8

417K 15.9K 1K
                                        

Jedotin kepala ke tembok sampai pecah, mungkin hanya itu jalan terbaik untuk masalahku kini.

Aku benar-benar tidak berdaya menghadapi bocah setan satu ini, sudah ku tolak mentah-mentah masih nekad dateng juga. Aku tidak bisa berdiam diri dan meratapi nasib. Ya, saya harus berjuang membuat dia mundur teratur tanpa diminta.

"Bagaimana, Nadia? Apakah kamu bersedia menerima pinangan kami?" tanya Ayah Enno untuk kesekian kalinya begitu dipersilakan masuk oleh Papa.

Pertemuan kali ini hanya ada keluarga inti dari masing-masing pihak. Sama seperti Enno, aku duduk diapit kedua orang tuaku, sedangkan Nando dan Ello duduk di samping kanan kiri seperti wasit, Meta hilang ditelan bumi mungkin masih trauma untuk bertemu langsung denganku.

"Maaf, Om. Nadia tidak bisa."

"Ay, kok gitu sich!" Anjritt nih anak ngomongnya ngga bisa direm, "Aku kan cinta sama kamu, Ay?"

Lo yang cinta, gue ngga!

Ello memandang adiknya dengan muka melas sambil geleng-geleng kepala. Nando, adikku hanya diam tidak mengerti.

"Apa tidak bisa dipertimbangkan dulu nak?" Ibu Enno mulai angkat bicara, "Kasihan Enno. Sudah tiga hari ini ngga mau keluar kamar minta supaya kami melamar Nadia."

Iuuuhh makin ilfeel dach!

"Pernikahan itu bukan sesuatu yang main-main. Cinta saja ngga cukup buat modal nikah," tegasku membuat kedua orang tua Enno menarik nafas panjang, "Kalo sekarang saya menerima justru kasihan Enno nantinya. Tanggung jawab seorang suami itu sangat besar belum lagi nanti jika dia menjadi seorang ayah. Apa semua itu sudah dipertimbangkan baik-baik?"

Ngga nyangka aku bisa ngomong kayak gitu.

"Tapi, Ay. Aku ngelakuin semua ini juga sebagai bentuk tanggung jawab aku sama kamu."

Eits awas aja kalau dia berani ngungkit masalah yang aku sendiri ogah inget itu.

"Mau tanggung jawab APA? Sekolah sono benerin dulu?" Jangan khawatir om tante kalau kalian ngga bisa didik anak kalian dengan baik saya yang akan lakukan, "Tunjukin kalo lo bener-bener pantes buat gue!" Hatiku bener-bener mangkel

"Nadia." Papa menyentuh bahuku lembut memintaku lebih bersabar.

"Kanadia, Aku ngga akan menyerah sampai kamu mau menikah sama aku." Enno masih tidak mau mengalah malah makin tajam memandang kearahku.

"Enno, sudah. Mas, Mbak, juga Kanadia kami mohon maaf kalau anak kami terlalu memaksakan kehendaknya." Ayah Enno memberi sinyal kepada kedua anaknya untuk segera angkat kaki.

"Tunggu, Yah. Enno masih ingin ngomong sama Kanadia."

"..."

"Berdua."

"Ngomong di sini atau ngga usah!" Tukasku

Wajah Enno mengiris kesal sedangkan aku tetap dengan tekadku.

"Om, Tante! Enno melamar Kanadia untuk mempertangmmphh..." mulut toa Enno segera ku bungkam dan kutarik masuk ke dalam kamar Nando yang kebetulan ada di lantai bawah.

Ceklek!

Kukunci pintu dari dalam begitu saja setelah sebelumnya aku mendorong tubuh Enno ke ranjang.

"Ay, tadi nolak-nolak sekarang nafsu amat!" Enno tersenyum mesum melihat tingkahku. Segera kuambil majalah anak milik Nando lalu kugulung tebal-tebal.

"Nad, jangan aneh-aneh lo," tanpa babibuba ku terjang tubuh Enno hingga terjatuh lalu kupukuli dia dengan gulungan majalah milik Nando.

"Ampun, Nadia! Ampun!" Enno melindungi kepalanya dengan kedua tangan tapi percuma saja aku sudah kalap.

Kanadia ChantiqTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang