[Fantasy & (Minor)Romance]
Tadinya aku berpikir, memiliki kekuatan itu seperti pada film fantasi yang ku tonton, menakjubkan. Namun aku salah ternyata memiliki kekuatan itu tak seindah film-film fantasi, kekuatan yang entah bagaimana bisa berada dal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku tak habis menghela nafas setelah membaca surat itu.
Gadis berambut pirang itu benar-benar sudah gila. Aku berdiri lalu menatap jendela disamping.
Sebelum aku berdiri aku melihat Ryn menghampiri surat itu, membacanya sekilas lalu membuangnya dan begitu seterusnya sampai Lya yang terakhir.
Lya mencengkram kuat kertas itu lalu melemparnya ke belakang, ia menghampiriku. Begitu ia berada dihadapanku, Lya memegang tanganku memohon sesuatu, "Atha ... kita harus kembali ke Akademi sebelum Ao tiba disana dan mengacaukan semuanya." pinta Lya, aku langsung mengangguk.
Aku menatap semuanya satu persatu, "Pegang tangan yang berada di samping kalian, aku akan membawa kalian ke Akademi." tukasku sembari tersenyum miring.
Hesha mengangkat tangannya tinggi, meminta untuk diperhatikan.
"Kenapa, Hesha?" tanyaku singkat.
Raut wajah Hesha perlahan berubah, ia menjadi cemas. "A-aku emm tidak jadi." ucapnya langsung menunduk.
Aku menghela nafas mendengar tuturannya yang seperti kecewa.
Tak lama Kedha yang menunduk mengangkat kepalanya, "dia mau membuat surat," cibir Kedha yang berada disamping Hesha.
Aku menatap Fedha yang berada disamping Hesha meminta penjelasan.
Fedha seakan mengerti apa yang mau ku tanyakan langsung menganggukkan kepalanya.
Mataku teralih lagi ke Hesha, "Boleh ya?" pintanya.
Aku menghembuskan nafas, "Jangan lama-lama," setelahnya Hesha langsung berbalik mengambil kertas lalu menuliskan beberapa kata.
Tak lama ia kembali lalu aku melihat ia tersenyum lega. "Aku siap."
Disamping Hesha ada Kedha yang langsung menggenggam tangannya. Disampinnya ada Ryn kemudian Lya lalu aku. Disampingku ada Fya disusul dengan Lees lalu Clarissa dan yang terakhir Fedha. Kami semua berpegangan tangan.
"Ayo kita lakukan!" semuanya berseru sementara aku berkonsentrasi untuk mengeluarkan mantra untuk memindahkan semuanya ke Akademi Claxi itu.
"Teleportav!"
Aku berseru, tak lama semua menjadi putih dan kami berpindah tempat.
Aku menghela nafas lega begitu mendapati pagar Claxi yang menjulang tinggi.
Namun, yang kami dapati bukan sesuatu yang bagus.
Kami terlambat.
Ao sudah menyerang lebih dulu.
***
"Argh sial-sial." sudah beberapa kali kudengar Lya mengumpat.