9. Jadi, Bagaimana Rasanya?

1.7K 127 7
                                        

Bunga yang mayoritas berwarna merah muda beberapa minggu lalu kini sudah banyak yang berwarna merah, putih, kuning dan warna lainnya. Pertanda musim panas sudah datang. Para mahasiswa diliburkan untuk waktu yang cukup lama, yakni tiga bulan. Sementara mahasiswa lain mulai bermain ria, hal ini tak berlaku untuk mahasiwa tingkat akhir. Mereka sudah harus bisa memikirkan projek skripsi atau tesis yang akan diujikan untuk kelulusan.

Termasuk Oh Sehun. Ia sudah tiga hari menginap di ruang belajar yang kebanyakan ia habiskan untuk tidur. Sebenarnya Sehun itu sudah menjalani Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) bahkan sudah melaksakan Ujian Profesi Advokat (UPA). Magang di kantor pengacara selama dua tahun berturut-turut juga ia sudah lakukan, sumpah advokat yang merupakan bagian terpenting juga sudah. Ia sendiri juga bingung mengapa ia mengambil sekolah magister.

Beasiswa.

Ia jadi ingat ketika menemani Jongin yang ingin sekolah lagi saat itu. Di minggu pagi yang seharusnya dihabiskan bersantai, malah menemani sahabatnya itu untuk mendaftar. Ia melihat kolom beasiswa yang membuatnya tertarik. Jadilah begini, ia harus meratapi buku-buku tebal ilmu hukum berbahasa Inggris yang memusingkan.

Buku bertebal sekitar 450 halaman ia buka. Lain dengan buku-buku lainnya yang tentang pasal pidana tentang kejahatan genosida atau kemanusiaan, kali ini malah bertema hukum kedokteran.

Matanya membulat ketika membaca paragraf pada halaman pertama. Materi kali ini membuatnya sedikit mendapat pencerahan untuk tesisnya. Dibacanya halaman per halaman dan tak terasa ia sudah berada di akhir bab. Kacamata yang menggantung di hidungnya ia lepas. Ia kemudian mengambil ponsel di saku.

Mata Apel

Profesor Bae.

Tak sampai 2 menit, terdengar suara pesan masuk dari ponsel milik Oh Sehun.

Mengapa?

Hari ini apa bisa mengembalikan jaketku?

Sibuk.

Dan menemani ke toko buku?

Toko buku?

Ya.

Oke. Kutunggu di kafe kapan hari.

.

Toko buku itu layaknya toko buku kebanyakan. Di depannya ada pegawai yang siap menyambut para calon pembeli adapun yang mengambil bagian menyebarkan brosur tentang diskon. Sehun kini mulai masuk ke dalam. Ia disambut udara yang dingin dari AC, keringatnya yang sedikit menetes serta suhu tubuhnya yang tinggi perlahan mulai menghilang.

Lelaki itu menerawang seisi toko. Ia berniat mencari kata kunci tentang buku yang ia akan cari. Pandangannya berhenti pada tulisan "Hukum" di pojok timur laut toko. Ia berjalan dengan wanita itu mengekor di belakang.

Sesampainya di lorong rak buku, Sehun melihat satu persatu, membaca sinopsis tiap buku. Barangkali ada yang bisa ia buat sebagai bahan pendukung materi tesisnya.

"Kau mencari buku untuk apa?" Tanya Joohyun.

"Tesis."

"Ohh."

Sehun kembali lanjut membaca sinopsis salah satu buku ber-cover biru muda. Joohyun di lain pihak, juga mengambil buku bertema hukum, tetapi tentang profil hakim jaman Goryeo.

Mereka sama-sama larut dalam bacaan. Kaki Sehun tak terasa pegal membaca buku sambil berdiri. Namun, sesekali Joohyun memijat lehernya yang mulai lelah membungkuk terus. Kepala wanita itu akhirnya mengadah untuk melihat kegiatan muridnya.

29+ | hunreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang