"Mau gue bikinin apa?" tanya Aluna seraya melihat-lihat lemari esnya yang di penuhi buah-buahan dan sayur mayur serta ada cheese cake milik Bundanya. Es krim coklat milik Frans, kakaknya.
"Nasi goreng aja, Al. Gue mau nyobain bikinan lo, enak atau nggak?" ucap Aurel.
"Yeh, remehin gue. Kalo nasi goreng terus kenapa lo buka kulkas gue?"
"Itu ada es krim, gue mau. Boleh gak, Al? Boleh, ya, ya, ya?"
"Punya kakak gue sih, tapi ambil aja gak papa kok, paling entar dia teriak-teriak kayak gorilla."
"Ha-ha, bisa aja lo, Al." ucap Marsella menyenggol lengan Aluna.
"Emang dia gitu sih, tapi gak papa makan aja."
"Gak papa?" tanya Aurel meyakinkan.
Aluna mendesah malas. "Iya calon pacarnya Dhimas!"
Aurel yang mendengar itu sontak memukul pelan lengan Aluna, Aluna meringis. "Aduh, ih sakit tau!"
"Makanya jangan ngomong sembarangan!"
Marsella pun ikut nimbrung. "Emang bener 'kan? Hayo, ngaku aja deh. Lo sering chat-an 'kan sama Dhimas?"
"Hayo, ya 'kan?"
Kini Aurel seperti di tuduh maling. Otaknya tiba-tiba blank tidak bisa mencari jawaban untuk menjawab dua sahabatnya itu. Dengan berat hati dia harus jawab jujur.
"Kalo 'iya' emang kenapa? Lo cemburu, Sel?" jawab Aurel lalu menanyakan balik ke Marsella.
"Gue gak cemburu, justru pengen comblangin lo lagi sama Dhimas, ha-ha." Marsella tertawa pelan.
"Ah apaan sih?" secara tidak sengaja pipi Aurel bersemu. Marsella dan Aluna yang melihat pipi Aurel hanya terkekeh.
"Cie, pipinya merah."
"Kalo suka ngaku aja deh, Rel."
"Gue gak suka sama Dhimas." jawab Aurel dengan suara lebih tinggi agar tidak ketahuan kalau ia tambah bersemu.
Aurel merasakan pipinya sangat panas. Panas asmara mungkin (?)
Aluna menepuk pelan bahu Aurel. "Nih ya Rel, menurut buku yang gue baca. Orang yang gak suka itu gak pernah ngomong pake nama yang dia gak suka. Nih misalnya lo, kalo lo gak suka lo ngomong gak pake gini 'Gue gak suka sama Dhimas.' nah 'kan? Lo nyebut nama Dhimas. Berarti di otak lo ada nama Dhimas disana, orang suka tuh gak bisa ngaku kalo pasangannya belom frontal ke pasangannya. Gitu, lo paham gak?"
"Jadi kalo Dhimas frontal Aurel bakal ngakuin gitu?" tanya Marsella.
Aluna mengangguk.
"Oke-oke gue paham." kata Marsella.
"Gue ngomongnya ke Aurel, tapi kalo lo paham bagus deh gak usah gue jelasin dua kali. Capek ngomong kayak gitu doang, ha-ha." Aluna membuka lemari esnya dan mengambil botol kecil berisi air putih. Kemudian membuka dan meminumnya.
Aluna berdeham. "Jadi, lo paham gak maksud gue?" Aluna menatap Aurel yang dari tadi masih mikir.
"Rel, paham gak?" tanya Aluna lagi.
"Rel?" panggil Aluna lebih meninggi suaranya.
Aurel seperti gelagapan. "Hah, kenapa?"
"Mikirin Dhimas, ya? Dhimas mah jangan di pikirin tapi di sayangin." ucap Marsella menggoda.
"Nah iya tuh."
"Ih, udah-udah. Oke gue jujur tapi sama kalian doang, ya? Gue malu kalo ngomong langsung."
"Gengsi itu mah."

KAMU SEDANG MEMBACA
[1] Introvert
Teen FictionSeorang gadis nan cantik bernama Aluna Sabna Jasmine, mempunyai kekasih. Kekasih pertamanya di SMA, dan kekasih pertama seumur hidupnya. Semudahnya menyukai maupun mencintai seseorang, tetapi tidak semudah melupakannya. Keputusan yang membu...