***
"Masih."
Gevaro menengok, dan perkiraannya salah. Mungkin Aluna masih mencintainya, tapi ternyata tidak. Ia terlalu percaya diri, bahwa Aluna masih mencintainya. Mungkin masih, tetapi, Tuhan dan hati Aluna saja yang tahu.
Aluna ditanya oleh abang penjaga bianglala. Ia ingin naik, lagi atau tidak. Tadilah jawaban Aluna.
Gevaro mengira, kalau Aluna sangat mencintainya. Dan bisa mendengar suara hatinya. Ternyata tidak.
"Lun, turun aja deh. Udah malem, gue mau anter lo pulang." ucap Gevaro.
Aluna mengangguk pelan.
"Bang, saya mau turun aja deh."
🎡
Gevaro yang seharusnya membelokan motornya malah mengegas lurus kedepan.
Aluna mengernyit. "Lho, kok lurus? Rumah gue harusnya belok. Lo lupa, ya?"
Gevaro menggeleng kuat. "Gue masih inget. Mau ketaman dulu, lo temenin gue ya." ucapnya terdengar samar-samar dibalik helm.
Suasana malam dikompleks Aluna sangat sepi, apalagi taman. Hanya Aluna dan Gevaro yang berada disitu, berjalan kearah bangku taman.
"Duduk, Lun."
Aluna hanya mengangguk sebagai tanggapan.
Mereka duduk saling menatap langit dan bintang-bintang dimalam hari yang cukup dingin.
"Lun?"
"Hm?" Aluna menoleh menatap wajah Gevaro dari samping.
"Coba liat, langit diatas sana. Dan, liat bintang-bintang sekelilingnya."
Aluna kembali menghadapkan kepalanya kelangit diatas sana. Menatap bintang-bintang yang menemaninya.
Gevaro menunduk, mencoba merelaks, perlahan-lahan ia mengontrol napasnya. Dan kembali mendongak.
"Bisa ngitung bintang-bintangnya gak?" tanya Gevaro sambil menatap Aluna.
Aluna menggeleng, dan menyerucutkan bibir merah mudanya itu.
Gevaro meraih kedua tangan Aluna yang tadi diatas paha Aluna. Aluna terkejut, baru kali ini lagi Gevaro bersikap seromantis itu. Aluna takut melamun kelebihan dan ia menggeleng.
"Ngapain?" tanya Aluna sok polos.
Tangan Gevaro terus menggenggam erat tangan Aluna diatas pangkuan Gevaro.
Sejak tadi Gevaro terus memperhatikan tangannya yang memegang erat tangan Aluna.
Gevaro berpikir sejenak, dan mengontrol napasnya.
Gevaro mendongak dan menatap dalam mata Aluna. "Al?"
Bulu kuduk Aluna seketika merinding.
"Lo tau panggilan, Al, 'kan?" tanya Gevaro bertampang serius.
Aluna mengangguk gugup.
Gevaro terasa gugup sekarang, dan mencoba menutup matanya, lalu mengontrol napasnya lagi.
Gevaro membuka matanya dan mencoba pasrah apa jawaban Aluna nanti.
"Al," Gevaro mengeratkan lagi genggaman tangannya. "Apapun keputusan lo entar. Jangan pernah jauhin gue, ya?"
Bulu kuduk Aluna kembali merinding, seperti sedang lagi sakit meriang.
Aluna mengangguk. Tetapi mulutnya masih terkatup rapat, ia tidak sanggup menjawab, hanya sanggup memberi jawaban isyarat saja.
Gevaro mendesah. "Gue.."
"Gue.."
"Gue..."
Gevaro berdecik, sambil menggigit bibir atasnya.
Ia sangat kesal, padahal ia sudah matang menyiapkan kata-kata itu semua. Tetapi kenapa, saat sudah didepan mata, malah jadi lupa semua kalimat itu.
Gevaro menghela napas kasar. "Gue masih cinta sama lo."
Satu kalimat, lima kata. Cukup membuat hati Aluna ingin loncat dari tempatnya.
Tiba-tiba Aluna merasa kehabisan napasnya, dan terbatuk.
UHUK.. UHUK..
Gevaro langsung menepuk pelan bahu Aluna.
"Gak papa Gev. Gue shock aja." ucap Aluna sambil menyingkirkan tangan Gevaro dibahunya.
"Sori. Bikin lo shock." balas Gevaro dengan wajah bersalah.
Gagal.
Satu kata yang terucap didalam hati Gevaro. Tetapi berbeda dengan suara hati Aluna.
Didalam hati Aluna yang paling dalam, ia tersenyum gembira. Hati kecilnya pun tersenyum senang. Bahwa, selama ini bukan ia saja yang masih mencintai Gevaro. Tetapi orang yang Aluna cintai juga masih mencintai Aluna.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada badai. Dan apapun itu. Tiba-tiba Aluna mengangguk sambil senyum-senyum.
Gevaro yang melihat Aluna sekarang terbingung.
"Maksudnya?"
"Iya gue mau." Lagi.
*****
SILENT READERS = BISULAN

KAMU SEDANG MEMBACA
[1] Introvert
Teen FictionSeorang gadis nan cantik bernama Aluna Sabna Jasmine, mempunyai kekasih. Kekasih pertamanya di SMA, dan kekasih pertama seumur hidupnya. Semudahnya menyukai maupun mencintai seseorang, tetapi tidak semudah melupakannya. Keputusan yang membu...