Dua Puluh Satu

3.4K 167 14
                                        

“Aaah… terus sayang… uuugh… lebih cepat…”

Aku menggigit bibirku. Pasti James sedang memuaskan dirinya sendiri. Ada perasaan bersalah yang menyelip di hatiku.

“Aahh… Nadine… oooh… ngghh…” Apa yang dibayangkannya saat ini? Diriku yang sedang mengulum penisnya?
“Nghh… ooohh… aaahh… aaah…”

Aku terus mendengarkan. Entah sejak kapan nafasku menjadi berat. Rasanya bagian bawahku basah. Tanpa sadar, aku memejamkan mata dan ikut berfantasi bersama suaranya.

“Aaahh… nghhh… Lobe… oooh… ssshhhh… aaaaaaaarrrghhh…” James memekik. Kurasa ia baru saja orgasme.

Untuk beberapa saat, hening. Kemudian terdengar suara shower dinyalakan. Aku berjalan menuju tempat tidur dan membuka laptop James. Dahiku mengernyit saat melihat folder itu. Pantas saja, dia baru saja melihat film dewasa. Kumatikan benda itu lalu kutaruh di atas meja.

Aku sudah tidur di atas ranjang saat James keluar dari kamar mandi. Entah melihatnya yang toples dengan rambut basah membuat wajahku terasa panas. Ia mengambil kaos di lemari lalu memakainya.

“Kau sudah minum susu?” tanyanya. Aku mengangguk pelan, “S-sudah,” “Sudah minum vitamin?”
“Sudah,”

“Sekarang tidurlah,” ucapnya lembut sambil melempar handuknya ke sofa. Kebiasaan buruknya.

“Mmm, kau juga,”
“Nanti saja, belum ngantuk,” kata James sebelum keluar kamar.

Sudah sejam aku memejamkan mata. Tapi entah mengapa aku tidak bisa tidur. Bayangan James yang ehh… memuaskan dirinya sendiri membuatku merasa bersalah. Aku menggigit bibir bawahku sambil menatap ponselku. Apa dia sudah tidur? Aku sangat ingin mendengar suaranya. Kuusap perutku sambil mendesah pelan. Ada apa denganmu, baby?

Akhirnya kuputuskan untuk meneleponnya.“Halo?” jawabnya pada nada sambung pertama. Dia belum tidur! “Ada apa, nadz? Kau perlu sesuatu?”

Aku menggeleng pelan, “T-tidak…“ jawabku saat sadar dia tidak bisa melihat gelengan kepalaku.

“Lalu?”
“James,”
“Hmm?”
“Kau sudah tidur?”
“Belum, kau?”
“Aku tidak bisa tidur…”
“Kau ingin aku ke sana?”
“Perutku akan mual,” Kudengar ia mendesah pelan. “Maaf…” bisikku.

“Tidak apa-apa, Love. Sekarang tidurlah, sudah malam,”
“Aku masih ingin mendengar suaramu,” bisikku pelan.
“Aku juga,” balasnya ikut berbisik.

Entah mengapa percakapan kami dengan bisikan terasa lebih intim. Seolah dia ada di sebelahku. Kutarik selimut lebih rapat sambil memejamkan mata. “James…” panggilku.

“Hmm?”
“Peluk aku,” bisikku perlahan sambil menelungkupkan muka ke bantal. Hening sejenak. “Aku sudah memelukmu,”
“Benarkah? Kenapa aku tidak merasakannya?” aku mendesah lagi.

“Mmhh… kau merasakan lenganku di pinggangmu? Aku sedang membelai setiap inci kulit indahmu. Bibirku sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu.”

“I-iya,” aku berucap pelan sambil mulai memejamkan mata. Bayangan percumbuan kami di dalam mobil beberapa waktu yang lalu nampak jelas di pelupuk mataku.

“Sekarang bibirku turun ke arah lehermu. Lalu lidahku menyapu-nyapu lembut di sana. Kamu bisa merasakannya, Nadz?” James melanjutkan.

“Mmh… iya, James. Sekarang terasa hangat,” aku semakin tidak sabar menunggu kelanjutannya sambil jemari tanganku mulai membelai-belai leherku sendiri, mengikuti fantasinya.

“Aromamu enak, James… aku jadi ingin menggigit lehermu,” bisik James.

“Kalau begitu, gigitlah…” pelan jemariku mengalir pelan di sepanjang leherku yang jenjang, sesekali berhenti di belakang telinga sebelum akhirnya turun ke arah buah dadaku.

Kamu Yang Aku PilihCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang