19. BE MINE

983 53 148
                                    

Ani dan Musa kakaknya sudah memakai pakaian serba hitam, untuk mengantarkan jenajah dokter Jaka ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Awalnya Ani tak ingin ikut ke pemakaman, karena Ani takut dan engan untuk bertemu dengan Budi. Tapi, karena kakaknya terus memaksa, akhirnya Ani mengikuti kemauan kakaknya.

"Kenapa tidak mau memberikan penghormatan terakhir pada guru yang telah mengajarkan banyak ilmu kebaikan pada mu Dek?. Kakak saja langsung pergi ke Jogja pas tau dokter Jaka meninggal. Kamu seperti kacang lupa pada kulitnya!" Omel Musa pada Ani, sambil menyetir mobilnya menuju Tempat Pemakaman Bendo Sari.

Sejak pagi Musa harus bersusah payah membujuk adiknya agar mau pergi bersamanya ke pemakaman. Setelah mengeluarkan omelannya hampir satu jam, barulah Ani mau pergi bersamanya ke pemakaman.

Musa memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum gelinya, ketika melirik Ani yang tertunduk merasa bersalah.

"Memangnya dokter Jaka semasa hidupnya sangat jahat sama kamu dek? Heh!!!, sampai kamu tidak ingin memberikan penghormatan terakhir padanya?" lanjut Musa merasa bersemangat untuk mengerjai adik perempuannya yang sudah hampir setengah tahun tidak bertemu dengannya.

"Tidak kak. Bukan itu alasannya. Kan tadi malam Ani sudah pergi ke rumah duka" jawab Ani lemah.

"Kamu takut bertemu Mr. B?" tebak Musa yang punya keyakinan tebakannya benar, karena tadi malam sempat sedikit mendengar cerita Budi bahwa adiknya masih menyimpan kesal pada sahabatnya itu.

Ani tersentak mendengar tebakan kakaknya yang tepat sekali. Ani memang enggan bertemu Budi. Dia malu karena dengan bodohnya, pasrah begitu saja saat dicium oleh Budi. Padahal sebenarnya dia menyimpan segunung kesal karena Budi menghilang sebulan lebih tanpa sekalipun menyapanya.

"Kalian tadi malam berciuman?" tanya Musa menahan senyum.

Ani membulatkan matanya menatap kakaknya "Hah?. Budi bilang ke kakak kalau kita ciuman?"

Musa tak tahan lagi untuk membendung tawanya. Tawa musa pun pecah. "Ternyata benar kalian tadi malam berciuman. Padahal kakak tadi cuma menebak saja. Sejak tadi pagi kamu sering melamun dan memegangi bibir mu itu".

Ani sontak menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya. Tadi malam memang bukan kali pertama Budi mencium bibirnya, tapi saat Budi menciumnya tadi malam Ani merasakan ciuman Budi begitu lembut dan penuh dengan perasaan. "Kakak harus menghajar teman kakak itu!. Dia telah berani mencium Ani tanpa izin". Ani mencoba menyadarkan dirinya dari hayalan manisnya ciuman Budi.

"Budi memaksa mu?"

Ani sedikit berpikir. Berkata jujur, tapi merusak harga dirinya. Berbohong dengan mengatakan bahwa Budi memaksanya, itu mungkin akan membuat kakaknya membabakbelurkan Budi.

"Kakak tau kalian saling mencintai. Jadi tak perlu kamu jelaskan dek"

"Ani tidak mencintai Budi kak!" Ani meninggikan suaranya, tak terima ketika kakaknya selalu berhasil menebak isi hatinya yang selama ini terus dia sangkal.

"Budi mengikuti kita dari belakang!" Info Musa sambil melirik kaca spion di depan mobilnya.

"Apa!" Ani langsung melihat ke arah belakang untuk memastikan apakah Budi benar-benar mengikuti mereka.

Musa mendorong kepala Ani agar kembali menatap ke arah depan. "Kalau suka sama Budi tidak perlu seantusias gitu juga dek!. Budi itu tidak ikut ke pemakaman" Bohong Musa yang sebenarnya sudah tau rencana sahabatnya hari ini.

Ani mengepalkan kedua tangannya, memamerkan kedua tinju pada kakaknya yang telah dengan sengaja menipunya. "Egggh".

A and B (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang