[Fantasy & (Minor)Romance]
Tadinya aku berpikir, memiliki kekuatan itu seperti pada film fantasi yang ku tonton, menakjubkan. Namun aku salah ternyata memiliki kekuatan itu tak seindah film-film fantasi, kekuatan yang entah bagaimana bisa berada dal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Apa ini mimpi? Kenapa aku bisa melihat aku yang terbaring dengan alat-alat rumah sakit?
Sebenarnya aku yang disini itu siapa?
"Kau masih terlalu muda, setelah 1 jam. Kau mungkin bisa memasuki tubuhmu lagi,"
Aku menolehkan kepalaku ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa.
"Kau siapa?" tanyaku ragu, aku masih mencari-cari suara itu dan tepat di pojok ruangan, aku melihat kakek-kakek yang oke sulit dijelaskan dengan keadaan yang begitu, yang jelas ia seram.
Kakek itu tersenyum lalu menghilang.
Apa aku harus menunggu selama 1 jam untuk kembali melihat dunia luar lagi. Disini mengerikan.
Merasa bosan, aku berjalan ke pintu. Aku menyentuh kenop itu tapi herannya tanganku tembus pandang.
Apa aku sudah jadi hantu? pikirku mengingat-ingat tentang makhluk yang transparan itu. Oke itu juga mengerikan.
Aku berjalan pelan di koridor, disini sangat sepi, dimana pasien yang lain?
"Ugh, maafkan aku" tak sengaja aku menabrak seseorang.
Seseorang itu sempat terdiam, sesaat kemudian ia kembali berjalan dengan tergesa-gesa.
Dia siapa? Dari langkahnya ia seperti dikejar oleh sesuatu, apa itu?
Atha, berhenti berpikiran negatif.
Ahh ya, omong-omong ia mau kemana? Merasa penasaran, aku mulai mengikutinya dengan langkah pelan, berusaha tak menimbulkan sedikit suara.
Tapi tunggu, bukankah makhluk transparan itu tak memiliki kaki? Aku melihat kakiku sendiri, dan benar tak ada kaki, hanya ada pakaian rumah sakit yang melayang.
Cukup lama ia berjalan tergesa-gesa, akhirnya ia berhenti didepan pintu bertuliskan nomer 31.
Ia masuk, aku hanya diam mengikutinya.
Aku melihat seorang gadis terbaring lemah, gadis itu mirip denganku, apa ia adalah aku?
Sungguh membingungkan.
Seseorang yang tadi mengambil bangku hijau lalu meletakkannya disamping ranjang tidurku.
Aku masih melihatnya, gerak-geriknya cukup terbaca. Ia masih diam, dan sesaat kemudian ia memegang tangan kananku yang diselimuti oleh infus.
Sementara aku disini mulai memegang tanganku sendiri yang dipegang seseorang itu.
Hangat. Tapi kenapa bisa sehangat ini? Apa ini tipuan?
Mengenai ia lelaki atau perempuan, cukup sulit mengenali wajahnya. Ia memakai tudung biru jaketnya dan aku tak menyadari itu.
Atha, kau harus lebih peka lagi.
'Klek'
Pintu terbuka, aku menoleh. Aku melihat seseorang dengan pakaian suster, juga rambut yang dikepang satu kesamping ia berjalan mendekatiku ahh bukan lebih tepatnya aku yang disana.
Ia melewatiku, tapi aku tak merasa tertabrak atau semacamnya.
Atha kau bodoh, kau sudah menjadi bagian dari makhluk transparan itu.
Batinku tertawa mengejek tentang kebodohanku yang tidak jelas ini.
Suster itu mendekati sebuah laci, membukanya lalu mengambil sebuah jarum suntik. Setelah mengambil peralatannya, ia beralih ke kotak obat yang berada diatas laci itu.
"Maaf, anda boleh duduk di sofa yang disana, saya mau melakukan beberapa perawatan lagi." ia sopan sekali, astaga. Aku harus meng-klaim orang-orang sopan sepertinya.
Merasa terusir mungkin, seseorang itu bangun dari duduknya lalu berjalan ke sofa yang tadi dibilang oleh perawat.
'Tsuk'
Suntikan itu menusuk aku yang disana, ia menekan tombol itu dan arghh kenapa sakit sekali?
Apa aku setengah hidup setengah tiada? Aku bisa merasakan semua yang menyentuh aku yang disana.
Dan aku baru menyadari, tak ada alat buat koma. Apa aku tidak koma? Lantas mengapa aku bisa merasakan semua itu ... apa ini sebenarnya.
Aku harus cepat-cepat kembali. Aku menolehkan kepalaku ke jam dinding, sebelumya aku sempat melihatnya, pukul 1 yang artinya sudah satu jam. Apa aku bisa kembali?
Aku memejamkan mata erat dan mulai melangkah ke aku yang disana.
Sekelebat cahaya muncul sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran di mahkluk transparan ini.
***
Disini masih gelap, apa mataku terpejam?
Aku melihat sosok putih di ujung sana, aku melangkahkan kakiku.
Dia tersenyum seraya tangannya yang menyentuh diriku... Aku merasakan tanganku tertarik kedalam cahaya putih itu.
Aku membuka mata perlahan, bau obat-obatan menyengat hidungku.
Apa ini yang dinamakan takdir? Aku bisa kembali lagi, aku ingin secepatnya meloncat gembira.
Astaga, kenapa wajahnya begitu dekat?
Tapi tunggu, ia lelaki! Wajahnya sangat familiar, tapi aku tak bisa mengingat siapa dia.
Ia membuka matanya, "kau sudah sadar, syukurlah. Maafkan aku," setelah mengatakan semua itu, ia tertunduk.
Apa ia yang berada dimobil itu? Atau orang tuanya? Atau siapalah itu.
Berbagai pertanyaan mengenai dirinya langsung terputar seperti kaset rusak dikepalaku.
Aku masih menatapnya bingung, mulut ini terasa kelu sekali. Aku sulit bicara.
Ia beranjak dari duduknya menuju telepon genggam dinakas. Ia nampak mengetik-ngetik sesuatu, sesudahnya ia angkat gagang telepon itu ke telinganya.
Aku masih melihatnya, ia seperti tengah bicara kepada seseorang.
Beberapa menit berlalu, seseorang yang mungkin ia telpon tadi datang dengan beberapa perawat dan mulai memeriksa keadaanku.