[PP #6] between Rain and Faith

76 6 3
                                        


Sungguh malang nasib Lea hari pertamanya kuliah sudah mendapat kesialan dengan melihat adegan dewasa tadi. Ia tahu umurnya 19 tahun ia sudah cukup diperbolehkan menonton adegan tersebut tapi jujur Lea sampai saat ini bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu. Baginya malah jijik melihat itu.

Tidak punya moral. Begitu pikirnya.

Ia tak bisa membayangkan kedua sejoli tadi berbuat yang lebih nekat. Melanjutkannya dikamar mandi misalnya?

Seharian penuh ia begitu lelah. Kegiatannya hanya berjalan-jalan mengelilingi universitas Galaxi yang besarnya seperti namanya, Galaxi. Benar kampus ini luas sekali hingga para mahasiswanya memakai sepeda untuk mengelilinginya dari tempat satu ke tempat lain. Luas universitas Galaxi adalah seperempat dari luas kota Angkasa. Isinya adalah bangunan pencakar langit, gedung olahraga terbesar dengan fasilitas canggih, perpustakaan dengan buku terlengkap, asrama elit dan sebuah danau besar dengan taman bunga tulip disekelilingnya. Amazing.

Beruntunglah perkenalan pertama Lea hanya mengunjungi tiga tempat.
Pusat universitas, taman dan perpustakaan tempatnya menemui kejadian tadi. Jadi ia tak harus mengorbankan kakinya untuk sekedar jalan-jalan.

Ck.aku mengingatnya kembali, Lea membatin. Bila dianimasikan mungkin sekarang terdapat awan dengan gambaran di perpustakaan tadi di atas kepalanya.

Saatnya pulang dan sekarang Lea menunggu Regan menjemputnya. Berharap pria itu tidak ada urusan kantor hingga lupa pada Lea.

15 menit berlalu.

Lea terus menerus melihat ke arah jam yang ada di ponselnya. Ia sudah bosan menunggu di halte sedari tadi. Wajahnya juga sudah kusam karena debu jalanan yang mulai masuk ke pori-porinya, rambutnya kusut karena keringat dan terlihat tak bersemangat karena perutnya sedari tadi sudah mengeluarkan suara yang mengerikan.

Sebuah pesan masuk di WhatsApp Lea.

Regan leardanan.

Maaf Lea gabisa jemput. Gue ada urusan.

Baru saja Lea akan mengetikkan pesan balasan untuk Regan tapi lihat dari statusnya sepertinya Regan benar benar sibuk sampai mematikan ponselnya.

Aktif sejak 5 menit yang lalu.

Lea menghela nafas panjang. Sepertinya ia tidak akan menjadikan Regan supirnya lagi jika terus-menerus seperti ini.

Dari kejauhan Lea melihat sebuah mobil hitam melaju ia tahu persis siapa yang mengendarai mobil itu. Memakai kaos putih yang dibalut jaket hitam pekat dengan jam yang melilit di pergelangan tangannya.

Itu Faith bukan?

Mobil itu tepat berhenti di depan Lea. Tepatnya disamping trotoar. Mobil yang sama dengan yang kemarin. Masih terlihat kinclong walau tadi sore hujan. Lea menganga melihat mobil Faith berhenti di depannya. Untuk apa?

Faith menurunkan kaca mobilnya hingga batas wajahnya. Membuat Lea mampu melihat wajah Faith yang proporsional. Tapi hari ini ia terlihat lebih kacau dari kemarin. Rambutnya sedikit acak-acakan dan ada noda darah di pojok bibirnya.

Habis berantem mungkin. Batin Lea mengira-ngira.

"Naik" titah Faith dengan nada tak bisa dibantah.

Lea hanya bisa mengangguk dan menurutinya. Entah kenapa tidak ada gejolak dalam hatinya untuk menolak ajakan Faith. Seperti jiwa Lea ada dalam genggaman Faith. Padahal Lea bukan tipikal gadis seperti itu. Lea itu seorang introvert yang enggan bersosialisasi dan memilih menyendiri. Tapi sekarang? Ia malah mau mau saja menerima ajakan orang asing yang ia kenal kemarin dengan senang hati.

PenitiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang