Dokter itu mengulurkan sebuah amplop, “Jangan terlalu keras bekerja dan perbanyaklah istirahat. Anda juga tidak boleh stres. Selamat atas kehamilannya,”
“…”
Aku masih terdiam mencerna kalimat Dokter barusan. selamat atas kehamilannya? Maksudnya, aku hamil?
“Nadz, kamu hamil!!” pekik James menyadarkanku.
“Tiga minggu!” sahut dokter itu sambil tersenyum.
“A-apa itu benar?” tanyaku tidak percaya.
James menggenggam erat-erat tanganku, mengguncangnya pelan. “Kau hamil, kau hamil, kau hamil, kau hamil,” bisiknya berkali-kali.
“Dalam amplop itu sudah ada nama dokter yang akan menangani istri anda nanti Tuan James, periksalah rutin dan jagalah istri anda baik-baik,”
“Tentu saja, Dokter. Terima kasih banyak,” James menggenggam erat-erat tangan dokter itu saat kami diantar keluar ruangan olehnya.
“Sama-sama, Tuan.”
“Terima kasih, dokter,” ulang Ferdi lagi.
“Iya, Tuan,”
“Terima kasih banyak,”
“Iya, iya, sebaiknya anda segera pulang dan beritahu keluarga juga,” “Anda benar,” sahut James kemudian berjalan pergi.
Aku hanya menatap datar padanya. Sesenang itukah dia hingga lupa bahwa aku masih ada di sini, di sebelah Dokter? Kenapa dia pergi begitu saja tanpa mengajakku?
“Hei, istriku hamil,” katanya penuh bahagia pada seorang wanita yang berpapasan dengannya.
“Tau nggak, istriku hamil,” katanya pada seorang nenek yang tengah duduk di kursi roda, dituntun oleh seorang gadis. Nenek itu terkekeh sambil mengucapkan selamat.
Begitu seterusnya. Ia mengucapkan hal itu kepada semua orang yang berpapasan dengannya di koridor rumah sakit.
“Suami anda terlihat sangat senang, Nona,” komentar Dokter sambil menatap aneh pada James.
“Menurutku dia terlihat tidak waras,” sahutku “Apa gejala-gejalanya sudah mulai tampak, Dokter?”
“Anda ingin aku jujur?” balas Dokter itu sarkastik.
***
Sudah tidak terasa empat bulan berlalu. Perutku mulai membesar. Kami rutin cek kandungan dan coba tebak bagaimana tingkah James?! Dia seperti nenek-nenek saja. Tidak memperbolehkanku begini, begitu. Sangat menyebalkan.
Dia melarangku bekerja di butik. Oh ayolah, aku baru hamil empat bulan tapi dia bersikeras melarangku bekerja dan hanya mengijinkanku menjadi editor. Itupun harus kulakukan di rumah. Tidak tahukah dia bahwa aku sangat bosaaan?
Selain itu dia akan meneleponku tiap jam dan aku harus melapor kemana aku akan pergi. Tidak memperbolehkanku pergi kemana pun sendirian. Pernah sekali waktu aku pergi ke supermarket karena kehabisan tissue, dan kalian tahu apa yang dia lakukan? Sedetik setelah meneleponku, dia langsung menyusulku ke supermarket tempatku berada. Dia juga meminta Bik Sum, salah satu pembantu di rumah Mama untuk menemaniku selama James bekerja di kantor. Bik Sum baru boleh pulang jika James sudah berada di rumah. Kekanakan sekali bukan?
Bukan itu saja, sekarang dia juga sering memaksaku minum susu untuk ibu hamil. Meskipun itu rasa coklat karena aku memang membenci susu, apalagi yang berwarna putih. Pagi hari, dia akan memaksaku melakukan olah raga ringan dan memaksaku pergi berenang setiap minggu. Sedikit menyebalkan, Tapi aku menyukai dirinya yang seperti itu. Dia selalu mendengarkan nasihat Dokter sungguh-sungguh. Dan bayangkan berapa banyak buku tentang kehamilan yang dia beli. Untukku? Tentu saja bukan, itu untuknya sendiri. Karena aku memang hanya membaca sesekali. Tapi dia selalu membaca setiap detailnya dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh. Kalau dipikir-pikir yang hamil ini aku atau dia sih?
Itu tingkah-tingkah normalnya. Bagaimana dengan tingkah tidak normalnya? Kalian tahu, kamar kami sekarang sudah penuh dengan foto close up wajahnya. Jika ditanya kenapa, dia akan menjawab supaya anak kami nanti setampan dirinya. Dia juga selalu bernyanyi setiap malam sebelum aku tidur. Agar bayi kami mengenali suara Papanya. Oke, yang ini aku menyukainya. Dia memang memiliki suara yang terindah menurutku.Tapi tidakkah kalian merasa rasa percaya dirinya terlalu tinggi?
“Uuuggh…” aku membekap mulutku. Rasanya perutku bergejolak. Kusingkirkan lengan James yang memelukku dan langsung beranjak dari tempat tidur. Berlari menuju kamar mandi dan muntah di sana.
“Love, kau baik-baik saja?” tanya James dengan tampang kusut baru bangun tidur. Ia berjalan sambil mengerjap-ngerjapkan matanya menghampiriku.
Aku tidak menjawab, lalu kurasakan pijatan di tengkukku. Tapi mengapa perutku terasa semakin mual?!
“Kuambilkan air sebentar,” katanya lalu pergi.
Aku membasuh mulutku dengan air kran. Rasanya lebih baik sekarang. Tidak lama kemudian, James datang membawa segelas air hangat. Baru saja aku mengambil gelas itu dari tangannya, perutku sudah mual lagi. Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Menghempaskan diriku di sofa. Rasanya lebih baik sekarang. Kusesap air hangat yang diambilkan James tadi.
“Sudah lebih baik?” tanya James sambil berjalan menghampiriku. Ia menjatuhkan dirinya di sebelahku.
Aku menutup mulutku. Kuberikan gelas itu pada James lalu beranjak dari dudukku.
Kubuka jendela kamar, merasakan sejuknya angin yang berhembus. Mengapa setiap James berada di dekatku, aku merasa mual?
“Aku pulang!!”
Kudengar teriakan James dari arah pintu. Aku yang sedang memasak di dapur bersama Bik Sum menoleh ke arah pintu. Laki-laki itu sedang berjalan menghampiriku.
“Berhenti di situ, James!! Jangan mendekatiku, aku mual jika berada di dekatmu!!”
James menghela nafas dengan tatapan yang begitu memelas “Ini sudah seminggu lebih, Nadz,” desahnya.
Aku menggaruk tengkukku. “Mau bagaimana lagi, aku selalu muntah-muntah kalau kau di dekatku,”
“Ah, terserah deh!” dengus James kesal sambil keluar dari dapur. Bik Sum terkikik pelan, “Dia pasti sangat kesal,”
Doa kalian terkabul jadinesssss...
Kalian akan menjadi tita dan tito 🤗🤗🤗🤗
Sedih nya adalah ketika james dekat dengan nadine malah membuat nya mual😂😂
Terpaksa james harus puasa dulu.. sabar ya james..
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu Yang Aku Pilih
RomanceCover by @sheliawati (PRIVATE) NADINE POV Cerita mengandung unsur cerita 20+++++ Part 2 sampai seterusnya akan aku private... Jadi follow dari terlebih dahulu jika ingin melanjutkan membaca???????????? Diharapkan bijak dalam membaca???????? Tokoh =...
