25. mikir

11.6K 1.4K 314
                                    

Buka kangg buka aja semuanya, apa perlu eike bantuin? Eike emang ga ahli melorotin harta lelaki, tapi paling ahli melorotin celana lelaki 😅😆😆

Ya ampun eike buka2 aib sendiri zaman mangkal di bawah jembatan 🏃🏃🏃

Jaka POV

Tanganku mencoba mengetik peribahasa yang tadi pagi Mitha sebutkan, menepuk-nepuk keningku untuk mengingat peribahasanya, ahh iya, bagai legundi dengan ular.

Aku mengetik peribahasa tersebut di Google, terkekeh begitu membaca artinya. Tapi peribahasa sebenarnya adalah bagai ular dengan legundi.

Ohh, mungkin Mitha terbalik mengucapkannya, pikirku maklum.

Sangat terpikat dengan kekasih.

Aku mengusap wajahku.

Mitha sangat terpikat denganku?

Aku kembali terkekeh mengingat perkataannya menjawab pertanyaan  suster seperti kelakuan anak kecil yang menunjukkan kepemilikan, tapi perbuatannya di apartmentnya tadi...

Hufttt kalau aku tidak segera menghentikannya pasti kami berakhir saling mengejang mengeluarkan cairan masing-masing di balik pakaian kami.

Aku menepuk keningku, padahal aku belum menyatakan perasaanku maupun meminta Mitha untuk menjadi kekasih ku, tapi sudah melakukan tindakan seintim itu.

Dengan gerakan pelan bangun dan duduk di tepian ranjang.

Kulirik jam digital di atas nakas, pukul 2 siang, rasanya cukup tertidur sekian jam. Lebih baik pergi ke kantornya Mitha.

Aku berjalan ke kamar mandi.

°°°

Senyumku mengembang begitu mengetuk dan masuk ke dalam ruang kerja Mitha.

Kulihat Mitha membulatkan matanya kaget.

"Kok gak istirahat?" Tanyanya.

"Ciuman tadi pagi bikin aku makin segar" Jawabku sambil mengedipkan sebelah mataku.

Mitha menunduk dengan wajah memerah lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.

Aku berjalan ke arah sofa dan duduk di atas mengamati gerakannya yang kulihat fokus mengerjakan sesuatu.

"Jak, sini, bagus ga?" Mitha memanggil ku masih dengan menunduk.

Aku berjalan ke mejanya.

Mitha mendongak sambil memperlihatkan kertas gambar.

Aku terkekeh melihat hasil gambarannya.

Sepasang manusia yang sedang berciuman sangat hot menempel di dinding dengan kaki si perempuan melilit pinggul si lelaki, persis seperti apa yang kami lakukan tadi pagi.

Goresan tangannya benar-benar akurat menggambarkan kami.

"Kamu gambar itu mau di pajang di mana? Gak takut nanti ada orang yang liat? Misalnya Puput?" Tanyaku.

Mitha mengedikkan bahunya.

"Puput udah gak mungkin lagi candid-candid atau motoin hasil gambaranku terus ngirimin ke kamu, kan misinya udah tercapai" Jawabnya santai, lalu merapikan kertas gambarnya dan di masukkan ke dalam folder.

Aku terkekeh lagi.

"Itu bukan aku yang nyuruh ya, Putra berinisiatif sendiri kirimin ke aku" Aku berjalan kembali ke arah sofa.

Deringan suara handphone Mitha membuatku menoleh ke arahnya.

"Halo"

"...."

don't tease my bodyguardTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang