Lelaki itu masuk ke dalam sebuah kafe yang lumayan memiliki banyak pengunjung. Kafe itu bernuansa gelap dengan banyak bahan kayu yang menjadi interiornya. Ia melangkah dengan sepatu hitam khas converse ke arah meja etalase yang menampilkan banyak macam kue kering dan cake.
"Americano panas, 1." Ujarnya kepada si karyawan yang menggunakan celemek hitam dan topi hitam khas kafe biasanya.
"Baik, sajangnim." Jawab karyawan itu kepada lelaki yang sepertinya pemilik kafe tempat ia kerja didengar dari ucapan hormat kepada lelaki itu.
Dengan cekatan, si karyawan meraih teko kecil berisikan kopi panas yang sudah disaring ampasnya ke dalam gelas dari bahan kertas berwarna putih. Seketika uap-uap berkubaran yang menandakan panasnya minuman itu. Setelah menaruh kopi, ditutupnya gelas lalu diberikan kepada si pemuda.
"Terima kasih. Oh ya, tolong bilang manajer untuk menemui saya 15 menit lagi dengan rekap."
Pemuda tersebut berjalan ke arah pojok kafe, tempat biasanya ia berlabuh ketika berada disitu. Dikeluarkannya beberapa dokumen yang perlu ia hafal serta pelajari. Dokumen tersebut berupa kertas sampai setinggi jari kelingking orang dewasa. Ia mulai mengambil satu, dan dibacanya sesekali ia beri coretan pensil. Ia membaca diselingi meminum kopi.
"Sajangnim, ini untuk laporan bulan November. Ada beberapa banyak bahan yang sudah habis, saya tulis di buku persediaan barang." Rupanya sang manajer datang, sesuai permintaan pemilik kafe. Sang manajer berdiri di dekat meja sambil menunduk.
"Barang apa saja yang habis?" Tanya lelaki itu.
"Krim berat dan unsalted butter, bubuk cacao untuk garnish juga menipis."
"Baik, nanti saya beri jatah beli. Untuk macam kopi, apa masih banyak?"
"Kita masih ada 2 karung."
"Baik, silahkan kembali bekerja."
Lelaki itu lalu kembali berkutat dengan kertas-kertasnya. Ia kini sudah sampai di seprempat bagian, yang merupakan ujian percobaan. Ia perlahan membaca satu persatu soal dengan teliti, jangan sampai ada satupun yang terlewat maupun tak bisa ia jawab. Setidaknya ia harus bisa mengisi jawaban dengan benar dan mendapat nilai score minimal 85 agar ia lolos tahun ini.
Spidol hitam yang digunakannya sudah mencapai lembar ketiga, yang berarti soal sudah hampir semua kerjakan. Jongin melebarkan matanya kembali untuk menambah kefokusan.
Soal berjumlah 50 itu sudah ia kerjakan. Entah ada yang benar atau salah, tetapi feeling-nya kali ini mengatakan ia pasti sudah benar minimal 90%. Dilihatnya kunci jawaban dan dicobanya mencocokkan.
Soal pertama benar, soal kedua benar, soal ketiga.. salah. Oke, ia mencoba bepikir positif. Semuanya ia koreksi sampai tak terasa sudah di nomer 50. Ia membalik halaman-halaman tadi untuk menghitung jumlah salahnya ada berapa. Dan setelah dihitung, di dalam kotak nilai ia menulis.
84.
Wah. Satu poin lagi ia akan lolos. Lelaki itu berdecak dilanjutkan dengan membuang nafas berat. Ia langsung menyelonjorkan dirinya di atas meja dan menutup mata. Ia lelah.
Lima belas menit kemudian, suara bel khas pintu kafe yang dibuka terdengar. Reaksi pertama kali saat para karyawan mendengar bel tersebut yaitu melirik ke arah pintu. Namun, bukan hanya itu mereka sekarang membungkuk sama halnya tadi ketika si pemilik kafe datang.
"Nyonya Jung ingin memesan apa?" Tanya kasir yang tadi melayani Jongin sebelumnya.
"Tidak perlu, aku hanya sebentar. Mana Jongin?"
"Sajangnim ada disitu,"
Tanpa menjawab karyawannya, Soojung langsung berjalan kearah yang sudah ditunjukkan oleh kasir. Didapatinya lelaki itu tertidur dengan tumpukan buku serta kertas yang menjadi bantalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
29+ | hunrene
FanficBae Joohyun adalah seorang profesor ilmu hukum di salah satu universitas negeri terbaik di Korea Selatan. Sifatnya yang tak peduli tetapi terkadang ceroboh, membuat salah satu mahasiswanya Oh Sehun menjadi tertarik. Namun, apakah kalian tau ungkapan...
