"Kenapa sich lo nekad terus minta gue nikah sama lo?"
Aku sudah tidak tahan dengan sikap Enno yang tidak hanya membuatku malu tapi juga pusing setengah mati karena terus saja mendesakku untuk menikah dengannya. Ok, usiaku sudah cukup matang untuk sebuah pernikahan tapi Enno ... bagiku dia masih terlalu ... dia belum siap untuk itu.
Jadi kupilih untuk bicara padanya begitu keluar dari kantor tempat aku bekerja.
"Gue cinta sama lo..." entah sudah berapa kali aku mendengar jawaban itu dan jujur aku tidak puas, "Gue ngga mau lo milih cowok lain sebagai suami lo."
"Memang kenapa?" aku berhenti sejenak untuk mengambil napas dan melihat bagaimana ekspresi wajah Enno, "Kalaupun ada cowok lain dan lebih baik dari lo kenapa? Kenapa gue harus lebih milih lo?"
Enno marah, ia mencengkram erat bahuku dengan kasar.
"Sekolah aja belum selesai lo nantangin gue buat nikah!"
"..."
"Mau lo kasih makan apa gue sama anak lo ntar!"
Anak?! Aduch kenapa aku membahas hal ini? Bayangin bikin anak sama Enno aja bikin aku merinding apalagi kalau beneran.
"Lo ngga usah khawatir," mataku mengerjap mendengar jawaban Enno, "Tahun ini gue dah selesai, gue pakai jalur ekselerasi jadi gue ngga perlu nunggu tahun depan buat lulus."
Pinter juga nich bocah!
"Bulan depan gue langsung kerja dikantor ayah."
"Lo kerja dikantor ayah lo?" aku memastikan jawaban yang aku dengar benar adanya.
"Iya," dengan nada tegas.
"Lo mestinya usaha sendiri bukan terus bergantung sama orang tua lo."
Enno meremas rambutnya karena frustasi, "Susah amat sich buat lo jawab iya, apa gue mesti buntingin lo dulu baru lo mau nikah sama gue?!"
Dengan sekali serangan aku berhasil menendang tulang kering Enno dan membuatnya meringis kesakitan.
"Lo pikir gue cewek apaan?!"
Dipikir aku ini siapa? Di mana harga diriku jika itu benar terjadi?
Aku sudah tidak bisa mentolerir semuanya, hingga aku memilih pergi meninggalkan Enno sendirian begitu mendapat taxi yang kebetulan lewat.
***
Ini sudah seminggu lamanya sejak pertengkaranku denga Enno dan aku masih menolak untuk bertemu dengannya. Aku benar-benar butuh berpikir jernih.
Sebenarnya yang salah itu aku atau dia?
Aku sudah menolak lamarannya tapi dia juga sudah membuktikan kalau dia bisa menyelesaikan sekolahnya dan mendapat pekerjaan jadi apa masalahnya sekarang?
Bang Maliq ?
Bang Maliq saja tidak peduli padaku jadi untuk apa aku peduli padanya, setelah Enno kumpret memperkenalkan diri sebagai tunanganku Bang Maliq seperti menjaga jarak. Kalau Bang Maliq benar-benar suka padaku harusnya dia memperjuangkan aku toh aku belum menikah dengan Enno.
Apa ini tentang hatiku?
"Kak."
"Kak Nadia!" Teriak Nando dari balik pintu.
"Apa?"
"Ada Kak Enno, Kak."
Bagaimana ini? apa aku harus menemuinya?
"Bilang sudah tidur."
Semoga saja dia percaya, amin!
Dosa ngga ya nyuruh anak kecil bohong?
Ah masa bodoh! Aku rasanya belum siap ketemu Enno. Apa aku merasa bersalah?
Tanpa fikir panjang aku langsung menenggelamkan diri dalam selimut tebal dan benar-benar mencoba tidur.
Aku harap dengan begini ngga jadi dosa.
Tak!
Pletak!
Apaan sich? Ganggu orang bokep ja!
Bokep maksudnya bobo cakep gitu hihihihihi ....
Btw balik lagi ke asal suara tadi, kira-kira apa ya?
Tak!
Lagi-lagi suara itu!
Kalau tidak salah suaranya dari jendela dech! Karena penasaran buru-buru aku mendekat dan memastikan apa yang terjadi.
Maling ya? Kok ngga profesional banget.
Bukan dech.
Kok kayak Enno ya?
Ngapain tuch bocah malem-malem ngelemparin jendela kamarku pakek kerikil, kalau marah pakek granat sekalian biar tok cer.
"NGAPAIN LO!" Teriak ku dengan kepala menunduk karena letak kamarku yang berada di lantai dua dan Enno yang ada di taman samping rumah terpaksa mendongak kan kepalanya.
Padahal aku sudah memasang wajah segarang mungkin tapi Enno hanya cengar-cengir saja, lupa aku kalau dia somplak. Diladenin salah, ngga diladenin ngangenin, capek dech!
Entah iseng atau tidak, kedua tangan Enno membentuk lambang hati seperti dalam adegan drama korea yang biasa mama tonton. Aku perhatikan Enno mulai mengeluarkan lembaran kertas besar bertuliskan 'SORRY' dengan wajah mengiba lalu membalik kertas itu hingga aku bisa melihat jelas kata 'I LOVE U' di sana.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Kanadia Chantiq
RomanceDitinggal pacar begitu saja lalu terjebak dengan browniess omesh akut Huaaa.... hidupku benar-benar tak karuaan dibuatnya!
