2. Biru Pekat

2.5K 225 5
                                        

Suara dari burung gereja mulai terdengar pagi itu. Jam menunjukkan pukul 9 tepat. Waktu yang cocok sekali untuk sarapan. Sinar surya perlahan mulai memasuki celah gorden jendela, seolah-olah ingin membangunkan semua orang yang masih terlelap di pagi hari.

Misi matahari pagi itu rupanya berhasil. Wanita berkulit pucat itu mulai mengerjab-ngerjabkan kedua matanya.

Dilihatnya seluruh isi ruangan dan ia baru tersadar bahwa ruangan itu asing, tak dikenal. Jantungnya mulai bergemuruh, membayangkan hipotesis hal-hal aneh yang menghujam otaknya.

Hell no.

.

Flashback

Ia sudah menunggu bis kiranya 15 menit yang lalu. Namun, transportasi yang ia tunggu tersebut tak kunjung datang. Hari sudah mulai malam, udara dingin mulai menusuk kulitnya dengan sengaja. Sesekali ia meniup-niupkan udara dari mulut untuk membantu menambah kehangatan. Ia jadi menyesal mengapa tak pulang usai mengajar saja. Malah menggarap beberapa pekerjaan sampai malam begini.

"Halo, Profesor Bae. Tidak pulang?"

Sebuah suara yang ia kenali terdengar dari arah kirinya. Terlihat mobil mewah mengkilat milik pemilik suara itu, lengkap dengan pengemudinya yang membukakan kaca jendela.

"Ah, Profesor Kim. Saya sedang menunggu bis."

"Wah mengapa tidak ikut kami saja? Para dosen akan minum bersama hari ini karena ada pergantian rektor yang baru. Bukankah anda sudah diberitahu tadi?"

"Ah iya. Namun, saya tidak bisa minum."

"Ah tidak papa. Setidaknya beri rasa hormat kepada rektor yang baru. Anda juga baru 2 minggu kan bekerja? Anggap saja sebagai perayaan hari pertama bekerja."

"Ah, begitu ya? Baiklah. Saya akan menaiki bis ke restauran."

"Sudah masuk mobil saya saja. Toh kita juga sejalan, bukan begitu?"

"Ah, apa tidak merepotkan?"

Profesor Kim menggeleng kecil.
"Tidak. Tidak, sama sekali."

Joohyun membuka pintu lalu memasuki mobil mewah milik Profesor Kim. Ketika masuk kedalam mobil itu, Joohyun langsung disambut udara hangat dari heater mobil yang seketika menghangatkan tubuhnya. Diambilnya seat belt dan matanya langsung tertuju pada jalanan yang esnya menumpuk dimana-mana.

"Apa anda pernah ke acara makan malam karyawan sebelumnya?" Tanya lelaki yang memegang kendali setir tersebut, membuka pembicaraan.

"Pernah. Hanya sekali, karena saya bukan tipe orang yang mudah bersosialisasi." Jawab Joohyun pelan.

Junmyeon hanya mengangguk perlahan sebagai balasan.

.

Restauran yang dituju telah terlihat. Termasuk kategori ramai karena hampir semua dosen berada disana lengkap masih dengan pakaian kerja mereka. Beberapa sudah menegak minuman di gelas kecil yang berisi alkohol tersebut. Sorai tawa khas makan malam pekerja terdengar bahkan sampai parkiran mobil.

Junmyeon memimpin jalan menuju ke dalam restauran. Joohyun di belakangnya mengikuti sambil sesekali mengerjab. Jujur ini pertama kalinya datang ke restauran yang cukup berkelas seperti ini. Dulu saja ia hanya ditraktir di rumah makan kecil beralaskan lantai kayu. Namun, ini berbeda.

"Oh Profesor Kim, silahkan duduk." Ucap salah satu dosen berambut sebahu yang bibirnya berwarna merah menyala.

"Ah terima kasih Profesor Jung," Junmyeon mengangguk. Ia memberikan sinyal kepada Joohyun untuk berjalan bersamanya.

29+ | hunreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang