Bagian 7 : Aku dan kesalahan

1K 112 10
                                        

Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa semua itu ditujukan padaku seorang? Kenapa tidak ada satupun kesalahan tentang melenyapkan mereka itu dijatuhkan kepada gadis pirang itu? Bukankah hanya dia yang patut dicurigai?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa semua itu ditujukan padaku seorang? Kenapa tidak ada satupun kesalahan tentang melenyapkan mereka itu dijatuhkan kepada gadis pirang itu? Bukankah hanya dia yang patut dicurigai?

Hidup ini memang aneh.

"Athely, sudah beberapa kali aku mendapatimu melamun. Kau ini kenapa sih?" tubuhku bergoyang sesaat. Aku menoleh ke Lya.

"Apa sih?" sahut ku lalu melepaskan cengkramannya dari bahuku.

Mungkin aku juga harus meng-klaim Lya sebagai makhluk tidak jelas.

"Kak Lya memang seperti itu, sudah berkali-kali kubilang ubah kebiasaannya yang itu ... tapi ia sama sekali tidak menurutinya." aku menoleh kesamping, disana ada AiLin yang seenak jidat mencibir kakaknya sendiri.

"Hei!" Lya berbalik dengan tatapan tajam.

AiLin mengabaikannya, berusaha setenang mungkin didepan kakaknya seolah tak terjadi apa-apa.

Aku harus akui, mereka ini kakak beradik yang sangat cocok... Lya yang tak jelas dan AiLin yang jelas itu.

"Hahaha!" aku menaruh lengan dipinggang dan mulai tertawa atas yang kupikirkan tadi.

Aku menatap mereka bergantian, sementara mereka menatapku dengan bingung.

Aku hanya menarik segaris senyum dan lanjut tertawa didalam hati.

Mungkin lain kali aku harus membawa bibirku ini ke dokter.

***

"Jadi, kita belajar bareng? Senangnya!" Lya nampak memegangi pipinya yang sudah memerah lantaran Kuroto membawa ke kamarnya.

Menurutku, kamar Kuroto tak jauh beda dengan kamar ayah ibuku.

Mengingat tentang mereka, entah kenapa rasa sakit tiba-tiba menggerayangi hatiku.

"Jadi kita akan mulai dari mana? Matematika? Bahasa? Bahasa Inggris? Pengetahuan? Sosial? Seni? Olahraga?" oke Lya baru saja menyebut seluruh pelajaran yang kebetulan aku belum sempat belajar.

Astaga, tadi aku ngapain ya?

Buku itu!! Ya ampun kenapa aku tak kunjung menyentuhnya, aku selalu membawanya saja ... maaf ya buku.

Mengenai aku tinggal, ibu Kuroto mengijinkan ku tinggal disini sementara waktu, apartemen yang itu masih direnovasi ... kerusakannya yang terakhir kali aku lihat itu hanya isinya yang porak-poranda, dan tadi aku kesana malah lebih parah lagi.

Syukurlah hari ini hari libur, kami bisa belajar untuk ujian minggu depan. Mengenai aku yang masuk terlambat ... tenang saja, aku ini cukup pintar mungkin, aku bisa langsung menyusul ketinggalan.

Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali.

Kelas kami tentu berbeda, apalagi AiLin, ia masih kelas SMP 1, aku; Lya; dan Kuroto kelas SMP 2, dan aku juga berbeda kelas dengan Lya, apalagi Kuroto.

Dan yang dikatakan Lya, aku baru ingat kalau aku ada PR dengan semua mata pelajaran itu.

Aku mengeluarkan buku-buku pelajaran yang tadi, Kuroto dan yang lain pun melakukan hal yang sama.

Beberapa jam sudah berlalu, kami sedang beristirahat ... pelajaran matematika itu membuatku pusing, dan yang mengerjakannya AiLin, ia hebat matematika.

Lelaki idaman, nice.

"Setelah mengerjakan semua ini ... kita mau kemana?" aku membungkam mulutku lagi, sudah berapa kali aku berbicara tanpa mengendalikan mulutku sendiri?

"Pertama-tama kau harus memperbaiki kesalahan itu dulu,"

Aku menatapnya tajam dan bersamaan dengan itu tatapanku meredup.

"Sudah kubilang bukan? Itu bukan salahku ... aku tak tahu! Aku tak tahu!" seruku tak terima karena dituduhkan tanpa bukti yang jelas.

"Maaf, tapi aku hanya penasaran saja." Kuroto ... sepertinya kau harus dibawa kerumah sakit, sikapmu mudah sekali berubah.

"Bagaimana jika kau berulah untuk menebus kesalahan itu, dan biar aku yang menyelidikinya," timpal AiLin menyetujui perkataan Kuroto yang sebelumnya.

Tak ada pilihan lain selain mencobanya, aku mengangguk pasrah. Aku sudah pasrah, kuserahkan pada mereka—AiLin dan Kuroto—untuk membuktikannya.

Mungkin mereka akan jadi detektif kali ini.

"Nyahhh, aku akan menyusun rencananya ... kau--

--AiLin apa yang kau rencanakan?" AiLin yang merasa ucapannya dipotong mendengus pelan lalu membungkam mulut Lya dengan roti yang kebetulan ada didepan dirinya.

"Aku akan menyusun rencana, kau dan Kuroto yang akan memerankannya," kenapa aku harus dengan makhluk yang ku klaim sebagai makhluk aneh?

Oke diriku sendiri juga aneh, jadi kita sama-sama aneh. Tapi kenapa harus dia!?

Menyadari gerak-gerikku, AiLin kembali bersuara. "Kau keberatan? Hanya ini satu-satunya cara agar tahu bahwa kau bukan melenyapkan mereka atas izinmu sendiri, melainkan ia tak terkendali...."

AiLin juga sama anehnya dengan kami. Mungkin setelah ini akan kubuat grup chat bertuliskan kumpulan orang aneh yang didalamnya hanya terdapat aku, AiLin dan Kuroto.

Kalau Lya aneh juga akan ku tambahkan, tapi ia tidak aneh, hanya tidak jelas.

"Baik-baik, akan kulakukan ... apa rencananya?" aku mendengus setelah mendapat tatapan tajam dari AiLin juga Kuroto.

AiLin masih sibuk menuliskan sesuatu di kertas selembar yang sudah ia sobek. Setelah menyelesaikannya, ia memberiku kertas yang ditulisnya dan memberi Kuroto juga.

Seketika mataku terbelagak. Kenapa harus ini rencananya!?

ToBeContinue🍃

A/n

Setiap bagian yang ada kata 'Aku' berarti itu Atha POV.

Setiap bagian yang ada kata 'Dia' berarti bisa saja Kuroto POV, AiLin POV atau Lya POV, bahkan bisa juga Ao POV.

Sejauh ini bagaimana tentang namanya? Apa ada kelibet selain Lya?

Kalian bacanya gimana😂?

Rie sendiri bacanya kadang Liya atau Laya, eLya. Dan bahkan melenceng jadi La.

--Rie♡

--28 Mei 2018--
--17 Juli 2019--

Magician [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang