Di tengah riuk pikuk kota Ulsan di malam hari, lampu jalan yang terang benderang berwarna kuning, menemani mereka berjalan mencari penginapan yang paling dekat dengan stasiun. Maklum, kereta yang akan meluncur besok berjadwal pagi buta. Setiap langkah mereka berjalan, sambil menengok kesana kemari mencari penginapan yang pas di kantong.
Tak luput mereka selalu melewati penginapan bertuliskan motel* yang pasti akan disalah artikan. Tiba di penghujung jalan, ada penginapan yang terlihat sangat sederhana. Semua bangunan tersebut berhiaskan interior kayu, yang menampilkan kesan vintage yang apik. Para pekerja penginapan menggunakan baju tradisional hanbok, dan tersenyum lebar menyambut tamu mereka.
"Selamat malam tuan, ada yang bisa saya bantu?"
Dengan santai sambil sesekali memandang lobby hotel, Sehun menjawab.
"Kami ingin memesan dua kamar."
"Baik, tetapi yang tersisa hanya dua kamar dengan pintu penghubung. Bagaimana?"
Melihat hari sudah semakin malam dan wajah lelah dari Joohyun, akhirnya Sehun memutuskan untuk memesannya saja.
"Ah, baik."
"Bisa saya lihat kartu identitasnya?" Lelaki itu tanpa pikir panjang, langsung mengeluarkan dompet dari sakunya. Ia kemudian mengambil kartu yang sudah dimilikinya itu dari 8 tahun yang lalu.
"Ini." Sehun memberikan kartu. Si petugas meraih benda tersebut kemudian berutak-atik dengan komputer di hadapannya. Selesainya, terlihat sebuah kertas yang keluar dari printer yang merupakan bukti check in Oh Sehun.
"Silahkan. Biar, bapak ini yang mengantar ya." Petugas itu berucap sambil memberikan dua kunci yang masih berbentuk lawas, bukan kartu yang umumnya digunakan hotel jaman sekarang. Sang bapak yang tadi ditunjuk oleh petugas resepsionis tersenyum kearah Sehun, dan berjalan menuju tempat dimana pelanggannya akan beristirahat.
.
Sama seperti lobby tadi, kini ruangan yang akan mereka singgahi bernuansa sama. Lebih tepatnya, mirip dengan rumah adat yang masih menggunakan futon dengan pintu geser sama persis dengan rumah milik Oh Sehun.
Mereka berdua berada di lorong kamar. Bapak tadi yang mengantarkan sudah berbalik, menuruni tangga. Sehun kemudian memberikan salah satu kunci untuk Joohyun.
"Bersebelahan?"
"Iya. Sisa ini saja. Kita tak mau menginap di motel kan?Kamar penginapan kita ini hanya memiliki ruangan yang ada connecting door-nya. Profesor bisa menguncinya."
"Oh."
Joohyun langsung masuk tanpa disuruh ke dalam kamar miliknya, begitu juga si adam yang selisih sepersekian detik masuk. Sehun langsung meletakkan tas ranselnya di dekat laci. Ia berbaring sebentar di futon sebelum bersih diri. Namun, sekejab terdengar suara kunci yang dicklek tanda si pemilik kamar sebelah menguncinya. Sehun lagi-lagi tersenyum remeh melihat tingkah wanita itu.
Lelaki tersebut kemudian melepas atasannya, dan segera masuk ke dalam toilet untuk mandi. Walaupun hari itu lumayan dingin, lengket dari keringat membuat dirinya tak nyaman. Apalagi memakai baju yang sama dari tadi pagi. Beruntung ia temukan ada sepasang pakaian piyama yang menggantung di lemari.
Seusai mandi, heater ruangan ia naikkan agar malam ini ia tak perlu menggigil. Sehun langsung merebah di futon untuk merilekskan tubuhnya yang tidak beristirahat sepanjang hari. Ia tanpa ada alasan yang jelas, alias iseng, mengetuk-ketuk pintu yang membatasinya dengan Joohyun.
"Ada apa?"
Sehun sama sekali tak berharap adanya jawaban. Namun, si profesornya ini dengan suara parau bertanya. Didengar dari suara itu, pasti si empu mengantuk berat.
KAMU SEDANG MEMBACA
29+ | hunrene
FanfictionBae Joohyun adalah seorang profesor ilmu hukum di salah satu universitas negeri terbaik di Korea Selatan. Sifatnya yang tak peduli tetapi terkadang ceroboh, membuat salah satu mahasiswanya Oh Sehun menjadi tertarik. Namun, apakah kalian tau ungkapan...
