Sehun dengan wajah berpikir keras membaca buku-buku yang sedari tadi membuatnya mengkerutkan kening. Ia sedang berada di ruangan yang diharamkan untuk berbicara atau membuat keributan, yaitu lain tak lain perpustakaan kampus. Banyak siswa yang melakukan hal sama persis seperti dirinya. Duduk di kursi dengan meja yang saling berbagi dengan mahasiswa lain, memakain earphone, membawa buku tulis untuk mencatat dan membawa stabilo berwarna-warni.
Ia sudah membaca 50 halaman selama 1 jam dan sejujurnya ia masih bingung alias kurang faham dengan materi kali ini. Ia menutup mata, lalu mengusap wajahnya kasar. Buku tersebut Sehun tutup dan kepalanya langsung ia lempar ke meja.
Dengan posisi duduk anehnya itu, ia memandang sekeliling perpustakaan dengan kilas. Mata yang sebelumnya sayu, kini berubah melotot ketika melihat seseorang yang membuat jantungnya berdebar beberapa minggu ini sedang berjalan ke arah rak buku baris pertama. Lelaki bermarga Oh tersebut tersenyum kecil memandang tingkah laku tak berarti wanita bernama Bae Joohyun itu.
Jas hitam yang tampak anggun digunakan serta celana panjang melekat pada tubuh wanita tersebut. Wajahnya yang kaku serta bibirnya yang merah terlihat elok bagi siapa saja yang melihatnya. Profesor tersebut mengambil sebuah buku karangan terjemahan profesor ilmu hukum terkenal dan membacanya cepat.
Sehun kemudian berdiri dan melangkah menuju arah Joohyun. Dengan langkah pelan tetapi pasti, lelaki itu berjalan. Senyuman sumringah tak dapat dihindarkan dari rautnya. Ia kini sedikit menyandarkan tubuh jakungnya di rak sebrang, tepatnya Sehun ada di belakang profesor yang mengisi mata kuliah Hukum Hak Asasi Manusia tersebut.
Joohyun sudah selesai membaca dua halaman buku pertama yang ia ambil. Mengira buku itu bagus untuk bahan ajar serta pengetahuannya, Joohyun menaruhnya di tangan kiri. Ia sekarang menerawang seisi rak untuk mencari buku kembali. Fokus matanya terhenti ketika melihat buku yang rupanya 'salah taruh' di antara buku-buku tentang ilmu hukum.
1936
Yoon Dongju
Ia dengan berjinjit mengambil buku yang tempatnya paling atas. Dengan tertatih, tangan mungilnya berusaha meraih buku itu. Namun, hasilnya nihil. Tiba-tiba sebuah tangan dari belakang menggapai buku tersebut, lalu memberikannya pada Joohyun.
"Terima kasih." Ucapnya, tanpa sedikitpun menoleh melihat siapa yang telah membantunya. Pikirannya terlalu fokus untuk cepat-cepat membaca buku yang menarik perhatiannya itu. Dibukanya halaman pertama yang langsung menampilkan halaman serta huruf hangul yang dibaca mulai dari kanan ke kiri seperti huruf china jaman dahulu.
Menghitung Bintang-Bintang di Malam Hari
Membaca judul puisinya saja sudah memikat hati.
"Sampai di mana musim berlalu,
langit dipenuhi dengan musim gugur
Dalam ketenangan yang tidak terganggu ini
Aku hampir bisa menghitung bintang-bintang musim gugur ini,"
Suara itu langsung membuat bulu kuduk Joohyun merinding. Ia mendengar lantunan pelan dengan suara berat itu tepat di kupingnya. Deru nafas yang dirasakan di lehernya semakin menambah rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dengan sekejab ia memutar badannya ke belakang untuk melihat siapa yang membaca puisi bait pertama itu.
"Kau?" Mata Joohyun membulat melihat Sehun yang kemeja hitam serta celana jeans yang ternyata ada di belakangnya.
"Mengapa?"
"Sejak kapan kau disini?" Tanya wanita itu dengan suara pelan. Ia takut mengganggu orang lain di perpustakaan.
"Sejak Prof mengambil buku membosankan itu," ungkap si lawan bicara sambil melirik buku yang daritadi bertengger di tangan kiri Joohyun.
KAMU SEDANG MEMBACA
29+ | hunrene
FanfictionBae Joohyun adalah seorang profesor ilmu hukum di salah satu universitas negeri terbaik di Korea Selatan. Sifatnya yang tak peduli tetapi terkadang ceroboh, membuat salah satu mahasiswanya Oh Sehun menjadi tertarik. Namun, apakah kalian tau ungkapan...
