Dua Puluh tiga

3.6K 184 19
                                        

“Love…” aku memelas kepadanya.
James mengacak-acak rambutnya. “Bagaimana kalau aku saja?” tanyanya. Aku menggeleng tegas.

“Ayolah… lagipula belum tentu Simon akan bersedia melakukannya…”

“Dia mau melakukan apapun untukku!!”

“Tapi… tapi menampar wajahnya… Ahh, kenapa kau harus ingin menampar wajahnya?? Dia tidak akan mau, love, itu akan sangat memalukan untuknya!!”

“Aku pernah menyuruhnya jalan mundur di kampus dan dia melakukannya dengan senang hati, itu lebih memalukan untuknya,”

“Dia… dia bersedia?” tanya James tidak percaya.

Aku mengangguk lagi.

“Tidak boleh!!” tegasnya sambil melipat tangan di depan dada.

“Ayolah… aku hanya ingin menampar pipinya itu…”

“Bagaimana kalau pipiku saja?” tawarnya sambil mendekatkan wajahnya kepadaku.

Aku mengecup pipinya kilat lalu tertawa. “Aku mau Simon!!”
“Nadz…” mohonnya.
“Aku tidak ingin kau menyentuh laki-laki lain… dan, dan kenapa dia mau melakukannya untukmu?”

Aku tertegun sejenak. Astaga… Jadi dia sedang cemburu eh?! Karena Simon mau melakukan apa saja untukku?!

“Telepon Simon sekarang!! Kalau kau mencintaiku, seharusnya kau juga mau melakukan apapun untukku!!” dengusku sambil memalingkan wajah.

James menghela nafas pasrah. Ia meraih telepon yang ada di meja sudut sofa. Dengan tidak rela, dihubunginya Simon. Aku tahu dia pasti kesal setengah mati.

“Ini aku!!” katanya datar saat telepon tersambung. “Dia…” ia melirikku sekilas.
“Dia baik-baik saja dan dia sedang hamil tujuh bulan lebih sekarang!! Bisa kau ke rumah kami? Apa? Australia?!”

Aku mengerutkan kening mendengar hal itu, apalagi tiba-tiba James tersenyum lebar. Kurebut telepon dari genggamannya. “Simon, ini aku…”

“Nadine, apa kabar?” Aku tertawa kecil mendengarnya.
“James bilang kau sedang hamil, apa itu benar?”
“Iya, kemana saja kau? Setelah lulus kuliah tidak mengabariku sama sekali!!”
“Maafkan aku… aku ada di Australia sekarang,”
“Untuk apa kau di sana?” tanyaku cepat.
“Itu… emm… sebenarnya aku… aku sudah pacaran dengan Yuki,”
“Yuki?” keningku berkerut.
“Yukita Hishano, artis yang dulu bersama kita di pulau Bali, yang bersama James”
“Ah, Aku tahu. Jadi kau sekarang ada di Australia?”
“Begitulah… Yuki ada pemotretan disini.”
“Kapan kau akan kembali?”
“Mungkin minggu depan, memangnya kenapa?”
“Aku ingin sekali menampar wajahmu… Bisakah kau pulang sekarang?” rengekku.
“Menampar wajahku? Harus sekarang?” tanyanya bodoh.
“Iya, sekaraaang…”

“Baiklah, aku berangkat ke bandara sekarang juga, mungkin tiga jam lagi aku sampai,”

Aku tersenyum lebar. “Kau yang terbaik!!!” Kututup teleponku sambil tertawa lebar. “James”

Cegluuuk… Aku menelan ludah saat menoleh ke arahnya. Dia melipat tangan di depan dada sambil menatapku tajam. “Apa katanya?” tanyanya dingin.

“Di-dia… pulang ke Indonesia sekarang juga,” jawabku pelan. Tiba-tiba saja aku merasa sangat takut.

James mengangguk pelan lalu menonton tv. Well, mengacuhkanku.

***

Aku melirik James yang masih berkencan dengan laptopnya. Kuhela nafas sambil menatap laptopku kembali. Dia masih tidak mau bicara kepadaku. Memikirkan hal itu membuatku sedikit sesak. Kuelus perutku pelan. Ini kan bukan keinginanku juga.

Kamu Yang Aku PilihCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang