Lea menegang tubuhnya bergetar air matanya turun hebat. sementara itu Kenzo sibuk menghabisi Daren hingga pria itu tersungkur lemas.
Setelah memastikan Daren benar-benar tak berdaya Kenzo berdiri dan menghampiri Lea yang terdiam diguyur hujan deras. Rambut anda seragamnya basah kuyup. Kenzo tahu Lea sedang menangis walaupun hujan dengan baik menutupinya. Ia sungguh kenal gadis ini, ia lemah.
"Lea," panggil Kenzo sambil menggenggam erat tangan Lea.
Lea menatapnya, lalu menggeleng kecil seolah mengatakan 'aku tidak apa-apa'
"Dia yang buat Lo nangis, gue gak akan biarin Daren hidup tenang" ucap Kenzo.
Kenzo menggandeng tangan Lea untuk keluar dari lapangan dan meneduh. Ia tahu tidak ada gunanya karena hujan telah sempurna mengguyur mereka. Tapi disana ada Daren yang membuat mereka muak hingga lebih baik pergi.
Kenzo dan Lea pulang bersama. Ini belum saatnya pulang tapi keadaan Lea yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pelajaran membuat Kenzo harus mengantar gadis itu pulang dengan selamat.
Tiba-tiba terdengar suara kerumunan motor dari arah Utara. Mereka semua berhenti disebuah perempatan. disana sepi karena masih hujan. hanya sedikit orang yang melintas atau mungkin banyak tapi memilih memutar balik arah karena puluhan geng motor sedang menghalangi jalur tersebut.
Lea bergidik ngeri "Kenzo, muter balik aja yah"
Kenzo menggeleng "tenang Lea, gue kenal mereka semua"
Lea tetap tidak akan tenang ia takut mereka itu sekelompok penjahat suruhan Daren untuk menghabisi Kenzo.
Motor Kenzo menepi "Lea Lo turun di sini dulu ya"
Lea dengan segera menggeleng "nggak, Lo mau kemana?"
"Mau nyamperin mereka, suruh buat jangan ngobrol di tengah jalan" celetuk Kenzo walau Lea tahu bukan itu yang akan Kenzo lakukan.
"Kenzo, jangan ladenin mereka. Kita masih bisa lewat jalan lain kan?"
"Pria jantan tidak akan memilih jalan itu Lea" ujar Kenzo berusaha meyakinkan.
"Kenzo, gue takut mereka ngapa-ngapain Lo" ucap Lea khawatir.
"Mereka yang bakalan gue apa-apain Le,"
"Gue ikut"
"Gue gak mau bahayain Lo, tunggu disini"
"Tapi Ken-
"Lea,"
Lea akhirnya mengangguk pasrah lalu turun dari motor Kenzo. Mulutnya komat-kamit tak henti membaca segelintir surat Al Fatihah sampai surat yang ia hafal.
Kenzo melajukan motornya ninjanya dengan kecepatan maksimal hingga Lea hampir terbelak kaget.
Sebuah motor dengan jenis sama berwarna putih dari kejauhan melaju dengan kecepatan yang tak kalah tingginya. Si pengendara tersenyum miring dibalik helm full face nya melihat Kenzo yang terlihat marah. Walaupun tak memakai helm, tidak ada rasa ketakutan dibalik hati Kenzo saat melaju dengan kecepatan ini. Ia malah terlihat datar dan biasa-biasa saja.
Jarak keduanya semakin dekat dari arah yang berlawanan. Kenzo sedikit mengerem karena lawannya mulai mendekat. Tapi si Lawan semakin memperkencang gasnya yang membuat Kenzo bingung. Apa yang dilakukan orang itu?
Motor putih itu menabrak keras motor milik Kenzo dengan sedikit guncangan yang membuat Kenzo terpental beberapa meter dari tempatnya. Motor kedua belah pihak sama sama hancur, tapi si Lawan seolah tidak peduli karena yang terpenting misinya telah usai. Menghabisi Kenzo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peniti
Fantasia[tahap revisi] Pergi ke masa depan bukanlah hal yang pernah terpikirkan oleh Lea, itu terdengar sangat aneh. Satu per satu hidup Lea berubah, masalah muncul yang membuat hidupnya semakin bingung. Tapi lambat laun Lea mulai terbiasa dengan keadaannya...
