasa hanya saja dengan menu makanan favorit Jungkook. Karena hari itu adalah hari istimewa Jungkook.
Firasat buruk tiba-tiba menghampiriku ketika melihat mobil Appa sudah terparkir di halaman rumah pada jam yang belum waktunya. Mengingat ini masih sore, seharusnya Appa belum pulang dari kantor. Namun, pikiran buruk itu segera kusangkal kala Jungkook terpekik girang mengetahui Appa pulang lebih awal.
Kami bergegas masuk ke rumah, terlebih Jungkook yang ingin menyampaikan kabar bahagia. Namun, apa yang kami temukan di dalam benar-benar mengejutkan, sekaligus menghancurkan kebahagiaan yang tengah Jungkook alami. Kedua orangtua kami bertengkar hebat dengan Eomma yang terus meracau menyalahkan Appa, dan wajah Appa yang selalu kami lihat tampak tenang dan berwibawa seolah berubah sebaliknya.
Tanpa ada niat melerai keduanya, aku menarik tangan Jungkook. Tempat yang seharusnya kami sebut rumah itu seolah lenyap, tepat pada hari itu.
Dan sejak hari itu, aku sama sekali tak pernah melihat Jungkook. Bukan dalam arti sebenarnya, karena secara fisik kami masih berada dalam satu rumah, pun kami masih berangkat dan pulang sekolah bersama. Hanya saja, bukan Jungkook yang sama yang kini ada bersamaku.
Aku tahu, aku maupun Jungkook meminimalisir keberadaan kami di rumah dengan alasan bermacam-macam. Entah tugas sekolah, tugas organisasi, atau kegiatan ekstrakurikuler yang sebelumnya bahkan tak menarik minat. Benar-benar menyibukkan diri hingga ketika sampai di rumah hanya untuk merebahkan diri di atas tempat tidur, dan menanti hari berganti. Menghindari segala topik yang akan membuat kami terluka semakin dalam.
Sejak hari itu, kehangatan sebuah keluarga seolah menjadi hal yang tabu. Kami berjalan pada jalan kami masing-masing, meski sesekali aku dan Jungkook berbincang untuk membunuh sepi di tengah malam akibat insomnia.
Hingga suatu pagi, di mana mimpi burukku menjadi semakin buruk. Pagi itu aku ingin mengajak Jungkook pergi mengunjungi paman kami di Seol, aku berniat meminta bantuan untuk mengurai benang kusut yang tengah melanda keluarga kami. Namun, bukan Jungkook yang sedang bergelung di bawah selimut bergambar mobilnya yang kutemukan. Jungkook-ku, adik kecilku, meregang nyawa karena melukai dirinya sendiri. Aku tahu semalam adalah puncak dari pertengkaran kedua orangtua kami, yang berujung dengan kata cerai keluar dari mulut keduanya. Tapi, aku masih di sini jika Jungkook lelah dan tidak mampu menahan beban pikirannya. Bahkan aku sedang mati-matian mencari solusi terbaik untuk semuanya.
Aku berteriak, mengumpat, dan entah apa lagi yang kulakukan seraya menggendong tubuh lemas Jungkook di punggung. Membawanya secepat mungkin pada bantuan, menyelamatkan satu-satunya alasan mengapa aku masih berada di dunia ini.
Kkeut
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Yourself: My Own Way
FanfictionCerita ini merupakan ceceran ingatan yang terserak. Tidak lengkap dan janggal. Seperti halnya puzzle yang kehilangan beberapa bagiannya. (Dikemas secara abal oleh pemula yang sedang belajar merangkak. Merupakan proyek menulis yang diniatkan sebagai...
