Dua ekor kambing dibikin sate ternyata buanyak banget, capek masaknya, sangit pula. Belum lagi harus masak gule kambing, semua demi anak dan gara-gara laki brondong gue yang gila. Bini baru brojolan disuruh masak buat orang sekampung.
"No, capek." aku merajuk, kipas sate bukan dipakai buat ngipasi sate yang lagi dibakar, malah dipakai buat spesial efek rambut berterbangan ala iklan shampo tapi pose sexy menantang lagian yang liat iklan cuma brondong kucruk laki gue.
Kalau orang lain bisa muntah, secara badan aku mendadak bengkak setelah melahirkan. Belum sempet diet, lagian dilarang sama Enno. Takut ASI mampet buat Kasyara atau takut mampet mainan baru dia. Sejak menyusui Enno selalu berperan aktif sebagai ayah ASI.
Bukan Enno yang gantiin aku nyusuin Kasyara tapi dia berperan aktif mendukung aku buat kasih yang terbaik buat baby. Dari memberi pijatan khusus untuk memperlancar ASI, pijatan khusus yang dipelajari Enno dari para ahli dan hanya dipratekkan padaku. Awas saja kalau berani praktek sama cewek lain, aku sunat jujun kagak nunggu bareng Kasyara nanti kalau udah gede.
Selain pijatan Enno juga menjaga pola makanku yang berantakan, tidak semua makan langsung masuk. Semua ada aturan, kebanyakan sich makan sayur-mayur, buah, susu, dan makanan bergizi lainnya. Pola tidur juga, kalau kebanyakan mak-mak muda bangun tengah malem buat menyusui baby sama ganti popok, aku cuma bangun kalau Kasyara haus, yang ganti popok dan sebagainya Enno.
Beruntungnya aku, sayang dia mulai cerewet. Ngga boleh ini, ngga boleh itu, capek!
Kemaren gara-gara nonton dvd bajakan XXX kiriman Luna via drive, aku kena setrap. Disuruh bakar sate ratusan tusuk buat acara aqiqah Kasyara. Lalu masak berpanci-panci gulai kambing. Huaaa...
Parahnya aku ngga boleh incip-incip. Padahal pengen, udah ngiler pula.
"Ya udah, mandi gih. Lalu ganti baju, jangan pakai daster kalau tamu nanti dateng!" kata Enno menjawab rajukanku.
Enno yang tadi sibuk bikin sambel buat sate beralih mengambil kipas sate di tanganku dan menggantikanku pekerjaanku bikin angus sate bukan masak sate.
"No..." kembali merajuk dengan wajah melas. "Mandi berdua yuk!"
"Ay, belum 40 hari. Ntar aku khilaf, Ayno punya adek sebelum waktunya." jawab Enno tapi wajahnya mupeng.
"Masih nifas kagak bakal kebobolan, ayuuuk..." ajakku sambil menarik tanganya.
Aji mumpung baby lagi dijagain Oma-nya, jadi main berdua dulu bolehlah.
"Nantangin, ya. Awas kalau lari duluan, Daddy ngga tanggung jawab lho, Mommy." goda Enno.
Aku cuma bisa senyum malu-malu ala anak Smp baru ngerasain enaknya pacaran. Tanpa peduli resiko apapun aku dan Enno langsung lari ke dalam kamar mandi. Saling menelanjangi satu sama lain tapi untuk keamanan aku ogah melepas pakaian dalamku, bahaya kalau sampai kebablasan.
Bukannya saling menyabuni Enno malah langsung menerjangku hingga tubuhku terdorong ke sudut kamar mandi. Lidahnya mulai menari-nari di antara lekuk leher dengan tangan terampil yang mempraktekkan gerakan pijat terlatih.
"No..." bibirku mulai mendesah.
"Sekalian dipijat ya, Ay." bisiknya dengan sedikit melumat daun telingaku.
Tak mau kalah terampil aku mulai menyerang bagian bawah miliknya. Kasian masih lama puasanya tapi udah makin gede aja.
"Kok tambah panjang?" tanyaku lemot sambil mengukur pertumbuhan jujun dengan jari. "Lo ngga minum obat kan?"
"Ngga, Ay." sangkalnya dengan seringai mesum. "Cuma pakai obat oles."
"Aneh-aneh, kalau terlalu panjang gimana?" balasku usil dan dengan sengaja menggigit kencang leher betonnya hingga mengginggalkan bekas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kanadia Chantiq
RomanceDitinggal pacar begitu saja lalu terjebak dengan browniess omesh akut Huaaa.... hidupku benar-benar tak karuaan dibuatnya!
