[21] : Sahabat

1.3K 59 2
                                    

KRING!

Bunyi bel istirahat sudah berbunyi. Tetapi kaki Gevaro enggan berjalan ke kantin, ia malah memilih untuk mengambil ponsel yang ada disakunya lalu memainkannya. Walaupun hanya men-scroll. Setidaknya nanti kalau ada yang bertanya, Gevaro mempunyai alasan kalau ia sedang bermain ponsel.

Suara segerombolan anak laki-laki terdengar di lorong XI IPA-2. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka bubar dan bersalaman ala laki-laki. Asad melambaikan tangan singkat, dan berbalik badan, kakinya melangkah memasuki kelas IPA-2 yang cukup sepi. Ia mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan. Hanya ada-Bunga, Cintya, Imelda yang asik bergosip ria. Dan Gevar- tunggu, apa ia tidak ke kantin untuk jajan. Atau sekedar duduk manis?

Asad pun menghampiri Gevaro lalu menepuk pundak cowok itu yang sedang menunduk menatap ponsel. Ia pun tanpa izin duduk di bangku sebelah Gevaro, yang memang itu bangku yang Asad tempatkan selama di kelas IPA-2.

Asad pun membuka obrolan, walaupun kelihatannya Gevaro masih serius menatap ponselnya, mungkin tidak menghiraukan siapa yang menepuk pundaknya itu, yang terpenting ia sekarang menatap layar ponselnya. Walaupun hanya men-scroll saja.

Asad berdeham membuka obrolan. "Hem, bro, gue denger-denger. Lo balikan lagi sama, Aluna." Tanya Asad, sahabat Gevaro.

Gevaro berdehan, tidak berminat menengok ke sahabatnya. Matanya masih tertuju ke bawah menatap layar ponsel yang ia scroll sejak tadi.

"Dih, gue nanya kali. Sebagai orang yang baik harus jawab dong!"

Gevaro menengok dengan wajah datarnya. "YA!" Lalu kembali menatap ponselnya.

"Oh gitu..." Ucap Asad mulutnya membentuk huruf 'O'. Asad pun memikirkan kata-kata yang akan ia tanyakan kepada Gevaro. "Wei, Bro. Udah lama kita nggak ngobrol. Lo udah lama jadi pendiem. Semenjak bokap lo meninggal lo jadi pendie-"

Gevaro menengok dengan wajah datarnya. "Shut up!" Kemudian ia menghela napas. Ia mematikan ponselnya dan menaruh di atas meja. Lalu tangannya menopang dahinya, ia mencoba menutup matanya. Sungguh, kepalanya tiba-tiba pusing mendengar. Bokap lo meninggal.

Tangannya memijat keningnya yang terasa pening. Gevaro mengendalikan emosinya mencoba tidak berontak dan
marah.

"Lo jangan pernah sebut itu! Gue masih belum bisa lupain.." Gevaro mati-matian menahan amarahnya.

"Gue harap tadi terakhir kalinya lo bahas itu!" ucap Gevaro yang terdengar mengancam.

Asad menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal."Sori... Gue lupa kalo itu lo nggak suka disebut lagi." berakhir kekehan kecil.

"Gue lupa kalo lo-"

Gevaro kembali menatapnya dengan tajam, dan membenarkan posisi duduknya agar nyaman. Matanya lurus menatap papan tulis.

"Oke, oke... Gue berenti bahas itu. Asal lo tau, gue cuma mau cari topik pembicaraan. Oke, balik ke awal. Gue mau nanya serius dan lo harus serius jawab pertanyaan gue."

Gevaro berdeham.

"Tuh, kan. Beloman ngomong aja lo nggak anggep gue ngomong! WOY!" Asad geram, tangannya menguncang-guncang bahu Gevaro.

"Yaaa, lo kok jadi cerewet gini dah?!" Gevaro melepaskan tangan Asad yang bertengger di bahunya. Dengan ngeri Gevaro menatap Asad dari bahu hingga ujung rambut. "Atau, jangan-jangan... Lo sekarang.. Gay? Sumpah, kalo itu beneran. Sekarang lo pindah, jangan duduk sama gue! Sana, sana.. Hush-hush! Gue jijik sum-"

Asad berdiri dengan wajah heran dan berkacak pinggang. "HEH! Emang biasanya gue gimana? Gue gini, kan? GUE ENGGAK GAY!"

Tangan kanannya mengulur lalu memulir telinga kanan Gevaro. "Ini nih yang cocok, biar lo diem!" tangan kirinya tetap berkacak pinggang.

Gevaro sedikit teriak, tangannya mencoba melepaskan puliran keras dari Asad. Tetapi tidak bisa. "Woi, kok malah gue yang dijewer? Lo emak gue, hah? Cepetan lepasin. Nanti ada gosip yang nggak-nggak tentang kita."

Asad berdecih, lalu kembali mengeraskan pulirannya dan mendapat ringisan dari Gevaro. "Gosip?! Kita? Dih, ogah. Lo aja kali.." Asad bergedik geli.

Tangannya melepaskan puliran di telinga Gevaro, dan kedua tangannya berkacak pinggang lagi.

Asad menatap kesal tepat di bola mata Gevaro, begitu juga sebaliknya. Gevaro menatap kesal tepat di bola mata Asad. Kalau di pikir-pikir, mereka seperti layaknya anak kecil. Kadang berantem, kadang akur, dan terkadang kayak gini.

"HEH, KALIAN NGAPAIN SIH?! BERISIK BANGET.. NGGAK TAU KALO KITA LAGI STALKER COGAN APA? Ini lagi Asad. Udah kayak ibu kost yang lagi nagih sewaan!" ucap Bunga berteriak, tangannya berkacak pinggang.

Asad dan Gevaro spontan menengok melihat Bunga yang sedang berkacak pinggang.

"Tau nih, ganggu orang lagi stalker cowok ganteng!" sahut Cintya, dengan wajah kesal.

"Emang kita tadi ngapain sih? Kok- ehm.. Apa tuh, stalker? Stalker cog-"

Bunga melotot ke arah Imel. "Imeeldaaaa! Ih, lo ngeselin banget, sih?" marah Bunga kepada Imel. Imel hanya menggaruk pipinya yang tiba-tiba terasa gatal.

"Tadi kenapa lo nggak peringatin dia untuk nggak nimbrung?" bisik Bunga ditelinga Cintya. Cintya membalas dengan mulut mengarah ke telinga Bunga.

"Sori, gue lupa." Cintya menyegir. Bunga pasrah, ia hanya mengangguk.

Gevaro dan Asad melipat kedua tangannya didepan dada. "Udah, dramanya?" tanya mereka berdua dengan wajah datar yang dibuat-buat.

Bunga dan Cintya kembali mengarahkan matanya ke Asad dan Gevaro. "Hah, Drama? Nggak salah? Lo pada kali yang drama." jawab Bunga lalu melirik Cintya yang berkacak pinggang ke arah Gevaro.

"Tau nih, emang bener, ya. Debang mah, selalu kompak." Bunga dan Cintya saling menatap. "Hahahahaha.."

Asad melongo. Telunjuknya terulur didepan bibirnya. "Heh, heh, heh! Ssttttt.. kok lo pada songong?" Gevaro menepuk lengan Asad pelan.

"Lo, lupa? Mereka emang songong dari lahir, BAHAHAHA." Keduanya tertawa lepas.

Hingga Bunga melotot tidak terima dan langsung meruntuk. "Aduuhh, apa-apaan sih lo pada? Kok ngebacot? Ngeselin banget sih."

"Lo yang duluan, wle." Asad menjulurkan lidahnya.

"Yeh, kampret."

*****

A/n:

Abaikan cerita absurd dan receh ini, BEHAHAHA.

Aku suka malu kalo temen sekelas baca cerita aku yang receh ini WEKAKA.
HAPPY 1K READERS🐷💩

Salam,

Ratu minyak.

SILENT READERS = BISULAN.

[1] IntrovertTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang