"Bagaimana? Bagaimana?"
Ucapan itu langsung terucap dari bibir Bae Joohyun ketika melihat Sehun keluar dari ruang uji tesisnya. Daun-daun gugur yang tertumpuk oleh ranting menemani langkah Sehun. Lelaki itu membawa sebuah kertas yang dijilid tebal yang sepertinya adalah tesis miliknya.
Wajah gugup serta was-was terlihat dari raut profesor muda tersebut. Walaupun bukan ia yang sedang masa depannya dipertaruhkan, karena mungkin harus mengulang tesis tahun depan, hatinya tak bisa tenang. Ia mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah lelaki yang menunduk itu.
"Mengapa hanya di-am saja?" Tanya Joohyun dengan sedikit sekat dalam kalimatnya. Wanita itu takut menyakiti perasaan Sehun yang mengalami hal buruk di musim gugur ini.
Ekspresi wajah Sehun datar dan ia hanya melihat ke tanah. Matanya tak berbentuk seperempat bulan seperti biasa, bibirnya seperti garis lurus yang mirip dengan penggaris.
Membaca manik wajah lelaki di depannya itu membuat Joohyun tersenyum ketir. Wanita itu berusaha menghibur lelakinya.
"Ah, bisa dicoba lagi tahun depan,"
Bukannya tenang dan mengganti raut, Sehun malah masih tak bergeming dengan wajah seperti itu. Namun, kini wajahnya terangkat dan melihat ke halaman disekitar mereka dengan tatapan nanar.
"Sepertinya tidak bisa."
Mata Joohyun membelalak seketika. Yang ada di otaknya sekarang adalah semoga bukan hal buruk yang terjadi. Terkaan-terkaan tidak baik kembali mulai menghujam pikirannya. Dengan tangan yang mulai berkeringat dingin ia perlahan kembali bertanya.
"Mengapa tidak bisa?"
Raut masam yang di tunjukkan Sehun perlahan menghilang, hal itu malah membuat Joohyun semakin bingung.
"Karena aku sudah mendapat gelar baru,"
Joohyun melipat bibir kesal. Ia berdecak sambil secara tidak sadar memukul punggung lelaki didepannya itu dengan keras.
"Ah! Apa-apaan. Dasar kenak-kanakan."
Tawa kini menghiasi wajah lelaki bermarga Oh tersebut. Ia lalu mengusap punggungnya yang sedikit sakit akibat pukulan brutal yang dilayangkan Joohyun.
"Memang aku masih anak kecil, umurku baru 8 tahun.." ujar Sehun lengkap dengan lidahnya yang ia julurkan.
Ah benar-benar tidak dewasa!
"Bicara apa kau," logat khas Daegu Joohyun mulai terdengar. Ia bahkan tidak pernah menggunakan aksen itu selama tinggal di Seoul. Kini ucapan itu malah ia lontarkan secara tidak sadar.
"Besok dan lusa kau tak ada kelas kan?" Tanya Sehun.
Wanita itu mengangguk.
"Hm. Mengapa?"
"Kutunggu di halte nanti sore jam 5, lengkap dengan beberapa pakaian ganti,"
"Heh?" Joohyun kebingungan. Matanya membelalak. Ia lalu bertanya. "Memangnya ada apa?"
Sehun tiba-tiba mengacak-acak rambut Joohyun. Rambut wanita itu yang dikuncit jadi berantakan sampai-sampai beberapa rambutnya keluar dari karet rambut. Lelaki itu tersenyum sambil berkata,
"Liburan."
.
Terdengar suara bel yang sangat keras khas halte pada umumnya yang menandakan bahwa bis sudah siap untuk ditumpangi. Lelaki itu membawa ransel miliknya dan Joohyun di kedua tangannya sambil mencari-cari bis mana yang akan membawa mereka. Joohyun tak pikir panjang mengekori Sehun tanpa mengerti tujuan mereka kemana. Lelaki itu kemudian masuk ke dalam bis besar berwarna biru muda.
Dilihatnya sudah banyak para penumpang yang duduk. Penghangat juga perlahan mulai terasa di kulit mereka. Sehun melihat letak tempat duduknya, yaitu di kursi tiga dari depan sesuai dengan yang tertera di tiket yang dua hari sebelumnya sudah ia beli secara online. Pria itu lalu menaruh ransel-ransel yang dibawanya di cabin atas.
KAMU SEDANG MEMBACA
29+ | hunrene
FanfictionBae Joohyun adalah seorang profesor ilmu hukum di salah satu universitas negeri terbaik di Korea Selatan. Sifatnya yang tak peduli tetapi terkadang ceroboh, membuat salah satu mahasiswanya Oh Sehun menjadi tertarik. Namun, apakah kalian tau ungkapan...
