Kang mas jualan cilok yakkk 😆
Mitha POV
Aku melongok keluar dari pintu kamar mandi, menajamkan indera pendengaranku. Mencari tahu keberadaan Jaka, sepertinya pengawal pribadi ku itu sudah benar-benar tidak ada di apartment ku.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi. Membuka lemari pakaianku, mengambil pakaian dalam, kaus, celana pendek secara random dan langsung memakainya tanpa memperdulikan apakah warna pakaian yang aku kenakan matching atau tidak, aku tidak terlalu peduli.
Dengan pelan tanganku bergerak mengeringkan rambut basahku memakai hand towel, berjalan ke arah ranjang dan terpaku melihat gelas kosong bekas susu yang habis aku minum.
Jaka.
Pengawal pribadi ku itu.
Aku tersenyum kecut lalu duduk di tepian ranjang, tanganku berhenti mengusap kepalaku.
Mencoba mengingat kejadian sesudah aku menegak 3 sachet tolak angin yang menyebabkan kepalaku pusing.
Bagaimana bisa Jaka berada di apartmentku?
Apa benar perkataannya tadi yang bilang aku muntah, ambruk di depan pintu, terus bagaimana bisa dia ada di saat aku ambruk, tadi siang kan....
Aku memijit pangkal hidungku.
Kepalaku masih pusing, minum 3 sachet benar-benar membuatku melayang.
Menangis dan menumpahkan banyak air mata belum bisa membuatku merasa ringan dan lega, satu-satunya jalan yang aku pikirkan hanyalah mabuk.
Ketika mobilku keluar dari parkiran basement niatanku ingin pergi ke cafe yang menyediakan minuman beralkohol, tapi mikirnya kalau sendirian terus aku nya mabuk, siapa yang mau nolongin?
Menelpon Puput untuk menemaniku?
Bencana.
Yang ada Puput malah mabuknya lebih parah dari aku. Aku mendengus mengingat riwayat Puput di kala dirinya mabuk, Puput itu mabuknya reseh dan bikin keributan, dia kalau mabuk bisa nabokin orang.
Yang satu kalau mabuk cepat pingsan atau tertidur, yang satu kalau mabuk nabokin orang. Terus siapa yang akan nolongin kami berdua kalau kami sama-sama mabuk?
Akhirnya aku mengambil keputusan lebih baik kembali ke apartment, tidur, mungkin pusing di kepalaku akan hilang setelah aku tidur beberapa jam.
Tapi begitu sampai di gerbang apartment, aku malah berhenti di sebuah mart, untuk membeli tolak angin.
Kenapa beli tolak angin bukannya minuman alkohol?
Entah kenapa aku bisa mabuk karena minum tolak angin, hal yang sangat mustahil terjadi bagi kebanyakan orang lain, tapi itu terjadi pada diriku.
Mending mabuk di apartment lebih aman.
Tapi tanpa sadar aku telah menegak habis 2 sachet di dalam lift dan 1 lagi ketika berada di dekat kolam.
Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
Dan bagaimana bisa Jaka ada di sini? Di apartment ku? Pertanyaan itu lagi yang muncul di benakku.
Suara deringan handphoneku membuatku berjengit kaget.
"Halo?"
"Jeng Mitcheee yeay di menong dehh? Kok tinta adinda di kantor, kang mas Jaka juga tinta adinda, ishhh kalian berdua legong jali-jali beduaan yesss, tinta ajak-ajak eike, jahara duehhh"
*Jeng Mitha elu di mana deh? Kok gak ada di kantor, kang mas Jaka juga gak ada, ihhh kalian berdua lagi jalan-jalan beduaan yaaa, gak ajak-ajak gue, jahat deh
"Brisik lu Put" Kataku singkat lalu mematikan hubungan telepon dan melempar handphoneku ke atas ranjang.
Deringan panggilan masuk kembali berbunyi.
Aku langsung mematikan power handphoneku.
Aku butuh ketenangan.
Mau berpikir, tapi.... Ahhh kepalaku masih berdenyut.
Mendengar perkataan Papi di telepon tadi siang benar-benar membuatku sedih, tidak ada orang yang bisa aku ajak bertukar pikiran. Memang dari kecil aku tidak suka menceritakan atau berbagi cerita dengan orang lain.
Sifat ku tertutup, bagiku apa yang aku alami atau aku jalani atau aku rasakan ya cukup aku saja yang tahu, berbagi cerita kepada orang lain bagiku bukan jalan keluar, hanya sekedar berbagi cerita saja.
Dari kecil pelarian ku adalah....
Aku berjalan keluar kamar dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang lebih kecil dari kamarku, di ruangan ini hanya terdapat meja berukuran sedang dengan kursi putar.
Aku menghempaskan bokongku pelan, membuka buku sketsa yang selalu berada pas di atas meja.
Yep, inilah pelarian ku yang lain selain mabuk, menggambar.
Aku membuka satu persatu halaman yang sudah banyak coretan-coretan tanganku.
Buku sketsa yang hanya berisikan goresan-goresan tanganku berupa goresan pilihan. Dan kebanyakan buku sketsa ini hanya penuh dengan gambar karikatur seseorang.
Aku tersenyum melihat gambar di salah satu halaman, karikatur Papi yang memakai setelan jas nya.
Sosok sempurna di mataku, sosok idolaku, sosok panutanku.
Tapi...
Aku menyenderkan punggungku dan bersedekap.
Papi membuatku kecewa dengan keputusan nya.
Aku tahu, sangatlah berat bagi Papi menerima kenyataan memergoki istrinya yang sering selingkuh.
Siapa yang mau di salahi di sini?
Di satu sisi aku juga bisa memahami keadaan Mami yang kesepian karena suaminya terlalu workaholic, mungkin pelarian Mami ya selingkuh.
Kenapa gak kaya aku aja sih Mam pelariannya?
Salurin ke hobi, atau mungkin shopping menghabiskan uang Papi.
Percuma.
Happen.
Aku menegakkan punggungku beberapa saat kemudian, lalu membuka halaman sketsa yang masih kosong.
Aku tersenyum ketika tanganku bergerak mulai menggambar.
Bibir ini tidak berhenti tersenyum sampai aku menyelesaikan sentuhan terakhir pensilku.
Menatap puas hasil karikatur ku.
Karikatur seorang pria shirtless yang otot perutnya menyembul membentuk 6 jendolan yang aku rasa keras apabila di pegang, tangannya sedang memegang satu gelas cup kopi berlogokan putri duyung berekor ganda.
Perfect!
Aku menutup buku sketsa ku dan berjalan ke luar menuju balkon.
Jaka.
Tbc
Maaf yaaaa tadi siang aku buru2 mau makan siang, jempol mau mencet save malah kepencet publish duluan, trs barusan mau save malah kepencet publish lagi.
Efek kepala ndoyong abis minum obat batuk eike cynnnn hahahahaa
NB: cerita ini aku buat tdk berdasarkan pengalaman pribadi hanya melalui riset eyang Google aja, apabila ada keanehan atau kejanggalan, mohon di maklumi, cerita ini murni hanya hiburan semata
Enjoy reading yaaaa 😘💋

KAMU SEDANG MEMBACA
don't tease my bodyguard
HumorBEBERAPA PART SAYA HAPUS UTK KEPENTINGAN PENERBITAN Warning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 6/1/18 - 9/2/18