Tetes demi tetes air turun ke lantai. Rambut basahnya ia uraikan ke belakang, karena menghalangi pandangan. Hujan yang lebat ia lawan saat telah tiba di pemberhentian itu. Sekarang, Sehun menekan pin password unit. Setelah terdengar bunyi khas pintu yang telah terbuka, Sehun masuk memimpin jalan.
"Sehun, kau memutuskan untuk pulang lebih cep—at?" Ucapan wanita paruh baya itu terbata karena melihat sosok mungil di belakang putranya.
Joohyun tersenyum memperlihatkan sedikit gigi ratanya ketika ditatap oleh ibu Sehun yang kaget.
"Hm- ini profesor di kampusku. Ia basah kuyup dan tidak bisa pulang ke rumah jadi, sepertinya ia akan menginap semalam disini." Jelas Sehun menjawab ekspresi ibunya yang kebingungan.
Ibunya itu mengedipkan mata. Ia lalu mempersilahkan Joohyun dengan tangannya.
"Ah. Silahkan masuk Profesor?"
"Panggil saja Bae Joohyun, Nyonya." Jawab Joohyun dengan sopan.
"Euh- Profesor Bae, ayo masuk. Nanti bibi ambilkan handuk dan baju ganti." Masih sedikit terkejut, beliau kembali mempersilahkan Joohyun.
Joohyun langsung membungkuk.
"Terima kasih. Kalau begitu, saya permisi."
Sehun yang sama basahnya, kini menunjukkan arah kamar mandi di kamar milik kakaknya kepada Joohyun. Kamar itu terletak di kanan meja makan dekat dapur. Rumah sederhana itu berdesain rumah lawas dengan beberapa perabotan dan alat rumah tangga modern. Joohyun masuk ke dalam kamar dengan wajah kikuk.
"Aku tak membuat ibumu marah kan?"
Sehun menggeleng dengan cepat.
"Tidak. Ia hanya terkejut."
Wanita itu meletakkan tangannya di dada. Ia merasa lega.
"Syukurlah."
"Kalau sudah selesai, nanti keluarlah ke ruang makan." Ujar Sehun.
"Baik."
.
Lelaki itu telah selesai bersih diri. Ia dengan kaus lengan pendek berwaran merah dipadukan dengan celana berwarna biru dongker. Rambutnya turun ke bawah karena masih basah. Ia duduk di meja makan untuk mengambil air putih.
"Kekasihmu ya?" Goda Nyonya Oh dengan senyuman yang berbunga. Beliau ternyata berada di dapur untuk memanaskan bubur kerang untuk anaknya dan profesor muda itu.
"Bukan," jawab Sehun dengan singkat. Ia terlalu malu untuk berkata jujur. Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Hafal dengan tingkah Sehun ketika berbohong, ibunya hanya tersenyum kecut.
"Kau tak pernah membawa wanita sebelumnya. Yang ini pasti berbeda bukan?"
"Ibu, sudah hentikan," cela Sehun, tak ingin melanjutkan pembicaraan. Menurutnya, ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita.
"Baik, baik. Biarkan nanti dia tidur di kamar kakakmu."
"Hm." Gumam Sehun sambil meminum segelas air.
Yang dari tadi di bicarakan ibu dan anak itu, akhirnya keluar. Rambutnya juga masih basah sama seperti Sehun. Joohyun melipat bibir, sambil mengambil duduk dengan canggung di sebelah lelaki itu.
Begitu duduk, mangkuk berisi bubur itu sudah mendarat dengan sempurna di meja makan.
"Tidak perlu repot-repot," ujar Joohyun dengan pelan, takut menyakiti hati wanita paruh baya tersebut. Menginap disini saja sudah merasa merepotkan, malah ia kini dihidangkan makanan.
"Sudah dimakan saja," ujar Ibu Sehun dengan ramah menjawab Joohyun yang merasa tidak enak. Nyonya Oh yang memakai baju bunga-bunga itu tak henti-hentinya menunjukkan kebahagiaan ketika melihat Joohyun.
KAMU SEDANG MEMBACA
29+ | hunrene
FanfictionBae Joohyun adalah seorang profesor ilmu hukum di salah satu universitas negeri terbaik di Korea Selatan. Sifatnya yang tak peduli tetapi terkadang ceroboh, membuat salah satu mahasiswanya Oh Sehun menjadi tertarik. Namun, apakah kalian tau ungkapan...
