Bagian 1 : Aku dan ketentuan

2.9K 243 18
                                        

Sesampainya dirumah, benar dugaanku, Ibu memarahiku karena khawatir

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sesampainya dirumah, benar dugaanku, Ibu memarahiku karena khawatir. Dan sekarang telingaku mulai panas mendengar ibu menjelaskan panjang lebar bagaimana keterlambatanku sebagai pembawa sial karena makan malam tidak diselenggarakan.

Tapi tunggu, bukankah itu jauh lebih baik daripada ada aku dimeja makan dan membuat suasana canggung melanda. Orang tua yang aneh.

"Kau dengar tidak Atha!?" aku tersentak, lalu mengangkat kepalaku yang tadi sempat tertunduk, aku melihat wajah Ibu yang berapi-api.

Ah ya apa yang dikatakan olehnya tadi? Aku lupa karena terlalu asik bergelut dengan pikiranku.

"Ya ampun, waktu itu aku memimpikan apa, sampai-sampai kau dititipkan di keluarga kami!?" ia menggeram.

Tunggu, jika aku bukan anak kandung mereka, lantas karena apa mereka mengasuhku?

Berbagai pikiran negatif mulai memenuhi kepalaku.

"Lihatlah, dirimu sendiri tak mengetahuinya. Sungguh miris sekali kau!" katanya lagi seolah mengetahui apa yang dipikirkan olehku.

Ayolah keluarkan suara,

Aku menyemangati diriku sendiri ketika mulut ini sulit berucap sesuatu, bahkan rasanya bergerak saja tak mampu.

"Hah! Ia benar. Kau bukan anak kami, kau hanya dititipkan, sekarang bereskan barang-barangmu dan pergilah dari rumah ini! Kami sudah muak mengurusmu!!" sebuah suara menyahut ikut membentak, bahkan Ayah juga?

Aku masih diam mematung, ini pertama kalinya, Ayah membentak ku seperti ini.

Cukup lama terdiam sampai aku merasakan bahuku dicengkram oleh Ibu dan dengan teganya ia mendorongku kencang dan hampir membentur dinding dekat tangga.

Aku yang tahu maksudnya hanya menuruti mereka saja, mungkin ini hanya permainan mereka, dan kalau tebakanku itu benar, aku akan kembali lagi kemari dengan sukacita.

***

'Brak'

Astaga, apa ini yang dimaksud kurang sopan santun. Mengapa mereka juga?

Pintu tertutup dengan kencang begitu aku menginjakkan kaki di pekarangan. Aku membawa koper kesayanganku, koper bergambar lima kelinci kecil yang imut.

"Aku harus kemana?" gumamku setelah sudah sampai di setengah jalan rumahku. Aku berbalik menatap rumah itu dalam, seketika sebuah cahaya melewatiku.

"Atha mau makan barbeque juga,"

"Atha, pelan-pelan sayang. Barbequenya masih panas,"

'Sring'

Cahaya yang melewatiku pun lenyap, apa aku baru saja melihat masa kecilku? Aku dan barbeque.

Waktu itu aku berumur berapa ya?

Aku tersenyum menggelitik dan kembali melanjutkan perjalanan sambil menyeret koperku, tapi aku harus kemana?

"Hoii, awas!" seseorang berseru, aku menoleh mencari-cari suaranya, dengan siapa dia berbicara, dan mengapa komplek ini tiba-tiba sepi. Aku menunjuk diriku bingung, "Cepat menghindar!!" aku melihat lagi seseorang ditengah kabut yang entah kapan munculnya.

"Cepat menghindar!!"

Apa mak--aku menoleh ke kabut dibelakangku, dan mendapati cahaya lampu yang begitu menyilaukan.

Aku menjerit sekuat tenaga, berharap seseorang selain mereka mendengarku. Tapi kurasa mustahil untuk komplek Clawq yang terbilang kecil ini.

Aku memejamkan mata kuat-kuat, aku tak sanggup melihat bagaimana jadinya tubuhku nanti.

***

Kenapa disini semua putih? Aku mengedarkan pandang ke segala arah, dan hanya mendapati warna putih.

'Niu niu niu niu'

Apa itu suara sirine ambulan? Aku mengikuti suara sirine itu, disini masih putih, hanya pendengaranku yang masih berfungsi.


Gunakanlah dengan baik Atha!

Lagi-lagi aku menyemangati diri lagi, masih mengikuti sirine itu, akhirnya sirine itu terhenti bergantikan suara orang-orang yang nampak panik.

Tiba-tiba suasana disini yang awalnya putih berubah menjadi ruangan pasien.

Aku melihat diriku, berbaring tak berdaya dengan luka-luka yang cukup banyak.

Apa ini ajalku?

Tolong jangan bilang ya, aku takut. Apa aku tak bisa membuka mata lagi? Padahal sangat disayangkan aku tak bisa melihat dunia sana yang terbilang masih jauh lebih bagus dibandingkan komplek rumahku.

Aku berusaha menyentuh diriku yang masih terbaring itu, rasanya bahkan mustahil sekali.

Aku berdoa pada-Mu, semoga kau menentukan yang semestinya.

ToBeContinue🍃

A/n

Revisi ringan maaf mengganggu kenyamanan membaca-!


--Rie♡

--27 Mei 2018--
--15 Juli 2019--

Magician [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang