8 | 'Lurus'

1.2K 156 43
                                    

Pukul 11.00 WIB sudah bisa dikatakan  tengah malam. Di mobil yang sempit itu, oksigen seolah lenyap begitu saja walaupun AC mobil sudah dinyalakan begitu kencangnya, membuat keringat di dahi wanita itu terus keluar dari pori-porinya. Tidak hanya dibagian itu, ketiaknya juga terasa lembap. Ia menjadi semakin ketakutan. Takut jika itu menimbulkan bau badan yang bisa saja sampai tercium oleh pria disampingnya. Halinka semakin gelisah ditempat duduknya.

"Kenapa? Gerah ya? Ini AC-nya udah aku kencengin."

"Eh, enggak kok." Halinka langsung menjawab dengan gelagapan, "aku emang biasa kaya gini."

"Apanya yang biasa?"

"Keringetan," cicit Halinka. Ia memang biasa seperti ini jika dilanda gugup atau hal lain yang membuatnya tidak nyaman.

"Maaf kalau sikapku buat kamu nggak nyaman," lanjutnya dengan wajah menunduk.

"Enggak kok. Aku nggak masalah kalau kamu punya kebiasaan seperti itu. Aku malah takut kalau kamu nggak nyamannya sama aku. Soalnya tadi aku kayaknya terlalu maksa kamu buat ikut pulang sama aku."

Halinka tersenyum canggung, "Kalau nggak ada kamu, mungkin aku harus nunggu ojek online yang lain. Ya kali kalau abangnya cepat datang, kalau cancel lagi kaya tadi gimana."

Arzito tak menjawab, melainkan sekarang ia tersenyum begitu manisnya sambil menatap jalanan didepannya. Halinka tak menyadari hal itu. Karena dia juga menatap ke arah yang sama dengan Arzito. Ketika berbicara tadi, ia hanya sesekali mencuri pandang ke arah Arzito.

"Emm, tapi kamu lucu juga kalau keringatan kaya gitu."

Halinka mengernyitkan dahinya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Bohong," ucap Halinka tanpa suara.

"Aku nggak bohong kok suer."

Sontak saja Halinka menatap Arzito. Kenapa Arzito mendengar ucapan tanpa suaranya tadi?

"Aku lihat bibir kamu pas ngomong tadi."

"Ya udah, emang gitu kenyataannya. Kamu emang bohong. Ya kali orang keringetan dibilang lucu. Kecuali kalau itu mengarah ke konotasi lain yang di sebut jelek. Baru aku percaya."

Arzito malah tertawa. Sangat keras. Bahkan ia sampai memukul-mukul setir mobil. Sedangkan Halinka masih terdiam ditempatnya. Hingga akhirnya,

"Nggak lucu!"

Ucapan dingin Halinka langsung menghentikan tawa Arzito. Walaupun ia masih harus berusaha mengontrol ekspresinya karena perutnya yang kesakitan akibat terlalu banyak tertawa. Ia tidak sadar kalau orang disampingnya semakin tidak nyaman dengan perilakunya. Yang ia tahu, tadi ia hanya reflek tertawa karena mendengar jawaban Halinka yang terdengar lucu di telinganya, apalagi dengan nada suara yang kesal seperti itu. Bibir mungilnya yang mengerucut setelahnya. Itu sungguh menggemaskan. 

"Eh, maaf-maaf. Kelepasan." Pipi Arzito menggembung. Nafasnya pun ia tahan-tahan karena takut tawanya akan meledak kembali.

"Tapi beneran lucu kok," cicitnya.

Halinka tak menjawab.

"Ngambek?"

"Enggak."

"Iya, itu ngambek!"

"Nggak."

"Jujur aja nggak apa-apa. "

"Kalau aku sedikit kesal emang kenapa?"

"Ya aku minta maaf kalau gitu. Tapi pernyataanku tadi emang nggak ada bohongnya."

"Kalau kamu ngomong gitu di depan Park Boyoung aku sih percaya aja. Tapi ini didepan orang sepertiku yang-"

"Yang apa? Emang ada masalah sama kamu? Emang aku nggak punya hak untuk mengeluarkan pendapatku tentang orang seperti kamu? Dan, 'orang seperti kamu' yang kamu maksud tuh seperti apa?"

Halinka meneguk ludahnya sendiri.

"Udah ah. Nggak penting."

"Tapi aku  ingin mendengar jawaban kamu soal itu."

"Nggak ada yang perlu di jawab. Orang seperti kamu nggak akan pernah tahu."

"Sepertinya aku mulai tahu apa yang ada dipikiran kamu dengan cara kamu membedakan 'orang seperti kamu' dan 'orang sepertiku'."

Halinka mulai gelagapan sendiri. Bingung mau menjawab apa.

"Kalau itu emang kenyataannya gimana?"

"Kamu yakin kalau kenyataannya emang begitu?"

Wajah Halinka memerah, ia tampak kesal. Berdebat dengan Arzito sepertinya tak akan ada habisnya.

"Kita masih baru bertemu beberapa kali, jadi ya wajar kalau penilaianku tentang kamu hanya sebatas itu," ucap Halinka.

"Ya udah. Berarti kita harus bertemu beberapa kali lagi buat membuktikan apa yang dipikiran kamu tentangku itu benar apa salah."

"Ngapain?"

"Kan udah dibilang buat membuktikan pemikiran kamu."

"Bukan gitu. Gini loh, Ar. Kamu tuh cuma tetangga baruku."

"Ya terus kenapa?"

Halinka menarik nafasnya,  inilah hal yang ingin ia ucapkan kepada Arzito sejak restoran, atau bisa saja itu sejak Arzito ke rumahnya waktu mengembalikan anting.

"Aku nggak mau kita dekat."

"Emang kenapa?"

"Aku bingung mau jelasinnya kayak gimana. Yang jelas, tadi aja ketika ada banyak orang, atau berdua pulang sama kamu kayak gini aja aku udah ketar-ketir. Bukannya apa-apa, kalau kamu orang biasa kayak aku ya nggak ada masalah. Tapi aku khawatir dengan ya kamu tahu sendiri lah, kamu pasti sangat tidak asing dengan ini, kamu pasti sering juga ngalamin," Halinka menarik nafas sebelum melanjutkan bicara.

"Aku takut dengan omongan orang. Dan kamu memiliki kemungkinan sangat besar untuk diikuti oleh paparazi atau apalah itu. Ya mungkin kita emang baru aja kenal, atau mungkin aja kamu menganggap aku sebagai teman dan aku pun juga begitu. Tapi kita kan nggak pernah tahu pikiran orang seperti apa. Apalagi sejak ada teori 'Netizen Maha Benar' akhir-akhir ini. "

"Kan bagus di kamu kalau kayak gitu. Banyak orang yang mau diposisi yang kamu sebutkan tadi." Arzito tersenyum dengan mengangkat sebelah alisnya. Entah apa yang ada dipikirannya.

"Bagus dari mananya, Bapak? Saya nggak mau hidup saya yang tenang ini jadi berubah gara-gara di gosipin sama Bapak. Wahai Arzito Dewangga pria idaman wanita negeri ini."

Arzito tertawa terbahak-bahak.

"Eh, tapi siapa saya? Kenapa saya yang cuma permen karet yang kalau manisnya udah hilang bakal di lepeh ini berpikir akan di gosipkan memiliki hubungan khusus dengan Bapak?"

"Kamu perempuan dan aku laki-laki. Wajar kalau ada yang gosipin dalam artian yang kamu maksud tadi."

"Itu tahu."

"Tapi satu hal yang aku tidak suka. Caramu berbicara tadi seperti merendahkan dirimu sendiri, seolah kamu tak pantas bersanding denganku yang tak sehebat yang kamu pikir."

"Ya kenyataannya emang gitu."

"Kamu tuh ngeyelin 'kenyataan' terus dari tadi."

Halinka meringis.

Tiba-tiba Arzito menyerahkan ponselnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih memegang kemudi, "Pokoknya nggak mau tahu aku minta nomor kamu sekarang. Jangan tanya kenapa, jawabannya cuma satu, aku cuma mau meluruskan pikiran kamu."

"Ribet ah. Cukup doain aja semoga aku tetap dijalan yang lurus. Toh, sama-sama 'lurus' nya juga kan?"

[].

25/02/2019

Komen dong wkwk

ONLY HUMANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang