[22] : Manusia terkutuk

1.1K 82 12
                                    


"ASAAD! PLEASE BALIKIN SEPATU GUE! WOY KESEET!" teriak Marsella dari teras Mushalla sekolah.

Aluna yang tadinya sedang melipat mukena kini kakinya membawanya menghampiri Marsella yang sedang kebingungan, celingak-celinguk ke kanan–kiri.

"Marsella! Apaan sih? Kenapa teriak-teriak? Berisik tau, lagi pada sholat. Kenapa sih, kenapa?" tanya Aluna mencoba tidak marah.

Marsella melirik Aluna, mulutnya tidak berhenti mencibir. "Sepatu gue, Lun. Sepatu gue, diambil sama Asad! Ih ngeselin banget," ucap Marsella greget. Tangannya terus mengepal, ingin sekali menonjok cowok sialan itu. Tetapi sepatunya malah di bawa kabur.

Aluna mengernyitkan dahinya. "Sepatu, sepatu doang? Heh, lo kan bawa sandal. Pake aja sandal lo. Kejar sekarang, bege. Keburu jauh!" kini Aluna malah yang greget. 

Marsella menepuk dahinya. "Oh iya, bege. Gue lupa, hehehe..." Marsella menyengir.

Kemudian langsung berlari menghampiri rak sepatu. Dan berlari secepat mungkin mengejar Asad yang mengumpat entah dimana. Ya, walaupun agak susah berlari tetapi pakai rok, agar tidak jatuh ia menaikkan rok panjangnya.

Introvert✨

Gevaro mengacak rambut basahnya, ia melihat dirinya sendiri di pantulan kaca toilet cowok.

Sangat pucat, bibirnya yang tadi merah muda kini jadi pucat pasi. Kantong matanya berubah menjadi agak kehitaman, serta dahinya yang terus–terusan mengkerut.

Gevaro tidak tahu mengapa dirinya semalam menangis, menangisi dirinya sendiri. Mungkin lagi kurang enak badan, fikirnya.

Tetapi, telinga ia masih terngiang-ngiang ucapan Asad kemarin.

BRAK!

Lamunan Gevaro terhenti saat mendengar bunyi pintu toilet cowok yang terbanting. Gevaro menengok kebelakang dan ternyata sahabatnya, si cowok jahil.

Siapa lagi kalau bukan, Asad?

"Heh, lo ngapain sih?" tanya Gevaro, sambil menatap tajam Asad yang sedang bersender di tembok dengan wajah yang berkeringat, hidung yang berkembang-kempis, serta tangan kirinya memegang sebuah sepatu berwarna abu-abu.

Sepatu? Sepatu siapa?

Baru saja Gevaro hendak menanyakan Asad soal; Sepatu siapa yang lo ambil?

Tetapi dengan cepat, Asad mengangkat tangan kirinya yang memegang sepatu. "Stop! Huh—huh—huh... Haduh, dada gue sesek." ucap Asad sambil menyentuh dadanya lagi.

"Tarik napas....... Buang—huuh.." ucap Gevaro menahan tawanya ia meledek Asad.

Asad melirik Gevaro yang sedang menutup mulutnya. "Kenapa, lo?" tanya Asad, bokongnya setengah menungging. "Mau gue cipok? Eits, sorry... Gue masih doyan sama cewek."

"BAHAHAHAHA... NGAKAK SUMPAH!!!" tawa Gevaro dengan terbahak-bahak.

Asad mengernyit. Dan menegakkan badannya, "Lo lagi sinting, ya?" Asad melangkah mendekati Gevaro dan menyentuh kening Gevaro. Asad mengedik bahunya. "Aih, nggak panas tuh. Astaga, ternyata lo beneran stress! Gue harus bilang ini ke Aluna, titik!"

Gevaro perlahan tersadar dan menatap horror Asad. "Heh, apa-apaan tuh? Ngadu nggak jelas segala. Betewe, Bay the way busway.." Gevaro berdeham menetralkan suara seraknya.

"Halah... Gaya lo, pake sok-sok an alay gitu."

"Kenapa, mas? Sirik ya, hehe. Biasanya sirik tanda tak mampu. Tak mampu mendapatkan pacar, BAHAHA." Lagi-lagi Gevaro meledek Asad.

Muka Asad sudah merah. Ingin sekali membabak belur 'kan Gevaro. Tetapi sayangnya Gevaro sahabatnya.

"Seh, seh.. Muka merah udah kayak nahan berak!" Asad langsung menoyor kepala Gevaro pelan.

"Somplak! Gue kesel sama lu! Andai lu musuh gue. Gue udah bonyokin tuh muka lu yang lumayan ganteng." ucap Asad, sok memelaskan matanya.

"ASAAAD!! DIMANA LO?! KELUAR PEA! SEPATU GUE MANAA? ASAAAAD!" teriak Marsella dari koridor toilet.

Asad langsung menengok kebelakang, dan melirik sepatu abu-abu milik Marsella di tangannya.

Gevaro mengernyit. "Ini cara lo dapetin Marsella?" Gevaro menoyor kepala Asad. "Bego! Bukan gini maksud gue... Jangan bikin dia marah juga! Ah lo mah nggak bisa di ajak kompromi!"

Asad menoleh, ia mengelus kepalanya yang di toyor oleh Gevaro. "Si babang! Nggak usah noyor gue jugaa.. Kocak lu ah." Asad berpikir sebentar. "Terus? Gue harus gimana?"

*****

A/n:

Ada yang kepo nggak? Asad mau berbuat apa ke Marsella? Hayo-hayo?
Maap ya, aku receh terus. Endingnya dikit lagi kok, beberapa part lagi.

Gaaaays😢 masa chapter prolog yang baca udah banyak banget. Tapi yang vote? Dikit banget sumpah! Oh iyaaa.

GIMANA KALO DI CHAPTER INI TEMBUS 100+ VOTE AKU BIKIN CHAP CHARACTER?

Mustahil banget sih ya, tapi di dunia ini nggak ada yang mustahil kok😂

[1] IntrovertTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang