[Fantasy & (Minor)Romance]
Tadinya aku berpikir, memiliki kekuatan itu seperti pada film fantasi yang ku tonton, menakjubkan. Namun aku salah ternyata memiliki kekuatan itu tak seindah film-film fantasi, kekuatan yang entah bagaimana bisa berada dal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ya ampun, rambutmu jadi berantakan!" seru Hesha yang masih berada dipangkuan Fedha.
"Wajar, ia mungkin frustasi dengan makhluk seperti kita ini. Maksudku kita aneh." timpal Lees yang sudah berpindah tempat.
"Kau yang aneh, teruntuk ku, Clarissa dan Hesha tidak,"
"Heii maksudmu aku juga aneh?" sambar Kedha seraya berdiri dan berkacak pinggang.
Mereka semua memang aneh.
"Heii berhenti. Apa kalian tidak malu dengan Athely?" Clarissa--gadis kelinci itu mulai angkat bicara, seketika semua terdiam begitu mendengar namaku disebut.
5 detik kemudian~
"Apa!? Kau Athely yang kudengar baru-baru ini mengunjungi istana Shapeshifter!" kini Hesha mulai berdiri sembari menunjukku.
"A-apa?" apa aku sepopuler ini?
"Bohong banget tuh." cibir Fedha yang sudah berada di belakang Hesha seraya memeluknya.
"Buktikan kalau kau Adhel," Kedha angkat bicara, sedangkan aku hanya menganga, kenapa namaku jadi Adhel?
"Kedha, nama dia Athely bukan Adhel." sahut Lees dengan nada cuek.
"Mau Adhel mau Athely, siapapun itu aku tak peduli," balas Kedha sembari duduk melipat kaki.
"Ya ampun, kalian!" Clarissa--gadis kelinci itu mulai memijit keningnya.
Apa ia tak frustasi dengan makhluk-makhluk absurd macam Kedha, Fedha, Hesha, atau Lees.
"Hohoho, aku ikut frustasi sebenarnya punya saudara seperti mereka." kata Fedha seakan mengetahui apa yang ada dipikiranku.
"Kau frustasi? Apa lagi aku, aku lebih stress gara-gara mempunyai kembaran sepertimu," sahut Kedha membalas perkataan Fedha.
Tunggu, apa barusan ia bilang kembaran? Fedha kucing sedangkan Kedha rubah, letak kesamaannya dimana?
"Apa kalian kembar?" aku mengulangi pertanyaan yang sudah berkecamuk minta dikeluarkan dari kepalaku.
"Kembar dalam artian lain." Clarissa--gadis kelinci itu menyentuh pundakku lalu menarikku untuk duduk melingkar bersama mereka.
Dan sejak kapan mereka sudah duduk melingkar? Gadis bawahi kecuali Hesha yang memilih tiduran lagi di pangkuan Fedha, Fedha biasa saja menerima kedatangan Hesha dipangkuannya, Kedha sudah berada dekat dengan Clarissa yang ada disebelahku, sebelahku lagi ada Lees yang sedang menutup matanya.
Kalau diperhatikan lagi, mereka semua sedang menutup mata.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyaku saat menyadari ada sebuah kejanggalan diantara mereka berlima.
Hesha yang berada didepanku tepat dipangkuan Fedha mulai membuka matanya dan berkata, "kami sedang menunggu makanan,"
Hesha yang tadi sikapnya suka menggoda, mungkin. Berubah menjadi sedikit tenang dan datar.
Mengingatkanku pada satu heroine di sebuah novel fantasi.
Aku yang bingung segera menutup mata, aku tak bisa banyak berbicara ... mereka semua sedang menutup mata dan menunggu sesuatu yang kata Hesha makanan dari langit, mungkin.
'Krik krik krik'
Suara jangkrik memecah keheningan, aku masih bingung apa yang mereka lakukan, lantas aku membuka mataku dan melihat tepat ditengah lingkaran.
"Ja-jadi ini yang kalian maksud?" tanyaku tak percaya saat melihat beberapa makanan sudah berada didepan.
"Kau ini," Lees yang berada disampingku menjitak kepalaku lembut.
Mereka yang awalnya melingkar sudah berpencar tak terkecuali aku, Fedha dan Hesha.
Clarissa--gadis kelinci itu sudah bersama Lees. Kedha berada di pojok ruangan yang lain, Hesha masih setia diam ditempatnya. Fedha juga melakukan hal yang sama.
"Apa kita boleh memakan ini?" ughh cacing-cacing di perutku mulai berdemo meminta makan. Bagaimana ini?
"Hahaha tentu saja, bodoh!" mulut Kedha sepertinya harus disaring.
"Ya sudah, kalau begitu. Selamat makan." ucapku tanpa menghiraukan pemilik rumah pohon ini dan mulai menyantap makanan yang menggiurkan untuk dicoba.
"Enak," siapa yang membuat ini? Walaupun datang entah dari mana tapi rasanya enak sekali.
"Kau ini tinggal di gua ya? Keluarga Antenuao memang melakukan ini setiap harinya, ibu akan memasak dan mengirim makanannya kesini." sahut Kedha.
"Hahaha ... kau lucu sekali untuk seseorang yang memiliki kekuatan langka." balas Lees lalu menyentuh rambutku.
Astaga, mereka ini menghilang lalu muncul lagi?
"Jangan takut, kita tidak jahat kok. Hoahh," Kedha, lelaki rubah itu mulai menguap.
"Kalian membuatnya takut lagi. Kedha, Lees ... apa kalian tidak cukup untuk menakut-nakuti ibu dengan kekuatan kalian?" Clarissa--gadis kelinci itu melerai perkelahian yang sebentar lagi akan dimulai.
Keduanya sama-sama mendengus lalu berpindah tempat lagi.
Fedha dan Hesha masih saja tenang dipojok ruangan yang entah kapan pindahnya. Fedha masih setia mengelus-elus rambut Hesha yang panjang itu.
Mereka sama-sama kucing, wajar tidak bertengkar. Bagaimana dengan makhluk didekatku ini? Mereka berbeda jenis. Aku jadi penasaran ibunya itu bagaimana.
"Apa ini sudah malam?" tanyaku memecah keheningan yang terjadi beberapa saat.
Kedha menoleh kembali bersuara, "Ya sudah malam, apa kau mau melihat langitnya?"
"Kedha! Melihat langit malam itu dilarang jangan coba-coba mengajak seseorang untuk melihatnya, terakhir kali kau melihatnya saja sudah seperti itu ... bagaimana jika ia melihatnya?" Clarissa naik pitam.
"Terakhir kali aku melihatnya, aku mendapatkan ini." Kedha memegang matanya lalu membukanya.
Aku sedikit tercengang melihat manik mata yang awalnya coklat berubah menjadi abu-abu.
"Jangan pernah melihat langit malam oke?" Clarissa--gadis kelinci itu mulai mengelus rambutku lembut.
"Ya sudah kalian semua tidur dengan nyenyak seperti Fedha dan Hesha, jangan berisik oke!" seru Clarissa lalu mematikan saklar lampu yang kebetulan dekat denganku.
Dikegelapan ini aku masih bisa melihat Clarissa menjentikkan jarinya dan seketika muncul beberapa pasang kantung tidur.
Aku mulai masuk kedalam kantung berwarna hijau dan yang lain juga melakukan hal yang sama.
Soal makanan itu, sehabis aku memakannya. Makanan itu lenyap begitu saja, seperti ditarik ulang lagi dari atas.
Rasa kantuk mulai menggerayangi, aku pun mulai memejamkan mata, berusaha setenang mungkin dan pada akhirnya aku terlelap.
ToBeContinue🍃
A/n
Dengan Rie yang sedang tepar membaca a/n alig dijaman 2018>:v